Beranda Serba-Serbi Dewan Jamu dan UGM Perkuat Gerakan Herbal Nusantara untuk Kesehatan Masyarakat
Serba-Serbi

Dewan Jamu dan UGM Perkuat Gerakan Herbal Nusantara untuk Kesehatan Masyarakat

Marknews.id, Yogyakarta – Upaya mengangkat jamu sebagai bagian dari solusi kesehatan nasional terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Dalam sebuah forum yang mempertemukan unsur pemerintah daerah, akademisi, organisasi profesi kesehatan, komunitas budaya, hingga pelaku pariwisata, Dewan Jamu Indonesia bersama kalangan perguruan tinggi menegaskan pentingnya pengembangan jamu sebagai warisan budaya sekaligus instrumen kesehatan masyarakat modern.

Pertemuan tersebut dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Agenda itu menjadi ruang diskusi mengenai penguatan peran jamu di tengah tantangan kesehatan nasional, termasuk persoalan stunting dan ketergantungan bahan baku obat impor.

Ketua Dewan Jamu Indonesia dalam sambutannya menegaskan bahwa jamu memiliki nilai strategis yang tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga masa depan kesehatan bangsa.

“Kalau saya bilang Jamu Jogja, jawabannya istimewa. Kalau saya bilang Jamu Indonesia, jawabannya mendunia,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Ia menilai jamu harus diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat, bukan semata pengobatan alternatif. Menurutnya, pendekatan kesehatan berbasis herbal dapat berjalan berdampingan dengan pengobatan modern.

Soroti Angka Stunting Nasional

Dalam forum tersebut, persoalan stunting menjadi salah satu topik utama yang dibahas. Ketua Dewan Jamu Indonesia menyebut angka stunting di Indonesia masih berada pada level yang memprihatinkan.

“Mengatasi stunting tidak bisa hanya dengan obat-obatan kimia. Jamu yang dikemas modern, enak, dan disukai anak muda bisa menjadi solusi,” katanya.

Ia menyebut inovasi pengemasan dan pengembangan produk herbal menjadi tantangan penting agar jamu semakin diterima generasi muda. Dengan pendekatan modern, jamu diharapkan tidak lagi dipandang sebagai produk tradisional yang terbatas pada kalangan tertentu.

Selain itu, ia juga mengingatkan kembali pentingnya implementasi Peraturan Gubernur DIY Nomor 44 Tahun 2017 tentang Yogyakarta Sehat dan Lestari. Dalam konsep tersebut, nilai kesehatan masyarakat tidak hanya dilihat dari aspek medis, tetapi juga lingkungan, budaya, dan kualitas hidup masyarakat.

“Jogja dikenal sebagai kota ramah. Budaya saling membantu dan peduli sesama harus terus dijaga, termasuk melalui pemanfaatan jamu,” ujarnya.

Jamu Dipandang sebagai Upaya Pencegahan Penyakit

Dewan Jamu Indonesia juga menekankan bahwa peran jamu tidak hanya bersifat kuratif, melainkan lebih pada langkah preventif untuk menjaga daya tahan dan produktivitas masyarakat.

“Stroke, jantung, dan kanker adalah tiga penyebab kematian terbesar. Jamu hadir untuk menjaga produktivitas dan kebugaran masyarakat, bukan sekadar mengobati,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan jamu, herbal terstandar, dan obat modern seharusnya saling melengkapi dalam sistem kesehatan nasional.

Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan industri herbal nasional karena kekayaan biodiversitas yang melimpah. Namun demikian, ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi persoalan serius.

“Mengapa kita tidak memanfaatkan kekayaan alam sendiri? Jamu bisa menjadi jalan menuju kemandirian kesehatan sekaligus meningkatkan ekonomi dan menjaga lingkungan,” tegasnya.

Sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan, Dewan Jamu Indonesia juga mendorong agar jamu dapat masuk dalam layanan BPJS Kesehatan apabila telah memenuhi standar keamanan dan manfaat.

“Jika terbukti aman, jamu harus bisa mendampingi obat standar. Dengan begitu, masyarakat punya pilihan yang lebih sehat dan terjangkau,” katanya.

UGM Perkuat Riset dan Pengembangan Jamu

Dalam kesempatan yang sama, kalangan akademisi turut menegaskan komitmen pengembangan riset jamu berbasis ilmiah. Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama Dr. Danang Sri Hadmoko menyampaikan bahwa jamu merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia yang perlu terus dikembangkan melalui penelitian lintas disiplin.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan besar berupa biodiversitas, geodiversitas, dan keragaman budaya yang menjadi fondasi utama pengembangan ekosistem jamu nasional.

“Indonesia memiliki tiga kekayaan luar biasa: biodiversitas, geodiversitas, dan keragaman budaya. Kombinasi ini menjadi fondasi ekosistem jamu di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai fakultas di Universitas Gadjah Mada telah terlibat dalam penelitian jamu dari beragam perspektif. Fakultas Farmasi disebut telah mengembangkan produk herbal hingga menghadirkan kafe jamu, sementara fakultas lain mengkaji aspek pertanian, kesehatan, sosial, dan budaya.

“Penelitian jamu di UGM tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Ini adalah potensi luar biasa yang harus terus dipromosikan,” tambahnya.

UGM juga menyoroti pentingnya keberlanjutan bahan baku dan standardisasi produksi agar industri jamu Indonesia mampu bersaing di tingkat global.

“Industri jamu besar di Indonesia sudah menerapkan standar tinggi setara perusahaan farmasi. Ini membuktikan bahwa jamu bisa bersaing di tingkat global,” jelasnya.

Selain penguatan riset, UGM mendorong adanya advokasi kebijakan agar jamu memperoleh posisi lebih kuat dalam sistem layanan kesehatan nasional.

“Tantangan kita adalah bagaimana jamu tidak hanya menjadi pendamping, tetapi bisa diresepkan dan diakui sebagai bagian dari pengobatan,” tegasnya.

Dorongan Gerakan Minum Jamu

Dukungan terhadap gerakan konsumsi jamu juga datang dari kalangan budaya dan keluarga keraton. BRAy Atika Suryodilogo menyambut positif gerakan minum jamu bersama yang digelar dalam peringatan Hari Jamu.

“Saya sangat senang dengan diadakannya gerakan minum jamu ini. Seperti yang disampaikan Prof. Kertia, jamu bukanlah sesuatu yang membuat kita sakit, melainkan justru menjaga dan meningkatkan kesehatan kita,” ujarnya.

Ia menilai jamu memiliki fungsi penting sebagai langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan masyarakat.

“Jamu tidak hanya berfungsi sebagai obat, tetapi juga sebagai upaya preventif untuk menjaga kesehatan. Itulah yang paling penting,” katanya.

Menurutnya, apabila jamu Indonesia mampu berkembang hingga tingkat internasional, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat.

“Jika jamu dari Indonesia bisa mendunia, tentu manfaatnya akan sangat besar. Tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga berdampak positif secara sosial dan ekonomi,” pungkasnya.

Sebelumnya

Ratusan Warga dan Akademisi Kampanyekan Budaya Minum Jamu di UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement