Refleksi Gempa 2006 hingga Ancaman Megathrust, Yayasan Griya Jati Rasa Dorong Kebangkitan Ekologis dari Akar Rumput
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 dimaknai secara berbeda oleh Yayasan Griya Jati Rasa. Tidak hanya menghadirkan seremoni peringatan, organisasi berbasis komunitas tersebut justru mengajak masyarakat merefleksikan perjalanan panjang ketangguhan warga Yogyakarta dalam menghadapi bencana, sekaligus membangun kesadaran baru tentang ancaman perubahan iklim dan potensi gempa Megathrust di masa depan.
Rangkaian kegiatan yang digelar di Yogyakarta pada Rabu (20/5/2026) itu memadukan refleksi sejarah, penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat, hingga edukasi digital bagi generasi muda. Seluruh agenda diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kebangkitan nasional tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan dan memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Suasana reflektif terasa sejak awal acara ketika peserta diajak menengok kembali tragedi Gempa Yogyakarta 2006 melalui pembacaan buku Perempuan dan Bencana: Pengalaman Yogyakarta. Narasi tersebut mengangkat kisah perjuangan perempuan penyintas yang bangkit dari keterpurukan pascabencana.
Peserta juga menyaksikan pemutaran video tentang pengalaman dua perempuan penyintas gempa, yakni Ibu Yiwanti dari Dusun Kadisoro, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, serta Ibu Titik Isyawatun Khasanah yang kini menjabat sebagai Lurah Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.
Dalam sesi utama, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Bantul, Dr. Ahmad Sihabul Milah, menyoroti pentingnya keterlibatan lembaga pendidikan dan pesantren dalam menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan berbasis masyarakat.
“Lembaga pendidikan tinggi Islam dan pesantren memiliki tanggung jawab moral teologis dalam menghadapi krisis iklim. Transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat ini terbukti menjadi oase keadilan ekologis yang menyatukan umat untuk merawat bumi. Kekuatan dari pergerakan yang dipelopori oleh Yayasan Griya Jati Rasa dengan mitra-mitranya, dijalankan lintas agama, lintas budaya, lintas daerah, lintas generasi dengan memberikan dukungan dan akses kepada masyarakat seperti petani dan masyarakat adat sebagai subyek merawat bumi sekaligus mendapat manfaat ekonomi langsung,” tegas Dr. Ahmad Milah.
Menurutnya, gerakan ekologis yang dibangun dari komunitas lokal memiliki peluang besar menjadi model pembangunan berkelanjutan yang berpihak kepada masyarakat kecil.
Sementara itu, Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, KH Beny Susanto, mengumumkan rencana transformasi koperasi tersebut menjadi koperasi karbon berbasis komunitas pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Konsep koperasi karbon itu nantinya akan mengintegrasikan perdagangan karbon dengan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk penanaman pohon dan konservasi lingkungan yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga.
“Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa siap melangkah lebih jauh menjadi motor penggerak perdagangan karbon berbasis kerakyatan. Kami ingin memastikan bahwa setiap aksi penanaman pohon dan konservasi lingkungan yang dilakukan warga, memiliki dampak ekonomi langsung yang menyejahterakan mereka. Ada dua program yang sedang kami siapkan infrastruktur pelayanannya yaitu program asuh pohon dan gaji karbon dengan pilot projectnya di kalurahan Giricahyo, kapenewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul,” ujar Ustadz Beny Susanto.
Selain itu, koperasi juga menyiapkan program “One Product, One Trip, One Tree” yang mengalokasikan sebagian hasil penjualan produk anggota untuk donasi pohon bagi petani. Seluruh transaksi dan pengelolaan program nantinya dilakukan melalui aplikasi Semar Jati Rasa Mobile.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Griya Jati Rasa juga mengumumkan pemenang program call for innovation terkait pengembangan produk turunan ramah lingkungan berbasis eco enzyme. Kompetisi itu melibatkan delapan kelompok pemuda yang sebelumnya mengikuti pelatihan di Pendopo Tali Rasa.
Hasil penelitian peserta kemudian dinilai dan diumumkan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Kelompok Kophi Yogyakarta meraih juara pertama dan kedua, sedangkan juara ketiga diberikan kepada Lembaga AKAR. Para pemenang menerima uang pembinaan mulai Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta.
Kegiatan berlanjut dengan workshop bertajuk “Bangkit dari Tapak Bumi” yang dipimpin pendiri Yayasan Griya Jati Rasa, Farsijana Adeney-Risakotta. Dalam sesi tersebut, puluhan pemuda dibekali pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengakses data terkait krisis iklim serta ancaman Megathrust di wilayah masing-masing.
Para peserta diajak memanfaatkan teknologi bukan sekadar untuk membuat konten media sosial, tetapi menjadi agen informasi dan penggerak masyarakat dalam situasi darurat bencana.
Workshop ditutup dengan aksi “Gedor Digital Serentak”, yakni unggahan bersama pesan kesiapsiagaan bencana berbasis nilai gotong royong lokal seperti Sambatan dan Gugur Gunung.
Di akhir acara, dua pemuda dari Kalurahan Giricahyo memimpin deklarasi gerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat. Seluruh peserta mengikuti pembacaan deklarasi tersebut sebagai simbol komitmen bersama membangun kebangkitan ekologis dari Yogyakarta untuk Indonesia.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Yayasan Griya Jati Rasa menegaskan bahwa upaya menghadapi ancaman krisis iklim dan bencana tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknis semata. Kekuatan komunitas, solidaritas sosial, spiritualitas, dan partisipasi generasi muda dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan masyarakat di masa depan.









