Beranda Berita Utama KAMPUS PERJUANGAN, KAMPUS KERAKYATAN UGM
Berita Utama

KAMPUS PERJUANGAN, KAMPUS KERAKYATAN UGM

Oleh : Pak Wali, pengamat sosial dan budaya

Marknews.id – Kawasan ini, juga bangunan yang ada bisa jadi “ruang belajar” bersama bagaimana “menghidupkan ruang” dari kawasan yang dikenal sebagai “Bulaksumur” hingga ada bangunan yang dinamai Balairung, ruangan Balai Senat dan seluruh warga dunia mengenal apa itu Universitas Gadjah Mada.

Sekarang, ndak ada lagi plang atas izin petugas begitu karena sudah ada alat alat petugas alias teknologi mesin parkir yang dilengkapi sensor untuk mengenali nomor kendaraan yang keluar masuk. Tentu saja ada izin khusus terutama guna membatasi kendaraan yang bisa keluar masuk.

Kawasan yang “sangat ramah bagi pejalan kaki” juga kendaraan non motor, dirancang guna tempat belajar mahasiswa UGM di masa awal berdirinya Republik Indonesia. Ada banyak tokoh perintis yang boleh jadi hari hari ini, tak bergaung lagi namanya.
Sebab memang “sepi” dari obrolan soal apa saja yang dilakukan.

Saat NITILAKU 2025, kawasan yang kini dikenal sebagai Rektorat UGM ini riuh ramai oleh alumni yang ikuti kirab budaya. Peserta yang napak tilas perjalanan kehadiran kampus perjuangan, Universitas Gadjah Mada. Sebuah format event, yang kini terasa lebih menjadi pawai, kirab, aktifitas budaya yang ekspresif, meriah dan tentu saja terasa lebih menghibur.

Alumni yang hadir tampil bergantian dengan ekspresi masing-masing, sesuai asal, minat dan kegiatan masing-masing juga unit-unit kerja yang ada di UGM. Semua yang pernah belajar, apalagi terhubung dengan romansa masa lalu hadir kembali dalam percakapan, pertemuan dan tentu saja yang kini populer bernyanyi hingga berfoto bersama untuk oleh-oleh juga membuat moment bersejarah.

Tahun ini, yang berbeda adalah tidak ada lagi wayangan di Balairung UGM, lakon-nya Rajamala Ruwat dengan gabungan wayang kulit gaya Jogja dan Solo dalam satu panggung, wayangan berpindah panggung ke Joglo GIK yang dulu dikenal sebagai gelanggang mahasiswa. Rakernas dan kegiatan ilmiah digelar dalam memperingati rangkaian Dies Natalis UGM ke-76. Termasuk menampilkan alumni, kepala daerah baik bupati, wakilnya ataupun walikota yang bicara soal fiskal daerah dan siasat tata kelolanya.

Ada paradoks yang ditemui dalam merespon peristiwa bersejarah dalam kehidupan manusia, bisa dengan cara sederhana ataupun dengan hal-hal yang memorable. Jadi ingat obrolan bersama, di pelataran Balairung saat bersandar di antara tiang – tiang kokoh penopang bangunan.

“Ini kawasan namanya Bulaksumur, dulu katanya kawasan ini sepi atau bulak yang ada sumurnya. Nang ndi sih, sumur di tengah-tengah mbulak? Lalu jadi Bulaksumur?”

Pertanyaan remeh temeh hari ini, yang tentu saja boleh jadi bawa tawa. “Oh, iya. Nang ndi kui yo?”

Sekilas yang kita dapat jawabannya, adalah pameran NITILAKU di GIK UGM yang memberikan deretan sejarah dengan foto-foto bagaimana perjalanan kampus kerakyatan ini. Deskripsi singkat, sejarah dan siapa saja sosok sosok yang berperan besar membangun nilai-nilai Universitas Gadjah Mada dihadirkan sebagai institusi pendidikan tinggi sebagai tempat belajar mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, kalau kini juga dari beragam penjuru dunia.

Soal pembelajaran, ada dialog menarik saat limbukan kala lakon Rajamala Ruwat digelar. Sang dalang, drg Suryono bertanya ke salah satu sinden yang kuliah di filsafat. Di dalam obrolan ringan, gojekan ada pertanyaan umum kenapa tho belajar filsafat?

“Pak dalang mau jawaban panjang atau singkat? Kalau panjang, saya tanya dosen dulu.. ” yang tentu saja hadirkan tawa.

Di usia 76 tahun perjalanan UGM, ada perubahan fisik yang sangat nyata. Bangunan bertingkat dengan arsitektur modern lah yang menonjol terasa. Beberapa tahun terakhir, pembangunan fisik ke atas, temasuk untuk asrama mahasiswa lah yang dikerjakan. Ada juga perubahan soal batas antar fakultas, yang dulu berpagar kini tidak ada lagi.

Iya, tidak ada lagi pembatas pagar antar fakultas tapi sebagai penanda wilayah, kesan “jarak kesenjangan” dengan lingkungan kampung sekitar sangat terasa kalau berkeliling. Oo, ini masih kawasan kampus, ini sudah masuk Karangmalang, masuk Karangwuni misalnya.

Mana itu kampus, mana kawasan kampung bisa dengan mudah dikenali, termasuk kalau mau parkir, mau olahraga ataupun mau kuliner-an.

Menapaki lagi cerita pepohonan di kampus perjuangan dan kampus kerakyatan jika bisa bercerita tentu akan lebih banyak narasi pengetahuan yang hadir kembali.

Berjumpa lagi dengan dosen, guru besar, guru bangsa yang masih turut aktif bersama dalam meriahnya Nitilaku di halaman Balairung UGM, bernyanyi bersama iringan musik angklung dharma wanita UGM, bertegur sapa dengan rekan, teman kuliah juga karyawan kampus, bersepeda bersama, lari untuk berbagi sampai berkelompok untuk ingatkan pentingnya hadirkan sikap inklusif, adalah oleh oleh akhir tahun 2025 ini.

#connected
#isupublik
#kilasbalik
#universitasgadjahmada
#KAGAMA
#UGM
#Bulaksumur
#Balairung
#GIKUGM

Sebelumnya

UGM Ingatkan Kebijakan Huntara–Huntap Pascabencana Sumatra Tak Boleh Abaikan Risiko Berulang

Selanjutnya

InJourney Airports Siagakan 37 Bandara Hadapi Lonjakan Penumpang Nataru 2025/2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement