UGM Kembangkan Hijauan Pakan Bernutrisi Tinggi, Dorong Efisiensi Biaya Peternakan Nasional
Marknews.id – Yogyakarta — Persoalan mahalnya biaya pakan masih menjadi tantangan utama dalam industri peternakan nasional. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) mencoba menawarkan pendekatan berbeda melalui pengembangan hijauan pakan ternak yang tidak hanya produktif, tetapi juga bernilai nutrisi tinggi dan lebih terjangkau bagi peternak.
Upaya tersebut dilakukan melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP) yang selama beberapa tahun terakhir fokus menghasilkan varietas hijauan unggulan. Beberapa di antaranya telah memperoleh Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), seperti Alfalfa Tropik (Medicago sativa cv Kacang Ratu BW) dan rumput gajah Gama Umami (Pennisetum purpureum cv Gama Umami). Selain itu, tanaman Chicory (Cichorium intybus) saat ini masih dalam tahap pengajuan PVT.
Peneliti Lab HMTP, Prof. Nafiatul Umami, menjelaskan bahwa Chicory menunjukkan performa menjanjikan dalam berbagai kondisi agroklimat di Indonesia. “Chicory telah diuji secara multilokasi dan ditanam di 10 Balai Penelitian Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak di berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya menggembirakan karena mampu tumbuh dan beradaptasi dengan baik,” kata Nafiatul dalam acara Fapet Menyapa, Rabu, 14 Januari.
Menurut dia, kehadiran Chicory dapat menjadi alternatif penting untuk memperkuat kemandirian pakan berbasis sumber daya lokal. Tidak hanya itu, riset yang dikembangkan Lab HMTP juga diarahkan agar bersifat lintas komoditas. “Alfalfa Tropik dan Chicory bisa dimanfaatkan untuk ternak ruminansia maupun unggas,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi peternakan nasional yang masih dibebani biaya produksi tinggi. Peneliti HMTP lainnya, Prof. Bambang Suhartanto, menilai ketergantungan pada pakan buatan dalam sistem pemeliharaan intensif menjadi salah satu faktor utama. Ia mendorong pemanfaatan hijauan melalui sistem penggembalaan yang lebih efisien.
“Indonesia memang tidak memiliki kebijakan lahan penggembalaan khusus seperti Australia. Namun peluang integrasi sangat besar,” kata Bambang. Ia mencontohkan integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit yang memiliki potensi lahan lebih dari 15 juta hektare. Selain itu, model integrasi juga dapat dikembangkan dengan ternak lebah seperti Trigona dan Apis mellifera.
Data yang dihimpun Lab HMTP menunjukkan, biaya pakan menyumbang sekitar 50 hingga 70 persen dari total biaya produksi peternakan. Padahal, hijauan pakan sebagai sumber serat utama ruminansia memiliki harga relatif rendah per satuan. Dengan kandungan nutrisi yang memadai, hijauan berkualitas tinggi dinilai mampu menekan biaya produksi secara signifikan, bahkan pada sistem pemeliharaan intensif.
Konsep pemanfaatan hijauan bernutrisi tinggi ini dikenal sebagai green concentrate atau konsentrat hijau. Melalui inovasi tersebut, Fapet UGM berupaya menempatkan hijauan pakan bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen strategis dalam mewujudkan peternakan yang efisien dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan Fapet Menyapa tersebut, turut hadir sejumlah peneliti HMTP lainnya, antara lain Dr. Miftahus Shiratul Haq dan Dr. Agussalim, yang terlibat dalam pengembangan dan diseminasi inovasi hijauan pakan kepada masyarakat peternak.











