Mahasiswa Autis Fapet UGM Lulus Setelah 6 Tahun, Kini Kembangkan Peternakan Domba di Jepara
Marknews.id – Momen wisuda Program Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (20/5) menghadirkan banyak kisah perjuangan dari para lulusan. Salah satu cerita yang mencuri perhatian datang dari Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melalui sosok Siham Hamda Zaula Mumtaza, mahasiswa penyandang autisme yang berhasil menyelesaikan studinya setelah menempuh pendidikan selama 6 tahun 7 bulan.
Di tengah suasana bahagia prosesi wisuda, Siham tampak menikmati pencapaian yang telah lama diperjuangkannya. Perjalanan akademik yang dijalani tidak selalu mudah, mulai dari tantangan beradaptasi di lingkungan kampus hingga menghadapi tekanan dalam proses belajar.
“Saya senang sudah bisa lulus dari Fapet UGM. Perasaan saya senang walau sempat berdebar-debar,” ujar Siham di sela-sela prosesi wisuda.
Lulusan angkatan 2019 jalur Bidikmisi asal SMAN 1 Jepara itu diketahui didiagnosis autis Asperger sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kondisi tersebut membuatnya sensitif terhadap suara keras dan bentakan. Dalam kesehariannya, Siham lebih banyak menjalani aktivitas secara mandiri dan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Meski demikian, semangatnya untuk menempuh pendidikan di Fapet UGM tidak pernah surut. Selama kuliah, ia terbiasa bersepeda dari kawasan Condongcatur menuju kampus. Untuk membantu proses belajar, Siham juga memilih duduk di bangku paling depan saat perkuliahan berlangsung agar lebih mudah memahami materi.
Di balik perjuangannya menyelesaikan studi, Siham ternyata sudah mulai merancang masa depannya sejak masih menjadi mahasiswa. Ia kini tengah mengembangkan usaha peternakan domba di kampung halamannya di Jepara, Jawa Tengah.
“Iya, saya sekarang sedang mengembangkan usaha ternak domba di Jepara. Saat ini sudah ada 15 ekor dan rencana setelah lulus ini akan dikembangkan sampai besar. Target awal 100 ekor ke atas,” katanya penuh optimisme.
Usaha tersebut menjadi langkah awal Siham untuk membangun kemandirian di bidang yang selama ini ia tekuni. Dunia peternakan disebut menjadi ruang yang membuatnya lebih nyaman untuk berkembang dan berkarya.
Selama menempuh pendidikan di UGM, Siham mengaku mendapat banyak dukungan dari lingkungan kampus. Bantuan dari dosen, teman, hingga tenaga kependidikan menjadi salah satu faktor penting yang membantunya bertahan hingga berhasil meraih gelar sarjana.
“Saya merasa terbantu dengan mereka semua yang sudah men-support saya selama masa kuliah ini, baik yang langsung maupun tidak langsung,” ungkapnya.
Menurut Siham, keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM turut memberikan rasa aman bagi mahasiswa difabel dalam menjalani proses pembelajaran di perguruan tinggi.
“Untuk mahasiswa difabel baru, jangan khawatir untuk masuk UGM. Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM selalu ada untuk kalian,” pesannya.
Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menilai keberhasilan Siham menjadi gambaran bahwa dunia pendidikan tinggi harus mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif bagi seluruh mahasiswa.
Menurutnya, keberhasilan akademik tidak hanya diukur dari nilai semata, tetapi juga dari kemampuan kampus dalam mendukung setiap individu agar dapat berkembang sesuai potensinya.
“Setiap mahasiswa memiliki proses dan perjuangannya masing-masing. Kami bangga karena Siham mampu menyelesaikan studinya dan kini mulai membangun usaha peternakan secara mandiri. Ini menunjukkan bahwa pendidikan harus membuka kesempatan bagi semua untuk bertumbuh dan berdaya,” ujarnya.
Kisah Siham menjadi potret bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi maupun membangun masa depan. Dari ruang kuliah hingga kandang domba yang kini dirintisnya di Jepara, ia menunjukkan bahwa ketekunan dan dukungan lingkungan dapat membuka jalan bagi siapa pun untuk terus bertumbuh.









