Beranda Pendidikan Memperingati Hari Guru di Tengah Ironisme yang Masih Panjang, Antara Dedikasi, Kesejahteraan yang Tertatih, dan Ruang Kelas yang Kian Rumit
Pendidikan

Memperingati Hari Guru di Tengah Ironisme yang Masih Panjang, Antara Dedikasi, Kesejahteraan yang Tertatih, dan Ruang Kelas yang Kian Rumit

Ilustrasi

Selamat Hari Guru

Menjadi guru dulu merupakan profesi yang disegani. Pada masa ketika papan tulis masih hitam atau hijau dan kapur selalu menempel di baju, guru dianggap sebagai “lokomotif peradaban.” Namun di era gawai, grup WhatsApp wali murid, serta tuntutan administrasi yang terus menumpuk, profesi guru justru kerap berdiri di garis paling sunyi: dihormati dalam pidato, tetapi sering tidak dibela dalam kenyataan.

Kesejahteraan yang Masih Jauh dari Layak

Meski kebijakan pendidikan terus berkembang, persoalan kesejahteraan guru tetap timpang. Guru honorer menjadi contoh paling nyata dari ironi tersebut: tugasnya banyak, tanggung jawabnya besar, tetapi upah yang diterima sering kali tidak cukup untuk kebutuhan dasar bulanan. Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah, bahkan di beberapa daerah tidak mencapai standar UMR.

Guru dituntut untuk menjadi pengajar, pendidik, administrator, konselor, hingga panitia berbagai kegiatan sekolah. Kualitas pendidikan diharapkan meningkat, namun standar kesejahteraan masih tertinggal jauh.

Tak sedikit guru yang harus mencari pekerjaan sampingan demi menutupi kebutuhan hidup: menjadi pengemudi ojek, berdagang, berjualan online, atau mengambil pekerjaan kecil lainnya. Idealismenya harus tetap terjaga, meski kondisi ekonominya jauh dari ideal.

Gaji Tidak Sejalan dengan Beban Mental

Selain tekanan ekonomi, beban mental yang harus ditanggung guru makin berat. Ruang kelas kini dipenuhi banyak tantangan: murid yang semakin bebas, dinamika digital yang kompleks, hingga ekspektasi orang tua yang kadang berlebihan.

Ada murid yang berani melawan guru, memaki, bahkan merekam teguran untuk kemudian disebarkan ke media sosial. Reputasi seorang guru bisa runtuh hanya karena video berdurasi sepuluh detik.

Guru pun mengajar dengan rasa waspada—antara harus menegur dan takut menjadi viral.

Kenakalan Murid yang Tak Lagi “Biasa”

Kenakalan murid pada era ini berada di level berbeda. Guru kini menghadapi:

  • Kecanduan ponsel
  • Bullying digital yang tidak terlihat
  • Perkelahian yang sengaja direkam
  • Murid yang menantang guru demi konten
  • Pengaruh media sosial yang mengikis sopan santun

Guru harus mendidik sekaligus menghadapi budaya baru dengan perhatian pendek, ego tinggi, dan batas etika yang makin kabur.

Ketika Guru Berakhir di Kantor Polisi

Inilah ironi paling pahit dalam sistem pendidikan saat ini. Guru yang memberi sanksi kepada murid bisa dilaporkan ke polisi oleh orang tua.

Beberapa kasus yang sempat mencuat:

  • Guru menegur murid berkelahi, malah dituduh melakukan kekerasan
  • Guru menindak murid yang merokok, berujung laporan polisi
  • Sanksi push-up dianggap berlebihan
  • Memotong rambut murid yang melanggar aturan dianggap melampaui batas

Akibatnya, banyak guru memilih diam. Mereka menghindari risiko kriminalisasi, meski konsekuensinya disiplin sekolah merosot.

Antara Harapan dan Kenyataan

Meski ironi bertumpuk, guru tetap menjalankan perannya. Dari pedesaan hingga perkotaan, mereka hadir paling pagi dan pulang paling akhir. Mereka menjadi pendengar, pembimbing, serta penata kehidupan kecil yang tumbuh dalam diri murid-muridnya.

Mereka bertahan karena percaya bahwa mendidik adalah panggilan, bukan sekadar pekerjaan.

Selamat Hari Guru Nasional

Pada momentum 25 November 2025 ini, kita memberikan penghormatan kepada para guru—mereka yang terus berjuang meski sistem sering tidak memihak.

Selamat Hari Guru Nasional. Semoga profesi ini tidak hanya dirayakan dalam seremoni, tetapi juga dimuliakan melalui kebijakan nyata, perlindungan hukum, dan peningkatan kesejahteraan.

Penutup: Ironi yang Tak Pantas Diteruskan

Guru membutuhkan:

  • Kesejahteraan yang layak
  • Perlindungan hukum dalam menegakkan disiplin
  • Kemitraan yang sehat dengan orang tua
  • Ruang aman untuk mengajar

Jika ingin pendidikan Indonesia maju, ironi-ironi ini harus dihentikan. Tanpa guru yang kuat dan dihargai, bangsa ini kehilangan fondasi masa depan.

Nasional, 25 November 2025

Sebelumnya

Pulang Ngethoprak, Atmo Ungkoro Tak Bisa Masuk Rumah

Selanjutnya

Om Sam, Sahabat Para Wartawan Foto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement