Main Game Lebih dari 10 Jam per Pekan Dinilai Picu Gangguan Fisik hingga Mental pada Remaja
Maeknews.id, Yogyakarta – Kebiasaan bermain gim dalam durasi panjang kini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Sejumlah riset menunjukkan, aktivitas bermain video game yang melebihi batas wajar bukan hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan mental dan sosial, khususnya pada kalangan remaja dan mahasiswa.
Sebuah penelitian dari Curtin University, Australia, yang melibatkan 317 mahasiswa dari lima universitas dengan rata-rata usia 20 tahun, membagi responden ke dalam tiga kategori berdasarkan durasi bermain gim setiap pekan. Kelompok tersebut terdiri atas pemain rendah (0–5 jam), menengah (5–10 jam), dan tinggi (lebih dari 10 jam per minggu). Hasilnya, kelompok yang menghabiskan waktu bermain lebih dari 10 jam per minggu tercatat mengalami penurunan kondisi kesehatan secara signifikan dibandingkan dua kelompok lainnya.
Temuan tersebut sejalan dengan pandangan pakar kesehatan jiwa sekaligus dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Dr. Heru Subekti, S.Kep., Ns., MPH. Ia menegaskan bahwa kebiasaan bermain gim berlebihan, baik melalui komputer maupun ponsel, membawa berbagai konsekuensi negatif bagi tubuh.
“Jadi resiko untuk kena obesitas menjadi lebih besar dibandingkan anak-anak atau remaja yang tidak banyak menggunakan video game,” jelasnya, Selasa (27/1).
Menurut Heru, pola hidup sedentari akibat terlalu lama duduk di depan layar turut memperburuk kualitas tidur dan meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Ia menjelaskan, kecanduan gim pada anak dan remaja tidak lepas dari peran hormon dopamin yang memunculkan rasa senang saat bermain. Sensasi ini membuat durasi bermain terus bertambah dari waktu ke waktu hingga akhirnya memicu adiksi.
“Mereka yang awalnya bermain hanya satu jam saja, kemudian semakin meningkat dan terus meningkat. Hal ini yang kemudian menimbulkan gejala adiksi atau kecanduan pada anak atau remaja,” ujarnya.
Jika kondisi tersebut dibiarkan, dampaknya tidak berhenti pada masalah fisik. Heru menyebut kecanduan gim juga berkaitan erat dengan gangguan kesehatan mental. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengategorikan internet gaming disorder sebagai salah satu persoalan kesehatan jiwa.
“Jadi bahkan dari WHO sendiri sudah menyampaikan bahwa internet game disorder ini menjadi salah satu masalah kesehatan mental,” jelasnya.
Dari sisi medis, bermain gim dalam waktu lama juga dapat memicu gangguan otot dan saraf. Penggunaan mouse secara terus-menerus berisiko menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome (CTS), yakni kondisi terjepitnya saraf di pergelangan tangan. Sementara kebiasaan menunduk saat menatap layar gawai atau monitor berpotensi menimbulkan Text Neck Syndrome akibat beban kepala yang meningkat pada area leher.
“Nah pada saat posisi menunduk, itu beban kepala menjadi lebih besar. Dan kalau itu terjadi dalam waktu yang lama yang terjadi adalah adanya beban yang sangat besar pada daerah leher,” terang Heru.
Tak hanya berdampak pada kesehatan individu, durasi bermain gim yang berlebihan juga dinilai menggerus kemampuan bersosialisasi. Anak dan remaja berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, gangguan emosi, hingga masalah dalam hubungan keluarga dan pertemanan.
“Menyebabkan masalah gangguan pertemanan, hubungan dengan keluarga menjadi tidak harmonis, komunikasi dengan orang tua menjadi buruk, bahkan prestasi akademiknya juga akan sangat berkurang. Nah tentu spiritualitas ini menjadi salah satu dampak juga,” kata Heru.
Sebagai langkah pencegahan, Heru menyarankan agar waktu bermain gim dibatasi maksimal sekitar lima jam per minggu. Durasi tersebut dinilai masih aman dan memungkinkan anak serta remaja tetap memperoleh manfaat positif tanpa mengorbankan kesehatan.
“Bermain game tak selamanya berdampak negatif, tetapi ada sisi positifnya pada saat penggunaannya itu tepat, dengan jumlah yang tepat, tidak overuse,” ujarnya.
Ia menambahkan, bermain gim dalam batas wajar dapat membantu meningkatkan kreativitas dan memperkuat kohesivitas dengan teman sebaya. Namun, manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika aktivitas dilakukan secara terkontrol.
Untuk mengatasi kecanduan gim, Heru menekankan pentingnya edukasi sejak dini terkait risiko penggunaan video game berlebihan. Selain itu, anak dan remaja perlu diarahkan pada aktivitas alternatif yang lebih aktif dan produktif, seperti olahraga, mengembangkan hobi, maupun kegiatan sosial.
“Jadi kognitifnya ditingkatkan, ditumbuhkan kesadaran, perilakunya diubah. Jadi lebih banyak diberikan kegiatan-kegiatan yang lebih aktif,” pungkasnya.









