Cagak Aniem
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – Sebelum terjadi perubahan tegangan listrik, di Indonesia termasuk di Yogyakarta, masyarakat menggunakan tegangan listrik 110 volt. Namun pada era 1980-an, tegangan listrik yang terpasang di rumah-rumah dinaikkan menjadi 220 volt.
Perubahan tegangan listrik yang masuk ke rumah-rumah ini kemudian diikuti dengan perubahan besaran langganan listrik. Pada era sebelum perubahan, rumah tangga bisa memilih langganan listrik 50 watt, 75 watt, atau 125 watt. Bahkan, untuk kondisi tertentu, seseorang bisa berlangganan 50 watt.
Langganan kecil ini tidak menggunakan meteran atau sistem pembayaran sesuai pemakaian, melainkan langganan tetap. Tarif yang dikenakan bersifat flat setiap bulan. Sementara itu, meteran listrik baru dipasang pada rumah yang berlangganan listrik setidaknya 250 watt, atau mereka yang menggunakan langganan los setrum, yang artinya tidak terbatas.
Perubahan berikutnya dilakukan secara bertahap. Mereka yang berlangganan di bawah 500 watt diubah dan dinaikkan menjadi pelanggan 450 watt. Sedangkan pelanggan 500 watt diberi pilihan untuk turun menjadi 450 watt atau naik ke 900 watt.
Perubahan tegangan listrik juga mempengaruhi kabel listrik atau kentheng yang digunakan (jangan keliru dengan klentheng, karena klentheng adalah biji kapuk). Kabel-kabel lama yang terbuat dari tembaga diganti dengan kabel baru berbahan aluminium. Tiang listrik, atau sebutan lamanya cagak aniem, diganti dengan tiang yang lebih tinggi dan lebih kuat. Demikian pula instalasi dalam rumah turut dirombak agar mampu menahan tegangan 220 volt. Alat-alat elektronika yang menggunakan listrik pun diganti atau dipasangi alat penurun tegangan (step down).
Dengan naiknya tegangan listrik menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, gardu listrik pun tidak lagi difungsikan. Dahulu, sejak kecil, kami di kampung menyebutnya gardu listrik dan tidak pernah mendengar istilah babon aniem. Kekeliruan penyebutan saat itu mungkin hanya antara gardu dan gardu induk. Anak-anak menyebut gardu besar, seperti yang bangunannya ada di belakang Hotel Garuda, sebagai gardu induk. Begitu pula yang terpasang menyatu dengan bangunan yang dulu menjadi Kantor LKBN Antara, BP3U, dan PWI.
Sedangkan yang berada di Kotabaru (barat SMA 3), atau yang ada di dekat Kantor PP Muhammadiyah lama di Jalan KHA Dahlan, serta di sejumlah lokasi lainnya, kami menyebutnya sebagai gardu listrik.
Tulisan yang terpasang di pintu besar berwarna abu-abu pada gardu listrik selalu sama. Ada yang berbahasa Belanda dengan huruf kapital berwarna merah, LEVENSGEVAAR, yang artinya sangat berbahaya. Ada pula yang berbahasa Melayu/Indonesia, AWAS ELESTRIK, dan ada yang menggunakan aksara Jawa berbunyi SING NGEMEK MATI, yang artinya yang menyentuh akan meninggal dunia. Plakat tempel yang terbuat dari bahan aluminium tebal itu dilengkapi dengan gambar kilat, yang kini diasosiasikan sebagai lambang listrik arus kuat.
Listrik yang ada di Yogyakarta diproduksi di PLTA Jelok di Kecamatan Tuntang, Salatiga. Produksi ini diperkuat dengan PLTD atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang berada di Wirobrajan, tepatnya di depan Pasar Serangan.
Tempat ini dahulu disebut Pabrik Aniem karena menghasilkan listrik yang dioperasikan oleh Perusahaan Umum Listrik Hindia Belanda, Algemeine Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij, yang diakronimkan menjadi ANIEM.
Kami, sejak kecil, memang tidak mengenal istilah Babon Aniem. Yang kami kenal adalah Gardu Listrik atau Gardu Induk, untuk membedakannya dengan Gardu Ronda yang kini dikenal sebagai pos kamling. Tidak tahu pula jika orang di kampung lain kemudian menyebutnya Babon Aniem. Dan maaf, penulisan Aniem dengan menggunakan aksara Jawa pada gardu yang ada di belakang Hotel Garuda itu salah.
Dahulu, buku-buku beraksara Jawa yang banyak beredar, jika menemui istilah khusus, tetap akan ditulis dengan aksara latin. (***)











