Beranda Berita Utama Akses Pangan hingga Pola Asuh Jadi Tantangan, Prevalensi Stunting RI Masih 19,8 Persen
Berita Utama

Akses Pangan hingga Pola Asuh Jadi Tantangan, Prevalensi Stunting RI Masih 19,8 Persen

Marknews.id, Yogyakarta — Upaya penurunan angka stunting di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen. Capaian tersebut masih cukup jauh dari target pemerintah yang menargetkan penurunan hingga 14,2 persen pada 2029.

Di tengah upaya percepatan, pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari strategi penguatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Namun demikian, persoalan stunting dinilai tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, melainkan juga dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, hingga pola pengasuhan.

Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes., menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan akses terhadap sumber pangan bergizi.

Menurutnya, persoalan akses pangan paling terasa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), baik di kawasan pesisir maupun pedalaman. Kondisi ini memunculkan paradoks, terutama di daerah pesisir yang sejatinya memiliki potensi sumber pangan bergizi tinggi.

“Di daerah pesisir, pemanfaatan ikan konsumsi pribadi belum optimal karena ikan-ikan bergizi tinggi banyak dijual ke pasar,” ungkapnya, Rabu (6/5).

Fenomena tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari tekanan ekonomi masyarakat yang mendorong hasil tangkapan laut lebih diprioritaskan sebagai komoditas jual dibandingkan untuk konsumsi keluarga. Akibatnya, asupan gizi anak dalam rumah tangga justru tidak terpenuhi secara optimal.

Selain wilayah pesisir, tantangan juga terjadi di daerah pedalaman yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan distribusi pangan. Kondisi ini diperparah dengan pola konsumsi keluarga yang cenderung memilih makanan instan karena dianggap lebih praktis.

“Orang tua kadang lebih cenderung menyajikan makanan instan buat anaknya,” katanya.

Lebih jauh, Helmy menekankan bahwa faktor pendidikan orang tua memegang peranan penting dalam menentukan pola pengasuhan dan pemenuhan gizi anak. Dalam situasi ekonomi terbatas, kemampuan orang tua dalam menentukan prioritas menjadi kunci utama.

Ia mencontohkan pendekatan positive deviance yang menitikberatkan pada solusi lokal berbasis perilaku masyarakat. Dalam kondisi krisis, terdapat keluarga yang tetap mampu menjaga kesehatan anak karena memprioritaskan kebutuhan gizi.

“Ada satu kondisi ketika krisis moneter dulu di salah satu daerah. Orang tua mereka memprioritaskan uang untuk mencukupi gizi anak-anaknya, sehingga ketika diperiksa anak-anaknya tetap dalam kondisi sehat,” ujarnya.

Selain asupan gizi, faktor lingkungan juga berkontribusi terhadap risiko stunting. Kesehatan saluran cerna anak, yang berkaitan dengan konsep gut-brain axis, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar, seperti kebersihan, kualitas air minum, serta sanitasi peralatan makan.

Lingkungan yang tidak higienis dinilai dapat memperburuk kondisi kesehatan anak dan menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Helmy menegaskan, upaya penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan ekosistem keluarga. Pendidikan orang tua, kondisi lingkungan, serta stabilitas ekonomi menjadi fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan.

“Pendidikan bagi orang tua itu mutlak. Orang tua yang terdidik akan mampu menentukan skala prioritas untuk membesarkan anak. Itulah salah satu tujuan adanya kelas calon pengantin, kemudian lingkungan yang bersih, ekonomi yang stabil sehingga kebutuhan pangan dapat tercukupi,” jelasnya.

Sebelumnya

Tekanan Fiskal DIY 2026 Meningkat, DPRD Soroti Dampak Pemangkasan Anggaran hingga Desa

Selanjutnya

Eko Suwanto Soroti Penyaluran Rp312,2 Miliar Dana Keistimewaan DIY 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement