Hilirisasi Jadi Kunci Kesejahteraan Peternak Sapi Perah, UGM Dorong Pengolahan Produk Bernilai Tambah
Marknews.id, Yogyakarta – Upaya memperkuat kesejahteraan peternak sapi perah di Indonesia dinilai tidak bisa hanya bertumpu pada peningkatan produksi susu segar. Diperlukan langkah yang lebih strategis melalui hilirisasi agar peternak memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari usaha yang mereka jalankan.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Satyaguna Rakhmatulloh, menilai selama ini peternak masih berada pada posisi paling dasar dalam rantai industri persusuan. Sebagian besar peternak hanya berfungsi sebagai pemasok susu segar, sementara keuntungan yang lebih besar justru dinikmati pelaku usaha di sektor pengolahan dan pemasaran.
Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan produksi susu belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan peternak. Tanpa adanya penguatan peran dalam rantai nilai, bertambahnya produksi hanya akan meningkatkan pasokan bahan baku tanpa memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi peternak.
Karena itu, transformasi peternak dari sekadar produsen susu segar menjadi pelaku usaha produk olahan dinilai penting untuk mendorong kemandirian ekonomi sektor persusuan nasional.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui diversifikasi produk. Susu segar memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual lebih tinggi, seperti susu pasteurisasi, yoghurt, keju, es krim, puding susu, hingga produk pangan fungsional.
Diversifikasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan kelompok peternak serta kebutuhan pasar. Selain meningkatkan nilai tambah, pengolahan produk juga dapat memperpanjang masa simpan susu dan memperkuat posisi tawar peternak di pasar.
Meski demikian, hilirisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana dan peralatan produksi. Menurut Satyaguna, keberhasilan program juga sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.
Peternak membutuhkan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari teknik pengolahan susu, manajemen usaha, strategi pemasaran digital, hingga pengurusan legalitas usaha. Dengan pendekatan tersebut, peternak diharapkan mampu mengelola usaha secara profesional dan berkelanjutan.
Selain peningkatan kapasitas individu, penguatan kelembagaan kelompok ternak dan koperasi juga menjadi faktor penting dalam proses hilirisasi. Kelompok ternak didorong berkembang menjadi lembaga ekonomi yang tidak hanya mengelola produksi, tetapi juga pengolahan, pemasaran, dan pengendalian mutu produk.
Melalui pengelolaan yang dilakukan secara kolektif, peternak memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan daya tawar sekaligus mengakses berbagai dukungan dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, maupun sektor industri.
Dalam rantai nilai persusuan, peran perempuan juga dinilai sangat strategis. Keterlibatan perempuan tidak hanya pada proses produksi, tetapi juga dalam kegiatan pengemasan, administrasi usaha, hingga pemasaran produk olahan.
Partisipasi perempuan dinilai dapat memperkuat ekonomi keluarga peternak sekaligus menciptakan model usaha yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Untuk mendukung keberhasilan hilirisasi, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan dunia usaha diharapkan dapat membangun ekosistem yang mendukung melalui program pelatihan, akses pembiayaan, penguatan kelembagaan, pengembangan pasar, serta pendampingan teknologi.
“Peternak sapi perah harus menjadi subjek utama hilirisasi, bukan sekadar pemasok bahan baku. Dengan keterlibatan dalam pengolahan dan pemasaran produk susu, peternak dapat menikmati nilai tambah yang selama ini lebih banyak dinikmati sektor hilir,” ujar Satyaguna, Jumat (12/6).
Melalui penguatan hilirisasi berbasis kelompok ternak, peternak diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usahanya secara menyeluruh. Tidak hanya menghasilkan susu segar, tetapi juga berkembang menjadi pelaku usaha yang mandiri, memiliki daya saing tinggi, dan berkontribusi terhadap upaya mewujudkan kemandirian susu nasional.









