Tulisan Kandel Alus
Oleh:Agus U, jurnalis
Marknews.id – KANDEL ALUS, adalah seni menulis huruf sambung (aksara latin) untuk keperluan sehari-hari dan bukan dirancang untuk menulis indah seperti pada kaligrafi.
Istilah aksara latin ini, bukan mengacu pada jenis-jenis aksara seperti aksara Jawa (hanacaraka), aksara kanji, cyrilik dan sebagainya. Namun anak-anak yang bersekolah awal tahun 1970-an menyebut aksara latin adalah penulisan dengan model sambung huruf dengan menggunakan “Aksara Latin” bukan ditulis dengan huruf cetak atau gedrik.
Berbeda dengan anak-anak sekarang yang kebanyakan mulai bisa membaca pada awal sekolah SD, karena metode pembelajaran membacanya menggunakan cara global analistis. Pada era 1970-an atau yang lebih lama lagi, membaca huruf latin diawali dengan menghapal masing-masing karakter dan baru kemudian dirangkai.
Jadi anak harus hafal dengan ABC sampai Z huruf kapital (huruf gede) dan abc hingga z huruf kecil. Pembacaannya pun model lama, bukan a-be-ce-de-e, ef-ge hingga zet. Tetapi a-beh-se-deh-e-ef-geh hingga zet. Itupun belum pada kata yang berakhiran konsonan.
Nah, terkadang menjadi lucu karena di depan atau di atas kata yang harus dibaca terdapat gambar yang menunjukkan apa yang seharusnya.
Misalnya, di dekat gambar sendok tertulis su-ru — dieja es-u su, er-u ru — suru (sendok dalam bahasa Jawa). Nah anak yang baru belajar dan mulai meninggalkan kata suru, meski su-ru akan dibaca sendok.
Atau ada gambar seorang perempuan tua dan tertulis ni-ni atau dieja en-i ni en-i ni. Bukan dibaca nini tetapi mbah wedok. Ada yang takut “misuh” sehingga ketika ada gambar anjing dan ditulis a-su, akan dibaca guk-guk.
Menghadapi anak-anak semacam ini, guru SD akan sangat sabar meski sesekali menunjukkan “kegalakannya” dengan memukulkan kayu yang dibawanya entah itu penggaris kayu ukuran 1 meter atau tuding (bambu yang dibuat mirip joran) atau lainnya.
Siswa menyimak buku, guru mengajari dengan menulis kata-kata tersebut di papan tulis atau blabak.
Selain belajar membaca, anak-anak SD juga diajar menulis. Tentu saja di buku tulis. Dan ada pelajaran khusus menulis halus, di buku kandel alus.
Buku ini khusus untuk belajar menulis kandel alus atau yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan Menulis Halus.
Ada rumusan, aksara harus ditulis miring bukan tegak dengan kemiringan sekitar 40 derajat (kecuali sekolah-sekolah Kanisius yang biasanya mengajarkan huruf tulis sambung tegak). Aturan lainnya, menulis dengan menggunakan pensil HB, dengan ujung yang runcing, jangan terjadi kesalahan berulang sebab kertas pada buku adalah kertas merang yang mudah sobek ketika digosok dengan penghapus atau setip.
Menulisnya, ketika tarikan ke atas pensil tidak ditekan keras atau jadinya tipis dan ketika turun pensil lebih ditekan sehingga hasilnya lebih tebal.
Kepiawaian menulis huruf dengan indah ini bisa menjadi kebanggaan sekolah, sebab sering ada lomba menulis kandel alus. Biasanya pada Porseni SD.
Namun, menulis halus itu lama-lama tidak diajarkan, dan bahkan menulis sambung pun tidak lagi diajarkan dengan materi yang penuh semangat. Akibatnya, anak anak sekarang jarang yang bisa menulis dengan huruf sambung, apalagi kandel alus.
Maaf-maaf, dahulu tulisan yang jelek sering diejek sebagai ceker pitik.
Sebelum 1974, masih berlaku Ejaan Suwandi belum Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD. Ada perbedaan beberapa pengucapan ejaan atau penulisan.
Dahulu sebelum 1974, menulis cucu adalah tjutju, encik ya entjik, maju ditulisnya madju, panitia ditulis panitya. Hadir ditulis hadlir, ramadan ditulis ramadlan, rido ya ditulis ridlo. demikian seterusnya.
Saat itu C dibaca se, J dibaca ye dan Y dibaca eigrek.
Khusus untuk penulisan untuk nama orang atau nama badan hukum, masih diperbolehkan dengan menggunakan ejaan yang sebelumnya, tak hanya ejaan Suwandi tetapi ejaan van Ophuysen pun diizinkan, sehingga masih ada yang menulis namanya Tjokro Wirjono bukan Cokro Wiryono, Danoekoesoemo bukan Danukusumo.
Tapi nama tempat, tetap harus menggunakan EYD. Tjilatjap ya jadi Cilacap, Purworedjo jadi Purworejo, Djetis ya jadi Jetis. Djagalan ya jadi Jagalan.
Kedua petinggi Yogyakarta, juga kemudian menggunakan EYD untuk menuliskan namanya, KGPAA Paku Alam VIII bukan Pakoe Alam, Hamengku Buwono bukan Hamengkoe Boewono.
Sedangkan tulisan wartawan yang disebut stenografi sudah jarang wartawan yang menggunakan sejak 1970-an. Baik stenografi yang berlaku internasional maupun stenografi khas Indonesia yang diciptakan J. Paat/Sabirin dan Karundeng.
Nah untuk anak-anak sekarang ternyata lebih pandai lagi mencatat dengan menggunakan henpon mereka. (****)











