Loper
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – SALAH satu pekerja pada industri penerbitan pers sebelum era 1990an adalah loper. Kelompok pekerja yang disebut loper ini, boleh dikatakan sebagai pekerja yang bekerja pertama kali setelah koran atau terbitan pers tersebut keluar dari percetakan dan diantar ke pelanggan atau pembaca.
Kata loper sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Belanda looper yang artinya pelari atau orang yang berjalan berkeliling dan secara khusus biasanya disebut sebagai krantenloper yang artinya tukang koran berkeliling.
Untuk kebanyakan koran yang terbit pagi, para loper ini mulai bekerja pada pukul 03.00 WIB. Koran yang masih hangat keluar dari mesin cetak, mereka menghitung berapa yang harus diambil sesuai dengan yang sudah diajukan sebelumnya. Sedangkan yang jauh dari percetakan, para loper ini akan mengambil jatah koran di agen tempat mereka bernaung.
Biasanya di percetakan, selain mendistribusikan koran untuk pelanggan juga koran yang akan dijual di warung-warung penjualan koran dan majalah yang dahulu kebanyakan menggunakan nama agency, serta yang akan dijual oleh para pengasong.
Para loper yang melayani pelanggan, biasanya mereka akan mengantar sesegera mungkin, rata-rata — untuk koran lokal — koran akan sampai di rumah pelanggan sebelum jam 06.00 WIB. Harapannya sebelum pelanggan berangkat kerja, sudah mendapat asupan berita terlebih dahulu.
Namun seiring dengan perkembangan zaman. Berita apa pun bisa diperoleh di sebuah benda kecil yang disebut gawai atau gadget atau melalui internet, perlahan-lahan jumlah pelanggan koran semakin merosot dan keberadaan loper makin berkurang.
Memang masih ada yang disebut dengan loper, namun jumlahnya tidak lagi seperti era kejayaan koran, di tahun 1990an atau sebelummya. (**)









