Beranda Pendidikan Riset Melon Hidroponik UGM Dorong Diversifikasi Produk dan Ketahanan Pangan
Pendidikan

Riset Melon Hidroponik UGM Dorong Diversifikasi Produk dan Ketahanan Pangan

Gambar (Arsip UGM)

Marknews.id, Yogyakarta – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Field Research Center (FRC) terus mengembangkan riset budidaya melon premium berbasis hidroponik di greenhouse. Menariknya, riset ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas buah, tetapi juga diarahkan pada pengembangan produk turunan bernilai tambah yang berpotensi mendukung ketahanan pangan nasional.

Ketua tim peneliti FRC UGM, Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., menjelaskan bahwa melon hasil riset dikembangkan menjadi berbagai olahan, mulai dari cold press juice, permen, hingga pemanfaatan limbah menjadi tepung. Inovasi tersebut dipandang sebagai langkah awal untuk mendorong kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum. “Riset di FRC UGM ini bukan hanya sekadar proses budidaya melon di greenhouse, tetapi juga pengembangan produk-produk turunan untuk meningkatkan nilai ekonomi melon dan menjawab tantangan ketahanan pangan,” kata Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., selaku ketua tim peneliti, Senin (12/1).

Pemilihan melon sebagai objek penelitian disebut memiliki dasar ilmiah dan strategis. Nabila menuturkan, melon merupakan tanaman buah yang adaptif terhadap iklim tropis dengan tingkat panas tinggi serta kebutuhan air yang relatif seimbang. Potensi tersebut kemudian dimaksimalkan melalui sistem budidaya yang terkontrol. “Kondisi agroklimat di Kulon Progo, khususnya dari intensitas cahaya dan suhu lingkungan sangat cocok untuk komoditas melon,” tuturnya.

Riset ini dilaksanakan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dinilai memiliki keunggulan geografis dan ekonomi. Selain faktor alam, kedekatan lokasi penelitian dengan Bandar Udara Internasional Yogyakarta menjadi nilai tambah tersendiri dalam membuka akses pasar, terutama dari kalangan pendatang dan wisatawan. Karakter konsumen Yogyakarta yang beragam juga memperluas peluang pemasaran produk melon premium tersebut. “Melon bisa didistribusikan dengan baik karena umur simpannya sekitar 15 hari, sehingga kami optimistis bisa menjangkau pasar Yogyakarta, Sleman, dan daerah sekitarnya,” ujarnya.

Lebih jauh, keberadaan FRC UGM di Kulon Progo juga diharapkan memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Melalui penerapan Tridharma perguruan tinggi, riset ini menjadi sarana untuk mengidentifikasi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan kelompok tani. “Dengan adanya Open Farm di FRC UGM dan pengembangan riset yang dilakukan di Kulon Progo bukan hanya sekadar ketersediaan lahan, tetapi juga dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar,” ujar Yosep.

Sebagai learning center, FRC UGM mengedepankan kolaborasi lintas disiplin dengan berbagai fakultas di lingkungan UGM, seperti Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Biologi. Kolaborasi juga dilakukan lintas program studi di Sekolah Vokasi UGM, mencakup riset pasar, penanganan pascapanen, pengembangan mesin, hingga perancangan paket wisata berbasis pertanian. “Untuk mengetahui target konsumen melon atau produk yang dikembangkan di greenhouse, kami juga melakukan riset pasar yang dikerjakan bersama salah satu prodi di Sekolah Vokasi,” jelasnya.

Ke depan, pengembangan riset melon ini ditargetkan mengarah pada penguatan kerja sama multi-helix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Upaya tersebut bahkan telah diperluas melalui kolaborasi internasional dengan mitra dari Jepang yang diinisiasi sejak 2025. Melalui jejaring kerja sama yang semakin luas, FRC UGM berharap riset yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan dan industri. “Kedepannya akan ada kolaborasi yang lebih intens dan penelitian yang lebih banyak berdasarkan masalah real yang kami hadapi di lapangan maupun di industri,” pungkasnya.

Sebelumnya

Edukasi Smart Home Masuk Lingkungan Warga, AZKO Metro Sunter Sasar Literasi Teknologi Keluarga

Selanjutnya

Indonesia Masih Hadapi Beban Kusta Tinggi, Pakar UGM Soroti Pentingnya Edukasi dan Deteksi Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement