Satria Kuning Lena: Menyindir Kekuasaan dan Koruptor
Marknews.id – Suasana Omah Budaya Kahangnan, Bantul, pada Minggu Legen, Ahad, 24 Mei 2026 terasa lebih tegang dari biasanya. Bukan sekadar pertunjukan seni, siang itu menjadi ruang di mana kritik sosial disampaikan terang-terangan. Di tangan Ki Hangno Hartono, Wayang Kotak dengan lakon Satria Kuning Lena menjelma menjadi cermin keras bagi dunia politik Indonesia.
Berbeda dari pakem klasik, Wayang Kotak tampil dengan bentuk yang terinspirasi relief percandian dan narasi wayang beber. Visualnya sederhana, tetapi justru memberi ruang pada kekuatan cerita. Dan cerita itulah yang menjadi pusat perhatian: kisah tentang seorang tokoh muda yang terjerumus dalam pusaran kekuasaan.
Dalam pementasan ini, Ki Hangno tidak lagi bermain dengan simbol samar. Nama-nama yang pernah terseret kasus korupsi disebut secara eksplisit sebagai bagian dari konstruksi tokoh. Sosok Satria Kuning Lena seperti dirangkai dari fragmen kisah nyata—mengingatkan pada figur seperti Romahurmuziy, Angelina Sondakh, hingga Anas Urbaningrum—yang sama-sama pernah tersandung kasus korupsi melalui operasi tangkap tangan atau proses hukum besar.
“Saya sengaja menyebut nama-nama itu sebagai rujukan, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa kisah seperti ini nyata dan berulang,” ujar Ki Hangno Hartono usai pementasan.
Dari panggung, penonton diajak mengikuti perjalanan seorang pemuda dengan idealisme tinggi. Ia masuk politik dengan semangat perubahan, membawa harapan besar dari latar keluarga terpandang dan pendidikan yang mentereng. Namun perlahan, sistem politik yang ia masuki menggerus nilai-nilai itu. Ambisi tumbuh, jejaring kekuasaan mengikat, dan akhirnya ia jatuh dalam praktik korupsi, pencucian uang, hingga kejahatan lain seperti illegal logging.
Adegan klimaksnya gamblang: operasi tangkap tangan. Tidak ada metafora yang disembunyikan. Penangkapan itu menjadi titik runtuh—bukan hanya bagi tokoh utama, tetapi juga bagi keluarga, organisasi, dan partai politik yang ikut tercoreng.
“OTT itu bukan sekadar penangkapan, tetapi simbol runtuhnya moral dan harapan yang dulu dibangun tinggi,” kata Ki Hangno.
Ki Hangno seperti ingin mengatakan bahwa tragedi ini bukan kebetulan, melainkan pola. Sebuah siklus yang terus berulang dalam sistem politik yang belum sepenuhnya sehat.
Usai pertunjukan, diskusi menghadirkan Bagus Satata Gama dan Tri Heru Wardaya, dipandu Pamudji Raharja.
Tri Heru Wardaya mengurai bagaimana seorang aktivis bisa bertransformasi. Dari turun ke lapangan membela rakyat—mengadvokasi buruh, kaum tergusur, dan kelompok marjinal—hingga masuk ke fase organisasional yang menuntut jaringan kuat.
“Di titik itulah ujian dimulai. Ketika masuk ke dalam sistem, apakah ia mampu tetap menjaga idealisme atau justru larut dalam kompromi kekuasaan,” ujar Tri Heru Wardaya.
Sementara itu, Bagus Satata Gama menilai pertunjukan ini masih kuat membawa napas moralitas klasik.
“Wayang kontemporer seharusnya berani melampaui moralitas hitam-putih, masuk ke wilayah yang lebih abstrak bahkan absurd agar terasa lebih segar secara artistik,” katanya.
Selain pentas dan diskusi, acara juga diramaikan workshop wayang rumput mendong yang dipandu Jantan Putra Bangsa.









