Kisah Mahmudah dan Rikah, Saudari Kembar dari Dukuh Klitik yang Tembus UGM Lewat Jalur Prestasi
Marknews.id – Di tengah hamparan persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, lahir sebuah kisah yang mematahkan anggapan bahwa keterbatasan ekonomi menjadi penghalang meraih pendidikan tinggi. Dua saudari kembar, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif atau yang akrab disapa Rikah, berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) dengan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen.
Keberhasilan keduanya menjadi cerita inspiratif dari sebuah desa yang selama bertahun-tahun dikenal karena berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Di wilayah yang sebagian besar generasi mudanya memilih langsung bekerja setelah lulus sekolah atau merantau menjadi buruh migran, Mahmudah dan Rikah memilih jalur berbeda: melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Keduanya merupakan putri pasangan Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), warga Dukuh Klitik yang sehari-hari hidup dari pekerjaan serabutan. Meseri bekerja sebagai buruh pertanian sekaligus buruh bangunan ketika ada proyek di luar desa, sementara Siti sesekali membantu suami di sawah untuk menambah penghasilan keluarga.
“Yang penting ada pemasukan,” kata Meseri.
Dengan pendapatan yang tidak menentu, pasangan tersebut menyadari pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan anak-anak mereka. Sejak Mahmudah dan Rikah masih kecil, keduanya sudah dikenalkan dengan buku serta latihan menulis.
“Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga,” ujar Siti.
Satu Sekolah, Satu Tujuan
Sejak pendidikan dasar hingga menengah atas, Mahmudah dan Rikah selalu menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Mereka mengawali pendidikan di SDN 3 Krebet, melanjutkan ke MTsN 5 Ponorogo, dan kemudian lulus dari SMAN 1 Badegan.
Keputusan bersekolah bersama bukan tanpa alasan. Selain memudahkan kebutuhan pendidikan, strategi tersebut juga membantu keluarga menghemat biaya.
“Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain,” kata Rikah.
Selama bersekolah, keduanya dikenal sebagai siswa berprestasi. Mereka kerap bersaing sehat dalam akademik dan berbagai kompetisi. Posisi tiga besar kelas menjadi langganan mereka sejak sekolah dasar, bahkan tidak jarang saling berebut peringkat pertama.
Prestasi yang berhasil diraih pun tidak sedikit. Mahmudah mengoleksi 18 penghargaan, sementara Rikah meraih 14 prestasi dari berbagai ajang, mulai tingkat karesidenan hingga kompetisi nasional.
“Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan,” kata Mahmudah.
Mimpi yang Tumbuh dari Desa
Meski berasal dari keluarga sederhana, keduanya memiliki impian besar untuk melanjutkan pendidikan ke UGM. Menariknya, keinginan tersebut tumbuh secara terpisah tanpa saling diketahui.
Bagi Rikah, cita-cita kuliah di UGM berawal dari cerita seorang guru saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
“Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah,” kenangnya.
Sementara itu, Mahmudah mulai tertarik pada UGM setelah sering mendengar nama kampus tersebut disebut sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Setiap kali ditanya mengenai rencana kuliah, ia selalu menyebut UGM meski saat itu lebih sering dianggap sebagai candaan.
“Itu saya menjawabnya sambil bercanda, tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan,” kenangnya.
Seiring waktu, keduanya baru menyadari bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
Berkali-kali Gagal, Tetap Bangkit
Perjalanan menuju kampus impian tidak berjalan mulus. Mahmudah dan Rikah harus menghadapi sejumlah kegagalan dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Rikah bahkan mencatat dirinya mengalami kegagalan hingga tujuh kali dalam berbagai jalur seleksi.
“Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka,” ungkapnya.
Keduanya sempat gagal melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Mereka juga sempat diterima di sebuah perguruan tinggi di Malang. Namun, keduanya merasa tujuan yang sebenarnya belum tercapai.
Harapan terakhir kemudian datang melalui jalur PBUTM UGM.
“Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap,” kenang Rikah.
Lolos Bersama ke UGM
Penantian panjang tersebut akhirnya berbuah manis. Mahmudah dan Rikah dinyatakan lolos bersama melalui jalur PBUTM dengan subsidi UKT penuh.
“Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil”, kata Mahmudah bersyukur.
Mahmudah diterima di Program Studi D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM. Sementara Rikah diterima di Program Studi D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi UGM.
Bagi keluarga mereka, kabar tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan. Meski sempat khawatir karena kedua anaknya harus merantau ke Yogyakarta, rasa bangga lebih besar dirasakan Meseri.
“Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM,” katanya.
Ingin Kembali Membangun Desa
Bagi Rikah, pendidikan bukan sekadar jalan untuk mengubah nasib pribadi. Ia sudah mulai membayangkan bagaimana ilmu yang diperolehnya nanti dapat memberi manfaat bagi masyarakat di kampung halaman.
Mahasiswi Teknologi Veteriner itu bercita-cita membentuk komunitas penyuluhan peternakan bagi warga desanya setelah lulus nanti. Meski konsepnya masih sederhana, ia ingin ilmunya dapat kembali ke masyarakat yang membesarkannya.
Keberhasilan Mahmudah dan Rikah menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi keluarga maupun lokasi tempat tinggal bukanlah penentu masa depan seseorang. Dari sebuah rumah sederhana di ujung persawahan Dukuh Klitik, keduanya membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh dan diwujudkan melalui kerja keras, ketekunan, serta dukungan keluarga.
“Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” ucap Rikah kepada kedua orang tuanya.
Kisah dua saudari kembar ini sekaligus menghadirkan harapan baru bagi generasi muda di desanya. Bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk membuka peluang yang lebih luas, sekaligus membawa perubahan bagi lingkungan tempat mereka berasal.









