Beranda Jogja Tempo Doeloe Potlot Mangsi hingga Tulisan Ceker Pitik
Jogja Tempo Doeloe

Potlot Mangsi hingga Tulisan Ceker Pitik

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Betul, potlot mangsi yang arti harfiahnya adalah pensil tinta. Berbeda dengan pensil biasa, baik seri H, HB, dan sebagainya, pensil yang satu ini menggoreskan warna biru-ungu dan tidak terlalu jelas.

Pensil ini pun tidak digunakan oleh kalangan pelajar, tetapi banyak digunakan di kantor-kantor, terutama untuk menuliskan sesuatu yang disertai lembar untuk orang lain, misalnya mengisi lembar terima penyerahan berkas atau tabungan pos dan sebagainya.

Meski berstatus sebagai pensil, hasil goresannya tidak bisa dengan mudah dihapus dengan karet penghapus atau yang disebut setip. Karenanya, menuliskan sesuatu dengan pensil ini tetap harus hati-hati, tidak boleh salah. Kalau salah? Para pendahulu tidak kemudian merobek atau meremas kertas yang salah tulis, namun yang salah itu akan dicoret, diberi koreksi, dan diberi tanda paraf yang menandakan bahwa terjadi kesalahan dan kemudian telah ditulis yang benar. Tidak takut diingkari? Tidak, orang-orang dahulu bisa menerima hal itu.

Namun, penggunaan pensil jenis tersebut berangsur-angsur tergantikan dengan penulisan menggunakan pulpen. Di kalangan bawah, ada beberapa merek pulpen yang dianggap bergengsi.

Pena pada pulpen awalnya memang kurang nyaman, namun dengan semakin lama penggunaan, akan semakin nyaman pula digunakan bahkan sesuai dengan kebiasaan pengguna utamanya.

Namun lama-lama penggunaan pulpen, apalagi pen celup ataupun trek pen, dirasa semakin tidak efisien. Bersamaan dengan masanya, muncullah ballpoint. Dahulu memang sebutannya adalah ballpoint, karena di ujungnya terdapat bola kecil yang menggelinding bersamaan dengan gerak yang menyentuh kertas. Bola tersebut berputar dan di bagian dalam selalu bersentuhan dengan tinta, dan ketika menggelinding, menggoreskan tinta pada kertas.

Kehadiran ballpoint yang kini disebut ballpen tersebut segera meluas. Namun hingga 1990-an, surat-menyurat resmi masih belum bisa menerima kehadiran ballpoint. Menulis surat lamaran, daftar riwayat hidup, atau lainnya tetap harus menggunakan pulpen dan harus tinta hitam. Jika tidak, jangan berharap ada panggilan untuk tes kerja.

Sebagai pengganti pulpen, banyak yang menggunakan rapido, yang sebenarnya adalah pen teknik. Keunggulan rapido ini karena memiliki beberapa ukuran mata pena, mulai dari 0,1 mm, 0,2 mm, hingga 2,00 mm. Kebanyakan memang digunakan oleh anak-anak SMK teknik, namun kemudian meluas hingga digunakan pula oleh anak-anak SMA. Memang juga harus mengisi tinta, dan sebagian lainnya tetap menggunakan ballpoint untuk kesehariannya.

Era sekarang, sudah banyak ditinggalkan. Ponsel pintar sudah bisa untuk pekerjaan tulis-menulis dan bahkan mengubah suara menjadi naskah tulisan.

Wartawan? Juga nyaris tak ada lagi yang membawa ballpoint dan kertas, tak membawa tape recorder, tetapi ponsel pintar. Semuanya bisa dikerjakan melalui benda kecil yang bernama ponsel.

Dan tulisan yang biasanya dikuasai oleh wartawan era 1960-an atau yang lebih tua, stenografi, tak lagi dikenal oleh wartawan.

Pelajar? Meski masih menulis, namun terkadang membaca tulisan sendiri saja kesulitan. “Tulisan ceker pitik,” kata orang dulu. (**)

Sebelumnya

Selat Malaka Memanas Imbas Konflik Iran, Bachtiar Nasir: Indonesia di Pusaran Taruhan Global

Selanjutnya

KAI Modernisasi Layanan, KA Singasari dan Bangunkarta Gunakan Rangkaian Baru Mulai 15 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement