Dosa Ekologis di Hulu DAS, Akar Masalah Banjir Bandang Sumatra 2025 yang Harus Diwaspadai
Marknews.id – Banjir bandang yang menghantam Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada penghujung November 2025 menjadi peringatan keras mengenai rapuhnya sistem ekologis di wilayah tersebut. Hujan ekstrem memang memicu bencana, namun faktor paling menentukan justru berada di kawasan hulu yang kian terdegradasi akibat aktivitas manusia.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan lebih dari 2.700 kejadian hidrometeorologi terjadi sepanjang Januari–November 2025. Peristiwa akhir November menjadi yang paling mematikan dengan korban jiwa menembus ratusan dan merusak ribuan rumah, jembatan, serta fasilitas publik. Ketiga provinsi terdampak pun langsung menetapkan status tanggap darurat selama dua pekan.
Kerusakan Hutan Hulu, Sumber Kerentanan Utama
Ahli hidrologi menegaskan bahwa ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah pengendali alami siklus air. Vegetasi hutan berfungsi menahan curah hujan melalui intersepsi, meningkatkan serapan tanah melalui infiltrasi, dan mengatur penguapan lewat evapotranspirasi. Di kawasan tropis, hutan mampu menahan hingga 35% air hujan di lapisan tajuk dan memasukkan lebih dari setengah volume hujan ke tanah.
Ketika tutupan hutan hilang, seluruh mekanisme alami tersebut ikut runtuh. Tanah kehilangan porositas, limpasan meningkat drastis, dan erosi berlangsung tanpa kendali. Kondisi ekstrem seperti hujan 300 mm per hari dapat dengan cepat menciptakan longsor besar yang menutup badan sungai, memicu bendungan alami, kemudian jebol sebagai banjir bandang.
Inilah gambaran situasi di banyak kawasan hulu Sumatra pada 2025: hutan tergerus, DAS kehilangan fungsi, dan bencana menjadi konsekuensi.
Sumatra dalam Tekanan: Meluasnya Deforestasi Hulu
Kerusakan lingkungan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah berlangsung lama. Sejumlah data memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan:
Aceh
- Tutupan hutan 2020 masih sekitar 59%.
- Namun kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan sejak 1990.
- Perambahan, pembukaan kebun, dan illegal logging menjadi penyebab utama meningkatnya risiko banjir.
Sumatra Utara
- Tutupan hutan tersisa hanya 29% pada 2020.
- Ekosistem Batang Toru yang menjadi “benteng terakhir” semakin terdesak konsesi perusahaan dan aktivitas tambang.
- Fragmentasi habitat membuat kemampuan DAS menahan hujan semakin terbatas.
Sumatra Barat
- Masih memiliki 54% tutupan hutan pada 2020.
- Tetapi kehilangan 740 ribu hektare tutupan pohon dalam rentang 2001–2024.
- Tahun 2024 saja deforestasi mencapai 32 ribu hektare, sebagian besar di lereng Bukit Barisan yang rawan longsor.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa bencana 2025 bukanlah kejadian tunggal, melainkan konsekuensi panjang dari berkurangnya sabuk pengaman ekologis di hulu.
Cuaca Ekstrem Memicu, Deforestasi Memperparah
Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka pada akhir November 2025 menjadi pemicu hujan ekstrem. Namun tanpa kerusakan hutan, dampaknya tidak akan sedahsyat yang terjadi. Hilangnya area tangkapan air membuat sungai-sungai tidak lagi mampu menerima debit besar dalam waktu singkat.
Pendangkalan sungai akibat sedimentasi dari erosi mempersempit aliran dan memudahkan luapan. Akumulasi faktor-faktor ini menjadikan wilayah hilir berada dalam kondisi sangat rentan ketika hujan puncak musim turun.
Mitigasi yang Harus Mengutamakan Perbaikan Ekologis
Pakar menyatakan bahwa mitigasi bencana tidak cukup mengandalkan infrastruktur seperti tanggul atau normalisasi sungai. Solusi jangka panjang harus berfokus pada pemulihan ekosistem.
Beberapa langkah penting antara lain:
- Penegakan aturan tata ruang berbasis risiko bencana.
- Penghentian deforestasi di wilayah hulu kritis seperti Leuser dan Batang Toru.
- Reforestasi dan rehabilitasi lahan tangkapan air.
- Pemberdayaan masyarakat lokal dalam perlindungan hutan.
- Penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan pemerintah daerah.
- Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca secara selektif saat potensi banjir sangat tinggi.
Pendekatan ekologis dan struktural harus berjalan seiring agar sistem DAS kembali berfungsi optimal.
Momentum Perubahan: Menata Ulang Hubungan Manusia dan Alam
Tragedi banjir bandang 2025 seharusnya menjadi titik balik bagi pemerintah daerah dan pusat untuk meninjau ulang arah pembangunan di Sumatra. Ketika eksploitasi lingkungan melebihi ambang batas, alam akan memberikan reaksi dalam bentuk bencana yang lebih besar.
Melindungi hutan dan menata ruang adalah investasi keselamatan jangka panjang. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar DAS di Sumatra kembali pulih dan masyarakatnya memiliki ketangguhan menghadapi cuaca ekstrem yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Jika pembenahan dilakukan konsisten, risiko banjir bandang dapat ditekan dan generasi mendatang tidak harus menghadapi tragedi serupa.
Hatma Suryatmojo, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM









