Beranda Berita Utama Festival Film JAFF 2025 Resmi Dimulai, Tekankan Pentingnya Strategi Arsip Nasional
Berita Utama

Festival Film JAFF 2025 Resmi Dimulai, Tekankan Pentingnya Strategi Arsip Nasional

Gambar : Liputan6

Marknews.id – Yogyakarta membuka panggung bagi salah satu festival film paling berpengaruh di kawasan dengan dimulainya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada Jumat malam (29/11). Di usia dua dekade, gelaran tahun ini hadir dengan tema besar Transfiguration, sebuah gagasan yang merangkum perjalanan panjang sinema Asia sekaligus tantangan yang harus dihadapi industri ke depan.

Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, menyebut tema tersebut lahir dari refleksi panjang perjalanan festival sejak pertama kali digelar. “Setelah dua puluh tahun, JAFF bukan hanya tentang penayangan film, tapi tentang evolusi yang dialami oleh para sineas, audiens, dan ekosistem industri itu sendiri. Tema ini mengajak kita untuk merenung: sejauh mana sinema Asia telah berubah, dan tantangan apa yang harus kita hadapi ke depan,” ujar Ifa Isfansyah dalam konferensi pers pembukaan.

Perayaan tahun ini juga menghadirkan dimensi baru. JAFF ke-20 tidak sekadar menjadi panggung apresiasi film, tetapi turut mengambil sikap terhadap isu strategis terkait pelestarian arsip. Dalam pidato pembukaannya, pihak festival menegaskan urgensi Strategi Nasional Arsip Film, menyusul banyaknya karya penting yang terancam hilang karena minimnya sistem pengarsipan yang memadai.

Pengamat film yang juga menjabat sebagai Dewan Kurator JAFF, Budi Irawanto, menyoroti problem ini secara gamblang. “Film adalah dokumen sejarah, bukan sekadar hiburan. Kami melihat ironi, di mana kita merayakan transformasi sinema, namun arsip masa lalu kita terancam punah. Oleh karena itu, melalui ‘Transfiguration’, kami mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera memprioritaskan arsip sebagai harta karun budaya yang tak ternilai,” kata Budi Irawanto.

Selama delapan hari penyelenggaraan, mulai 29 November hingga 6 Desember 2025, JAFF menayangkan 227 film dari 43 negara Asia-Pasifik. Rentang karya yang luas ini memperlihatkan bagaimana ekosistem sinema di kawasan terus berkembang. Pembukaan festival berlangsung dengan pemutaran film klasik “Opera Jawa” (2006) karya Garin Nugroho dalam format 35mm, menciptakan jembatan nostalgia dengan sejarah pembukaan JAFF pertama.

Di luar penayangan film, industri kreatif juga mendapatkan ruang melalui JAFF Market 2025. Platform ini mempertemukan kreator Intellectual Property (IP) lokal — termasuk komikus, novelis, hingga pengembang gim — dengan produser dan investor internasional. “Kami ingin JAFF tidak hanya menjadi etalase, tetapi juga mesin bisnis yang menghubungkan potensi kreatif Indonesia dengan pasar global, menjadikannya festival yang relevan secara budaya dan ekonomi,” tambah Ifa Isfansyah.

Dengan kombinasi refleksi sejarah, perhatian pada pelestarian budaya, serta dorongan untuk menguatkan industri melalui pemanfaatan IP, JAFF 2025 menegaskan posisinya sebagai festival yang tidak hanya merayakan pencapaian, tetapi juga menyiapkan arah baru bagi sinema regional. Tema Transfiguration menjadi simbol transformasi yang lebih besar, menandai babak baru bagi perkembangan sinema Asia Tenggara.

Sebelumnya

Tulisan Kandel Alus

Selanjutnya

Dosa Ekologis di Hulu DAS, Akar Masalah Banjir Bandang Sumatra 2025 yang Harus Diwaspadai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement