Beranda Jogja Tempo Doeloe Kantor Pulisi Ngupasan
Jogja Tempo Doeloe

Kantor Pulisi Ngupasan

Gambar : Doc Polresta DIY

Marknews.id – Bulan April 1972, tepatnya tanggal 5, kantor polisi yang beralamat di Jalan Reksobayan, Yogyakarta, mencatatkan prestasi luar biasa bagi bangsa Indonesia, bahkan turut dicatat oleh dunia.

Di kantor polisi yang kini bernama Polresta Yogyakarta itu, dahulu dikenal sebagai Komando Resor Kota atau Komresko 961 Yogyakarta. Peristiwa bermula dari pesawat milik Merpati Nusantara Airlines (MNA) bernama “MERAUKE” dengan nomor registrasi MZ-171, yang melayani rute Surabaya menuju Jakarta, dibajak saat berada di atas wilayah Tegal pada ketinggian 14.000 kaki.

Pesawat jenis Vickers Viscount 613 tersebut mengangkut 36 penumpang dan 7 kru. Pesawat dipiloti Kapten Hindiarto Sugondo dan Co-Pilot Kapten Muhammad Soleh Sukarnapradja. Kapten Hindiarto sendiri merupakan penerbang TNI Angkatan Udara dari kesatuan Djawatan Angkutan Udara Militer (DAUM).

Pembajak, yang kemudian diketahui merupakan desertir anggota pasukan komando KKO bernama Hermawan, sempat berniat membuka pintu pesawat saat masih di udara. Namun, upaya itu dicegah oleh pilot dengan alasan bahwa jika pintu dibuka pada ketinggian tersebut, gendang telinga semua orang di dalam pesawat bisa pecah. Hermawan pun mengurungkan niatnya. Sebelumnya, ia telah memperlihatkan dua granat.

Pembajak sempat memaksa masuk ke ruang kokpit, kemudian duduk. Pilot lalu mengarahkan pesawat bukan ke Jakarta, melainkan ke Adisutjipto, Yogyakarta.

Pukul 14.25 WIB, pesawat mendarat di Adisutjipto. Pembajak meminta tebusan, dengan sejumlah sumber menyebut Rp25 juta dan ada pula yang menyebut Rp20 juta. Jika tidak dipenuhi, pesawat akan diledakkan. Setelah melalui negosiasi panjang, disepakati tebusan sebesar Rp5 juta serta permintaan agar pesawat diisi bahan bakar penuh untuk terbang ke negara lain.

Namun hingga sore hari, pengumpulan uang tunai Rp5 juta saat itu tidaklah mudah. Sejumlah bank yang dihubungi tidak mampu mengumpulkan dana sebesar yang diminta.

Lalu, apakah ada skenario pembebasan pesawat? Baik TNI maupun Polri saat itu belum memiliki pengetahuan yang memadai terkait penanganan pembajakan pesawat.

Pasukan elite TNI AU, Kopasgat, telah mengepung pesawat yang parkir di apron dengan mesin yang masih menyala, menunggu komando berikutnya.

Upaya pembebasan masih dibahas di ruang operasi. Hadir dari Komando Resor Kota Letkol Pol. Sujono. Dalam situasi yang semakin kritis, muncul Letnan II Pol. Bambang Widodo Umar, lulusan AKABRI Kepolisian. Ia tidak diizinkan masuk ke ruang rapat karena tidak berseragam. Maklum, Bambang merupakan anggota reserse. Ia membawa senjata revolver Colt Special.

Dengan kecerdikan seorang anggota reserse, Bambang berhasil menerobos hingga ruang tunggu penumpang. Dari pengamatannya, ia mengetahui titik yang tepat untuk mendekati pesawat tanpa diketahui, dengan memanfaatkan bayang-bayang pesawat sebagai area gelap untuk bergerak. Ia juga melihat dari jendela kokpit yang bisa dibuka-tutup, terdapat tangan yang terus melambai lalu menghilang, berulang kali.

Bambang juga melihat bayangan seseorang yang mondar-mandir di ruang kokpit dan kabin penumpang. Sosok itu diduga adalah pembajak.

Melihat adanya peluang, Bambang bergerak mendekati moncong pesawat. Namun, ia tidak dapat mencapai jendela karena terlalu tinggi. Untuk itu, ia meminta bantuan petugas darat untuk membawa tangga ke arah moncong pesawat, dengan hati-hati dan tanpa menarik perhatian.

Deru mesin pesawat masih terdengar, baling-baling masih berputar, mesin belum dimatikan. Perlahan, Bambang berhasil mendekati jendela kokpit. Kapten kemudian berbisik meminta pistol, dan mengaku mampu menggunakan berbagai jenis senjata karena merupakan anggota AURI.

Bambang menyetujui permintaan tersebut dan menyerahkan Colt Special yang dibawanya kepada pilot. Beberapa saat kemudian, terdengar beberapa kali letusan. Tiba-tiba, pilot dan co-pilot keluar dari pesawat dan menyatakan bahwa pembajak telah tewas.

Ternyata, tembakan pertama mengenai leher pembajak. Namun, co-pilot meminta agar pilot kembali menembak. Dua peluru berikutnya menembus tubuh pembajak hingga tersungkur. Tubuh pembajak yang jatuh menutupi dan memadamkan api sumbu TNT yang telah dinyalakan, sehingga ledakan tidak terjadi. Penumpang dan kru pun berhasil dievakuasi dengan selamat.

Selesai? Belum.

Pasukan elite TNI AU, Kopasgat, segera masuk ke dalam pesawat untuk menyisir kemungkinan adanya bahan peledak lain. Benar saja, ditemukan granat tangan yang sudah terlepas pen penguncinya. Granat tersebut tidak meledak karena tertindih jaket militer yang dikenal sebagai jaket Korea. Granat berhasil diamankan, meski pen penguncinya tidak ditemukan.

Beruntung, salah satu anggota Kopasgat memiliki peniti besar yang terselip di celananya. Peniti tersebut kemudian digunakan sebagai pengganti pen pengunci granat, sehingga bahan peledak dapat diamankan. Namun, penulis mengaku lupa siapa prajurit Kopasgat yang meminjamkan peniti tersebut, meski pernah bertemu dengannya di Adisutjipto.

Selesai? Belum.

Beberapa waktu kemudian, Presiden Soeharto berencana memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam operasi tersebut.

Namun, Bambang Widodo Umar tidak termasuk yang menerima penghargaan. Alasannya, sebagai anggota polisi, ia dianggap melakukan kesalahan karena menyerahkan senjata kepada orang yang tidak dikenalnya.

Bambang Widodo Umar kemudian tetap menjalani kariernya sebagai anggota Polri hingga pensiun dengan pangkat Komisaris Besar Polisi atau Kolonel Polisi. (**)

Sebelumnya

7 Rekomendasi Tablet AMOLED Terbaik April 2026

Selanjutnya

Tak Sekadar Konten, LKS Digital Marketing 2026 Latih Siswa SMK Jadi Sales Profesional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement