Sepur mBantul
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – Usai menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, His Majesty’s Ambassador Dominic Jermey CVO OBE, putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Mangkubumi, menyampaikan keinginannya agar kereta api kembali membuka jalur Yogyakarta–Bantul.
Sebenarnya, dahulu pernah ada kereta api yang melayani relasi Yogyakarta, yang dalam hal ini adalah Stasiun Yogyakarta atau yang masyarakat sebut Stasiun Tugu, hingga Stasiun Palbapang di sebelah selatan Kota Bantul.
Jejak-jejak jalur kereta api dari Stasiun Yogyakarta hingga Stasiun Palbapang masih bisa disaksikan hingga saat ini, meski tidak utuh.
Dari Stasiun Tugu, kereta api bergerak ke arah barat, kemudian berbelok ke selatan (kiri) pada percabangan di sekitar Koramil–Kantor Kecamatan Gedongtengen. Jalur tersebut menelusuri perkampungan, kemudian masuk wilayah Ngampilan, tepatnya di Jalan Letjen Suprapto, sisi timur jalan. Salah satu jejak yang masih terlihat di kawasan ini adalah tiang yang dahulu berfungsi sebagai tiang sinyal.
Perjalanan kemudian berlanjut ke selatan, menyeberangi Jalan RE Martadinata dan Jalan KHA Dahlan. Di persilangan ini dahulu terdapat palang pintu perlintasan atau teteg. Kereta kemudian terus melaju ke selatan hingga mencapai Stasiun Serangan. Bangunan Stasiun Serangan sendiri masih berdiri hingga kini.
Dari Stasiun Serangan, jalur kereta api berlanjut ke selatan, melintasi sisi barat Jalan Wahid Hasyim. Sebagian lokasi rel kini telah digunakan untuk bangunan perkantoran pemerintah. Perjalanan terus berlanjut hingga persilangan di Tamansari.
Di persimpangan Tamansari, tidak terdapat palang pintu perlintasan. Namun, di sisi kiri dan kanan rel terdapat lubang untuk menancapkan papan bertuliskan “BERHENTI” yang akan dipasang ketika kereta hendak melintas. Meski tanpa palang pintu, rumah penjaga masih ada, berupa bangunan kecil berbahan kayu di sisi timur rel.
Kereta kemudian terus melaju ke selatan. Pada masa itu, di kawasan Pojok Beteng Kulon belum terdapat Jalan Sugeng Jeroni, sehingga jalur kereta tetap lurus ke selatan.
Perhentian berikutnya adalah Stasiun Dongkelan. Bangunan stasiun ini masih dapat dilihat hingga sekarang dan menjadi bagian dari kawasan Pasthy di sisi barat jalan.
Melanjutkan perjalanan ke selatan, kereta akan tiba di Halte Winongo. Jika di Stasiun Serangan terdapat pipa pengalir BBM untuk keperluan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) yang berada di selatan Pasar Serangan dan oleh masyarakat disebut Pabrik ANIEM, maka di Halte Winongo terdapat percabangan jalur ke arah barat yang menghubungkan ke Pabrik Gula Madukismo.
Bangunan Halte Winongo masih dapat disaksikan hingga sekarang. Sementara itu, di bagian selatan terdapat Halte Cepit, namun bangunannya telah dibongkar.
Stasiun berikutnya adalah Stasiun Bantul, yang bekas bangunannya masih ada hingga kini. Perjalanan kemudian berlanjut ke selatan menuju Stasiun Palbapang, yang bangunannya bergaya tahun 1950-an masih dapat dilihat di Terminal Palbapang.
Mengapa bergaya 1950-an? Hal ini dikarenakan pada periode tersebut dilakukan renovasi, di mana arsitektur lama dibongkar dan diganti dengan bangunan baru.
Dahulu, jalur ini juga memiliki lanjutan dari Palbapang menuju Sewugalur dengan menggunakan rel berukuran spoor 1.435 mm. Pada masa pendudukan Jepang, ukuran tersebut diubah menjadi 1.067 mm. Rel lama kemudian dibongkar dan digunakan untuk pembangunan jaringan kereta api di Myanmar serta jalur Saketi–Bayah, yang kini termasuk wilayah Daop I Jakarta.
Relasi Saketi–Bayah sendiri diresmikan pada tahun 1944 di bawah pengawasan militer Jepang.
Kembali ke jalur Jogja–Bantul, jalur ini ditutup pada tahun 1980-an dengan berbagai alasan. (***)











