8.177 Mahasiswa UGM Mengabdi di 32 Provinsi, Tim KKN Siap Menjangkau Pulau Terluar Papua
Marknews.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengirim ribuan mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) periode II tahun 2026. Sebanyak 8.177 mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah di 32 provinsi dengan fokus program yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, hingga pengembangan potensi lokal.
Dari ratusan lokasi pengabdian yang tersebar di Indonesia, salah satu penugasan yang paling menantang berada di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik KKN terjauh yang dijangkau mahasiswa UGM tahun ini.
Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Rustamaji, menjelaskan bahwa Papua tetap menjadi salah satu wilayah prioritas dalam pelaksanaan KKN tahun ini. Sebanyak tujuh tim diterjunkan ke berbagai lokasi di Papua, termasuk kawasan kepulauan yang membutuhkan perjalanan lanjutan menggunakan kapal.
“Di Papua ada tujuh tim. Yang paling jauh memang ke Biak karena masih harus menyeberang lagi menggunakan kapal,” kata Rustamaji seusai acara penerjunan KKN-PPM UGM di Yogyakarta, Jumat (19/6/2026).
Setiap tim yang bertugas di Papua beranggotakan sekitar 25 mahasiswa. Karena faktor transportasi yang terbatas, sebagian peserta bahkan diberangkatkan lebih awal untuk menyesuaikan jadwal kapal menuju lokasi penugasan.
Ketahanan Pangan Jadi Fokus Utama
Pada pelaksanaan KKN tahun ini, UGM mengusung tema besar ketahanan pangan yang diterjemahkan ke dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat. Selain mendukung sektor pangan, mahasiswa juga akan melakukan pendampingan UMKM, meningkatkan literasi digital masyarakat, serta menggali potensi wisata yang dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi daerah.
Menurut Rustamaji, sejumlah wilayah di Papua masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sehingga diperlukan upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat setempat.
“Kondisi ketahanan pangan di beberapa wilayah Papua masih masuk kategori merah. Karena itu kami ingin mendorong kemandirian masyarakat dan memperkuat rantai pasok di daerah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan kegiatan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Persiapan Berbulan-bulan untuk Menjangkau Saribra
Salah satu tim yang akan bertugas di Kampung Saribra dipimpin oleh Saraswati Baktiantoro, mahasiswa Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2023. Bersama 29 mahasiswa lainnya, ia akan menjalankan berbagai program pemberdayaan di wilayah kepulauan tersebut.
Menurut Saraswati, akses menuju lokasi tidak mudah karena masih membutuhkan perjalanan laut selama beberapa jam setelah tiba di Pulau Biak.
“Lokasi ini benar-benar baru. Dari mainland Biak masih harus menempuh perjalanan kapal sekitar tiga sampai empat jam lagi,” kata Saraswati.
Ia mengungkapkan bahwa tim telah melakukan persiapan sejak September tahun lalu. Kebutuhan pendanaan diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari swadaya mahasiswa, dukungan UGM, hingga bantuan mitra. Salah satu kontribusi terbesar datang dari Paragon Corp yang mendukung sekitar seperempat kebutuhan dana program.
Di Kampung Saribra, mahasiswa akan menjalankan program yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, pembangunan infrastruktur hijau, penguatan UMKM, serta pengembangan pariwisata berbasis partisipasi warga.
Karena mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan, program ketahanan pangan akan diarahkan pada peningkatan nilai tambah hasil perikanan dan penguatan pengelolaannya agar dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi warga.
“Kami ingin berbagi ilmu yang sudah kami dapat selama kuliah dan memberdayakan masyarakat setempat,” ujar Saraswati.
UGM Perkuat Aspek Keselamatan Mahasiswa
Selain memperluas jangkauan pengabdian, UGM juga memperkuat aspek keselamatan selama pelaksanaan KKN. Setiap tim kini dilengkapi petugas yang bertanggung jawab terhadap penerapan prinsip Safety, Health, and Environment (SHE).
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai potensi risiko di lapangan dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak awal, terutama bagi mahasiswa yang bertugas di wilayah terpencil dan memiliki tantangan geografis cukup tinggi.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, mekanisme pemantauan kegiatan juga mengalami penyesuaian. UGM mengurangi perjalanan monitoring oleh pimpinan kampus dan memperkuat kolaborasi dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) serta pemerintah daerah dalam melakukan pendampingan di lapangan.
Mahasiswa Didorong Dukung Industrialisasi Desa
Dalam acara penerjunan KKN-PPM, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza mengajak mahasiswa untuk ikut mengambil peran dalam mempercepat industrialisasi desa melalui program-program pemberdayaan yang dijalankan selama masa pengabdian.
Menurut Faisol, Indonesia memiliki lebih dari 14 ribu sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah apabila mendapatkan pendampingan dan inovasi yang tepat.
“Kami berharap mahasiswa KKN menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat serta menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan desa,” kata Faisol.
Melalui program KKN yang menjangkau wilayah perkotaan hingga daerah terluar seperti Pulau Bromsi, UGM berharap kehadiran mahasiswa dapat memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendorong lahirnya berbagai inisiatif pembangunan yang berkelanjutan di tingkat lokal.









