Halal Bihalal IKPM Yogya, Ustadz Bachtiar Nasir Soroti Krisis Narasi dan Pentingnya Kalender Ibadah
Marknews.id – Yogyakarta — Ustadz Bachtiar Nasir menyoroti lemahnya kesadaran umat dalam memaknai waktu sebagai bagian dari sistem nilai Islam. Dalam acara Halal Bihalal Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Yogyakarta di Balai Kalurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, 16 Mei 2026, ia menegaskan bahwa umat Islam perlu kembali menjadikan “kalender ibadah” sebagai orientasi hidup.
Ulama yang juga Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia serta alumnus Gontor 1988 itu mengatakan, selama ini umat lebih banyak mengikuti kalender umum—akademik, kerja, dan liburan—ketimbang siklus waktu dalam Islam yang sarat pembinaan karakter.
“Padahal hidup kita seharusnya mengikuti kalender ibadah, dari Muharram sampai Zulhijjah,” ujar Ustadz Bachtiar.
Menurut dia, Islam telah menetapkan momentum-momentum penting yang berfungsi membangun kekuatan spiritual dan peradaban. Ia mencontohkan bulan-bulan mulia seperti Muharram, Rajab, Zulqa’dah, dan Zulhijjah, serta keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadan dan sepuluh hari pertama Zulhijjah.
“Di Zulhijjah, hampir seluruh jenis ibadah bisa dilakukan sekaligus—shalat, puasa, sedekah, bahkan haji. Ini peluang besar yang sering tidak dimaksimalkan,” kata dia.
Ustadz Bachtiar menilai lemahnya pemanfaatan momentum ibadah berdampak pada rapuhnya karakter umat. Ia juga menyinggung fenomena yang menurutnya kian mengkhawatirkan, yakni kebiasaan “scrolling tanpa tujuan” di media digital.
“Dari alat dakwah berubah jadi aktivitas rebahan. Waktu habis, energi hilang, bahkan akal menjadi tumpul,” ujarnya.
Selain soal waktu, Ustadz Bachtiar menggarisbawahi tantangan lain yang ia sebut sebagai “krisis narasi”. Ia menyebut dunia saat ini memasuki era post-truth, ketika kebenaran kerap kalah oleh kekuatan narasi.
“Siapa yang menguasai narasi, dia yang menguasai dunia,” kata dia.
Ia mencontohkan bagaimana negara lain mampu mengangkat nilai benda sederhana melalui narasi dan inovasi. “Bukan objeknya yang berubah, tapi cara bercerita tentang objek itu. Kita sering kalah bukan karena tidak punya potensi, tapi karena tidak punya narasi,” ujarnya.
Menurut Ustadz Bachtiar, kelemahan utama umat Islam saat ini adalah tidak adanya “mesin narasi” yang kuat. Ia menyebut umat belum memiliki newsroom atau war room yang mampu membangun citra dan pengaruh secara sistemik. Akibatnya, umat kerap kalah sebelum bertanding dalam berbagai arena global.
Dalam konteks itu, ia mengingatkan pentingnya membangun visi peradaban, bukan sekadar bergerak dalam agenda kecil dan jangka pendek. “Kita ini umat besar, tapi kalau tidak dikelola dengan visi, justru bisa menjadi beban,” kata dia.
Ia juga menyoroti posisi Yogya yang dinilainya strategis sebagai pusat intelektual dan gerakan. Menurut dia, kota ini seharusnya tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat produksi gagasan dan narasi.
“Kalau kita tidak membangun narasi, orang lain yang akan mendefinisikan kita,” ujarnya.
Ustadz Bachtiar turut menyinggung dinamika global yang tengah berubah, termasuk pergeseran kekuatan dunia dari Barat ke Timur. Ia menilai umat Islam berada di persimpangan penting dalam menentukan peran di masa depan.
“Apakah kita akan menjadi pemenang atau hanya penonton, itu tergantung bagaimana kita merespons zaman,” kata dia.
Ia mencontohkan potensi besar umat yang belum terkonsolidasi, termasuk jaringan alumni pendidikan Islam seperti Gontor yang tersebar di berbagai negara. “Kita ini ibarat raksasa yang belum bangun,” ujarnya.
Menurut dia, yang dibutuhkan adalah konsolidasi menjadi kekuatan kolektif yang terstruktur, strategis, dan terukur.
Di akhir pidatonya, Ustadz Bachtiar mengajak peserta untuk mulai dari langkah sederhana: mengelola waktu dengan lebih baik, memanfaatkan teknologi untuk dakwah, serta membangun jaringan dan narasi yang kuat.
“Kita harus beralih dari sekadar kerumunan menjadi barisan,” kata dia.









