Beranda Jogja Tempo Doeloe Pulang Ngethoprak, Atmo Ungkoro Tak Bisa Masuk Rumah
Jogja Tempo Doeloe

Pulang Ngethoprak, Atmo Ungkoro Tak Bisa Masuk Rumah

Ilustrasi

Oleh :  Agus U, jurnalis

Marknews.id – Radio sebagai salah satu media komunikasi searah pernah sangat berjaya di negeri ini, terutama di Yogyakarta. Pada tahun 1970-an, hampir setiap rumah di Yogyakarta dipastikan memiliki radio.

Booming kepemilikan pesawat radio muncul setelah industri elektronik berhasil mengembangkan transistor untuk radio. Saat itu ada dua jenis radio yang beredar di masyarakat: radio tabung yang menggunakan catu daya listrik PLN, dan radio transistor yang ditenagai baterei kering empat atau enam buah. Ada pula radio kancil yang hanya membutuhkan tiga baterei.

Bagi warga Yogyakarta, ada beberapa acara khusus yang tidak pernah mereka lewatkan. Setiap Minggu malam, ada Sandiwara Radio berbahasa Jawa di RRI Nusantara II. Senin malam, masih di RRI Nusantara II, disiarkan uyon-uyon yang diakhiri dengan Pangkur Jenggleng Basiyo. Malam Sabtu Paing ada uyon-uyon hadiluhung tingalan dalem Sri Sultan HB IX. Malam Kamis, RRI menyiarkan Kethoprak Mataram, sedangkan malam Minggu (dua minggu sekali) ada siaran langsung wayang kulit gaya Yogyakarta dari Sasana Hinggil Dwi Abad dengan dalang bergantian.

Bahkan pernah selama setahun, setiap dua minggu sekali, disiarkan wayang kulit seri Bharata Yudha, mulai dari Kresna Duta hingga Rubuhan, serta diselenggarakan nglarung wayang kulit Resi Durna dan Prabu Duryudana setelah keduanya gugur dalam episode yang berbeda.

Sandiwara Radio yang paling menarik perhatian saat itu adalah sandiwara horor berjudul Godril.

Adapun Kethoprak Mataram hampir semuanya mampu mencuri minat pendengar, termasuk seri Darpa–Kayun dan Johar Manik.
Darpa–Kayun berkisah tentang perebutan kekuasaan yang dipicu keserakahan Pangeran Darpa serta kemunculan tokoh antagonis Demang Losari.
Sementara dalam cerita Dewi Johar Manik, tokoh antagonisnya adalah Pendita Mustaki, dan dalam cerita bersumber Serat Menak muncul tokoh Patih Bestak.

Salah satu peraga Kethoprak Radio yang sangat menjiwai tokoh-tokoh antagonis, penghasut, dan penjilat adalah Atmo Ungkoro. Pernah suatu ketika, sepulang dari ngethoprak di RRI, ia tidak bisa masuk rumah karena istri dan anak-anaknya enggan membukakan pintu. Bahkan dari dalam rumah, sang istri marah-marah dan tidak mau menerima “Demang Losari”, “Pendita Mustaki”, atau “Patih Bestak” masuk ke rumah mereka.

Kejadian ini pernah diceritakan oleh komedian kondang asal Yogyakarta, Pak Basiyo dan Bu Itik. Cerita yang sama juga pernah disampaikan generasi yang lebih muda seperti Samsuri Tedjobantoro dan Lamido.

Tahun-tahun berikutnya, muncul pula cerita mengenai para tokoh antagonis yang dipukuli orang di tempat umum. Namun menurut Samsuri Tedjobantoro, pengalaman Atmo Ungkoro justru lebih menyedihkan karena keluarganya sendiri sampai membencinya.

Meski demikian, para tokoh tersebut sangat menghormati kemampuan Atmo Ungkoro dalam menjiwai setiap perannya. Bayangkan, hanya dari cerita radio dengan pemain yang duduk saat membawakan peran, mampu memunculkan rasa benci mendalam terhadap tokoh tersebut dan orang yang memerankannya. (***)

 

Sebelumnya

98 Resolution Network Gelar #WargaPeduliWarga, Tekankan Pentingnya Penegakan Hukum di Era Pemerintahan Prabowo

Selanjutnya

Memperingati Hari Guru di Tengah Ironisme yang Masih Panjang, Antara Dedikasi, Kesejahteraan yang Tertatih, dan Ruang Kelas yang Kian Rumit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement