Beranda Jogja Tempo Doeloe Dari Tape Deck Hingga VCD Player Teknologi Audio yang Tak Lagi Dikenal
Jogja Tempo Doeloe

Dari Tape Deck Hingga VCD Player Teknologi Audio yang Tak Lagi Dikenal

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – MENDENGARKAN musik atau rekaman suara (audio) lainnya dahulu banyak dinikmati oleh kalangan muda era 1970-an melalui tape recorder. Peralatan ini awalnya hanya memperdengarkan suara-suara yang oleh remaja saat itu dikenal dengan istilah mono sehingga apa yang didengar oleh telinga kiri dan kanan sama. Namun kemudian berkembang menjadi stereo yang berarti suara yang didengar oleh telinga kiri dan kanan bisa jadi berbeda. Perbedaan ini semakin terasa jika mendengarkannya dengan menggunakan earphone stereo.

Peralatan tape recorder sebagai pemutar cassette atau kaset, dari yang hanya sederhana, juga berkembang menjadi tape deck. Satu perangkat tape dengan paling tidak dua pelantang. Masing-masing pelantang ada yang bersuara bass dan ada tweeter. Sungguh memanjakan telinga untuk mendengarkan musik bahkan gamelan Jawa maupun gamelan Bali sekalipun.

Biasanya anak remaja yang berpunya menikmati alunan nyanyian melalui tape deck ini di kamarnya, volume diperdengarkan lembut dan menikmati sambil duduk atau tiduran dan membaca. Sangat jarang menikmati lagu-lagu hanya duduk tanpa aktivitas.

Tahun-tahun itu, mulai banyak remaja yang meninggalkan dipan atau tempat tidur yang tinggi. Kasur ditempatkan di lantai, bau asap rokok menyengat.

Lagu yang diperdengarkan beragam, mulai dari lagu-lagu jazz/blues gaya tahun 1950-an Nat King Cole, Luis Amstrong, Neil Sedaka atau lagu pop Elvie Presley, atau Whitney Houston atau lagu-lagu country yang dinyanyikan John Denver, Hank William, Kenny Rogers, atau bahkan mendengarkan suara bariton Charley Pride yang halus. Atau kemudian The Beetle atau Gun’s and Roses. Atau yang biasa disetel keras-keras seperti Queen, Led Zeppelin, Steve Miller, Robert Smith, Phil Collins atau lainnya.

Jarang memang anak remaja saat itu memutar lagu-lagunya Vina Panduwinata, atau lainnya. Apalagi dangdut, jarang bagi anak muda menyetelnya.

Kaset yang mereka beli biasanya C-60 yang artinya satu kaset jika diputar penuh memerlukan waktu 60 menit. Jarang yang membeli yang C-90.

Kaset bajakan? Banyak kalangan muda yang enggan membeli kaset bajakan meski era berikutnya berubah karena pilihan harga. Dahulu kaset tidak terkena cukai sehingga bisa murah. Hanya kaset metal Paul Mauriat yang tetap mahal sejak awal.

Kalangan muda saat itu menyakini dengan memutar kaset bajakan, head dan roll pada tape akan mudah rusak.

Di kamar, banyak tertata kaset di rak khusus, di dinding terpampang poster penyanyi-penyanyi yang sedang in action di panggung.

Sementara kalangan tua, memilih mendengarkan uyon-uyonnya Nyi Condrolukito, Pangkur Jenggleng-nya Basiyo, Suyatmi, dagelan Mataram, bahkan mendengarkan dagelan Banyumasan Peyang Penjol.

Selain tape deck, mulai 1980-an muncul walkman. Tape yang kecil yang dikaitkan di sabuk dan mendengarkan dengan earphone. Rajanya walkman adalah merek Aiwa. Hanya saja persoalannya, ketika bepergian dengan membawa walkman, harus pula membawa kaset. Ribet memang.

Era tape recorder cassette perlahan digusur oleh kehadiran VCD player, alat pemutar VCD maupun CD. Bisa disambungkan ke pesawat televisi untuk melihat audio-video. Atau hanya ke pelantang, untuk mendengarkan audionya saja. Kemunculan VCD disusul dengan munculnya DVD.

Secara umum dan teknis DVD menggunakan kompresi MPEG-2, sementara VCD menggunakan kompresi MPEG-1, kualitasnya mirip dengan video VHS. Kualitas VCD kira-kira setengah dari DVD.

Era tape recorder yang mulai banyak dimiliki era 1970-an perlahan-lahan digusur oleh kehadiran VCD dan DVD ini. Namun, belum selesai mencapai puncak, muncul MP3. Peralatan kecil yang juga menjadi pemutar rekaman audio. Belum sempat menikmati sudah muncul lagi MP4. Dan belum lagi menikmati sudah muncul peralatan di henpon. Lewat smartphone, bisa terkoneksi dengan berbagai situs dan bahkan langganan untuk mendengarkan lagu, menonton film dan lainnya.

Dulu peralatan yang berserak, tape, pelantang atau earphone, kamera foto, kamera video, radio, perekam audio masuk dalam satu genggaman bernama henpon pintar. Dari ukuran sak hohah menjadi segenggam.

Dari barang rowa menjadi ringkes. Paling untuk menambah kerasnya suara, akan menyambungkan henpon pintar dengan pelantang blue tooth yang ukurannya juga segenggaman.

Makin ringkas, makin berkualitas.

 

Sebelumnya

Dosa Ekologis di Hulu DAS, Akar Masalah Banjir Bandang Sumatra 2025 yang Harus Diwaspadai

Selanjutnya

KAI Daop 5 Gelar Tes Narkoba Mendadak, Seluruh Petugas ASP Dinyatakan Bersih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement