Ratusan Warga dan Akademisi Kampanyekan Budaya Minum Jamu di UGM
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA — Semangat pelestarian budaya sekaligus kampanye hidup sehat mewarnai peringatan Hari Jamu Nasional 27 Mei yang digelar di depan Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (25/5/2026). Ratusan peserta dari berbagai kalangan mengikuti gerakan minum jamu bersama sebagai simbol penguatan kembali konsumsi jamu di tengah masyarakat modern.
Kegiatan tersebut melibatkan akademisi, praktisi kesehatan, komunitas budaya, pelaku industri jamu, hingga tamu dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Suasana halaman Graha Sabha Pramana tampak meriah ketika peserta secara serentak mengangkat gelas jamu sebagai bentuk ajakan menerapkan pola hidup sehat berbasis kearifan lokal Indonesia.
Gerakan ini digagas Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta bersama sejumlah pihak dengan tujuan memperluas kesadaran masyarakat terhadap manfaat jamu, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan secara preventif.
Ketua Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, I Nyoman Kertia, menilai jamu memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk membantu menekan persoalan stunting yang masih menjadi tantangan nasional.
“Mengatasi stunting tidak bisa hanya dengan obat-obatan kimia. Jamu yang dikemas modern, enak, dan disukai anak muda bisa menjadi solusi,” katanya, Senin, 25 Mei 2025.
Ia menjelaskan angka stunting di Indonesia masih berada di kisaran 19,8 persen dengan sekitar 4 juta balita terdampak. Menurutnya, pendekatan kesehatan berbasis bahan alami dan pola hidup sehat perlu terus diperkuat agar upaya pencegahan dapat berjalan lebih optimal.
Selain itu, Kertia menekankan bahwa peran jamu tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga menjaga kebugaran dan produktivitas masyarakat di tengah meningkatnya penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan kanker.
“Jamu hadir untuk menjaga produktivitas dan kebugaran masyarakat, bukan sekadar mengobati,” tegasnya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi kekayaan hayati Indonesia yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan bioekstrak terbesar di dunia, namun masih bergantung pada impor bahan baku obat hingga sekitar 94 persen.
“Jamu bisa menjadi jalan menuju kemandirian kesehatan sekaligus meningkatkan ekonomi dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Dewan Jamu Indonesia turut mendorong agar produk jamu yang telah terbukti aman dan memenuhi standar dapat masuk dalam layanan BPJS Kesehatan. Gagasan itu dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengobatan dan pencegahan berbasis herbal.
Dukungan terhadap pengembangan jamu juga datang dari kalangan akademisi. Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menegaskan komitmen kampus dalam memperkuat penelitian dan inovasi jamu sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa biodiversitas, geodiversitas, dan keragaman budaya yang dapat menjadi fondasi pengembangan ekosistem jamu nasional secara berkelanjutan.
“Penelitian jamu di UGM tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Ini potensi luar biasa yang harus terus dipromosikan,” ujarnya.
Danang menyebut berbagai fakultas di UGM telah aktif melakukan riset terkait jamu dari berbagai perspektif, mulai dari farmasi, kesehatan, pertanian, hingga budaya. Sejumlah inovasi produk herbal juga telah dihasilkan sebagai bagian dari penguatan industri jamu modern di Indonesia.
Sementara itu, BRAy Atika Suryodilogo, istri Paku Alam X, turut mengapresiasi gerakan minum jamu bersama yang dinilainya penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan preventif.
“Jamu bukan sesuatu yang membuat kita sakit, tetapi justru menjaga dan meningkatkan kesehatan kita. Jika jamu Indonesia bisa mendunia, manfaatnya akan sangat besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” katanya.
Peringatan Hari Jamu Nasional tahun ini kemudian ditutup dengan ajakan mempererat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat guna memperkuat posisi jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya nusantara.









