UGM Perkuat Kolaborasi Lintas Profesi untuk Tangani Kanker secara Komprehensif
MARKNEWS.ID , YOGYAKARTA– Kanker masih menjadi momok menakutkan dalam dunia kesehatan global. Di balik kemajuan teknologi medis, kenyataan pahit tetap menghantui: angka kejadian dan kematian akibat kanker terus meningkat. Laporan GLOBOCAN 2022 yang dirilis International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan hampir 20 juta kasus baru kanker terjadi di seluruh dunia, dengan lebih dari 9,7 juta kematian. Di Indonesia, jumlah kasus baru mencapai lebih dari 400 ribu, dan lebih dari separuhnya berujung pada kematian.
Fakta ini menjadi panggilan serius bagi dunia medis untuk mencari terobosan yang lebih holistik, tidak hanya dari sisi terapi medis, tetapi juga pendekatan preventif dan dukungan psikososial. Di tengah urgensi tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan langkah konkret melalui penyelenggaraan Summer Course 2025 on Interprofessional Healthcare – Integrative Cancer Management: A Roadmap to Better Outcome, yang digelar oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Program ini menjadi ajang edukasi internasional yang menggandeng Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Psikologi UGM. Diselenggarakan pada 14–25 Juli 2025, kegiatan ini bertujuan memperkuat pendekatan kolaboratif dalam penanganan kanker, dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu kesehatan demi menciptakan dampak nyata bagi pasien dan sistem layanan kesehatan.
Summer course ini tidak hanya menghadirkan kuliah dari para pakar, namun juga menawarkan metode pembelajaran aktif seperti praktikum, role play, tugas mandiri melalui platform Learning Management System (LMS), dan kunjungan lapangan. Dengan pendekatan campuran online dan offline, kegiatan ini menyasar peningkatan kompetensi peserta dalam menangani kanker secara integratif.
Sebanyak 107 peserta dari 30 universitas ternama di dalam dan luar negeri turut ambil bagian, mulai dari mahasiswa sarjana hingga profesional. Institusi seperti Kunming Medical University, University of Amsterdam, Mahidol University, Universiti Putra Malaysia, hingga Zhejiang University turut berpartisipasi, menunjukkan bahwa isu kanker memang menuntut respons lintas negara dan lintas profesi.
Salah satu daya tarik dari program ini adalah pemaparan topik-topik yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh sisi manusiawi dalam pengelolaan kanker. Beberapa materi kuliah mencakup terapi kanker berbasis biomarker, pendekatan spiritual dalam perawatan paliatif, serta kesetaraan akses layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Hal ini menjadi penting, mengingat di Indonesia sendiri masih terdapat tantangan besar dalam pemerataan layanan kanker. Banyak wilayah terpencil yang belum memiliki akses terhadap fasilitas diagnostik maupun terapi terkini. Padahal, data global menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan yang mendukung penggunaan teknologi mutakhir dapat menurunkan angka kematian akibat kanker hingga 40 persen.
UGM melalui program ini tidak hanya ingin mencetak tenaga kesehatan unggul, tetapi juga mendorong transformasi sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berbasis bukti. Dengan mempertemukan berbagai disiplin dalam satu wadah pembelajaran, diharapkan lahir gagasan dan strategi baru untuk mengatasi kesenjangan layanan kanker di Indonesia.
Lebih dari itu, UGM juga menegaskan pentingnya pendidikan interprofesi dalam menjawab tantangan global. Pendidikan yang berkelanjutan, adaptif, dan kontekstual menjadi kunci agar para tenaga kesehatan mampu merespons kompleksitas penyakit seperti kanker secara lebih komprehensif.











