Jogja Tempo Doeloe

Mubeng Beteng

Sumber Gambar :L Kraton Jogja

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – DI AKHIR 1970-AN hingga 1980-an, laku mubeng beteng atau berjalan kaki mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta pada malem 1 Suro merupakan kegiatan masyarakat, benar-benar kegiatan masyarakat.

Tidak terkoordinasi dan tidak jelas dimulai dari titik mana. Namun yang sama adalah tidak berbicara selama melaksanakan kegiatan tersebut alias tapa mbisu.

Kala itu, orang masih sangat paham bahwa 1 Suro tidak identik 1 Muharram. Meski sama-sama tahun baru, perhitungan tahun berdasar perputaran bulan, namun masyarakat mengetahui bahwa kedua tahun tersebut — Jawa dan Hijriyah — memiliki perbedaan. 1 Suro tidak selalu bersamaan dengan 1 Muharram. Meski ada kalanya awal tahun Jawa dan tahun Hijriyah itu bersamaan, namun ada kalanya berbeda hitungan.

Dulu banyak yang memulai perjalanannya melakukan tapa mbisu mubeng beteng ini pada pukul 22.00 WIB. Berjalan senyap tanpa bicara, tanpa membawa camilan atau minuman. Berjalan kaki mengelilingi benteng dalam hitungan ganjil, 1, 3, 5 atau hitungan berikutnya. Namun kebanyakan mengelilingi benteng 1 atau 3 kali. Tanpa atribut berkelompok kecil 2 atau 4 orang, pelan menelusuri jalanan dan biasanya berakhir pada pukul 03.00 atau saat subuh.

O, iya, sedikit tentang perbedaan antara kalender Jawa dengan kalender Hijriyah, diantaranya adalah umur kalender. Satu tahun Jawa berumur 354 3/8 hari sedangkan kalender Hijriyah berumur 345 11/30 hari.

Mengacu pada hitungan tersebut, maka dalam hitungan sewindu atau 8 tahun menurut kalender Jawa terdapat 3 tahun kabisat, sementara menurut hitungan di kalender Hijriyah terdapat 11 tahun kabisat dalam kurun 30 tahun.

Pada kalender Jawa, tahun kabisat ini ditempatkan pada tahun Ehe, Dal dan Jimakir. Pada hitungan tahun kabisat, bulan terakhir yakni bulan Besar berumur 30 hari, sedangkan pada tahun lainnya yang bukan kabisat berumur 29 hari.

Dengan adanya perbedaan jumlah tahun kabisat ini mengakibatkan, antara tahun Jawa dan tahun Hijriah harus ada pergantian kuruf agar antara kedua perhitungan tahun itu sesuai lagi. Setiap 120 tahun, kalender Jawa harus dimajukan satu hari.

Kembali ke malem 1 Suro. Selain melakukan kegiatan mubeng beteng, malam 1 Suro, dahulu di kampung-kampung bahkan di tingkat RT biasanya diadakan tirakatan atau yang dahulu disebut lek-lekan. Pada kegiatan itu diisi dengan semacam doa syukur dan harapan, ngidung atau membaca kidung, tidak hanya macapat. Paling tidak adalah “Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh hayu luputa ing lara….”

Acara lek-lekan atau wungon ini biasanya berlangsung hingga pukul 03.00 WIB.

Sedangkan pada tahun baru Hijriyah, dahulu memang tidak pernah dirayakan.

Sedangkan pada 1 Suro, biasanya Pemda Kota Yogyakarta dan Kraton Yogyakarta menggelar tradisi pemancangan patok pertama PMPS — Pasar Malam Perayaan Sekaten — yang diadakan di Alun Alun Utara Yogyakarta, sebagai tanda akan dimulai pasar malam. Sedangkan Sekaten berlangsung setiap bulan Mulud — menurut kalender Jawa. (***)

Sebelumnya

Haris Rusly Moti Soroti Munculnya Narasi “Indonesia Bangkrut”, Sebut Bertentangan dengan Tradisi Gerakan Sosial

Selanjutnya

Jatim Park 2 Batu Malang, Destinasi Wisata Edukasi Keluarga yang Menggabungkan Rekreasi dan Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement