Beranda Pendidikan Siti Mutiah Setiawati, Tegaskan Harmoni Antara Nilai dan Geopolitik dalam Politik Indonesia ke Timur Tengah
Pendidikan

Siti Mutiah Setiawati, Tegaskan Harmoni Antara Nilai dan Geopolitik dalam Politik Indonesia ke Timur Tengah

MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prof. Dr. Dra. Siti Mutiah Setiawati, M.A., menegaskan konsistensi politik luar negeri Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah yang sarat dengan nilai normatif sekaligus desakan rasionalitas geopolitik. Dalam pidatonya yang bertajuk “Konsistensi Politik Luar Negeri Indonesia Terhadap Timur Tengah: Antara Nilai Normatif dan Rasionalitas Geopolitik,” Prof. Siti menyingkap bagaimana Indonesia menjaga hubungan dekat dengan Timur Tengah meskipun secara geografis berjauhan dan berbeda budaya.

Indonesia dan Timur Tengah memiliki ikatan kuat yang berakar pada sejarah dan nilai keagamaan. Contohnya, Mesir dan Liga Arab adalah pendukung pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pasca proklamasi 1945. Bahkan, dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, Indonesia secara tegas mendukung kemerdekaan rakyat Palestina dan menggaungkan resolusi penyelesaian konflik Arab-Palestina-Israel di forum internasional.

Hubungan kultural dan keagamaan juga terlihat pada penggunaan banyak istilah politik Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, serta tradisi keberangkatan jamaah haji dan umrah yang rutin dilakukan masyarakat Indonesia. Secara ekonomi, kawasan Timur Tengah juga menjadi destination utama pekerja migran Indonesia, mengingat kekayaan yang didorong oleh sumber daya minyak bumi.

Namun, Prof. Siti menggarisbawahi bahwa konsistensi politik luar negeri Indonesia bukan semata didasarkan pada kedekatan budaya dan sentimen agama. Dalam kerangka geopolitik yang lebih luas, Indonesia harus menyeimbangkan nilai-nilai normatif seperti dukungan hak asasi manusia dan solusi dua negara untuk Palestina, dengan realitas geopolitik dan tekanan dari aktor global serta kepentingan nasional, termasuk pragmatisme dalam pengadaan teknologi pertahanan.

Mengacu pada pendekatan Great Power, Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi keterbatasan dalam menjalankan otonomi penuh kebijakan luar negeri. Pilihan kebijakan politik luar negeri pun merupakan hasil kalkulasi menghadapi dinamika kekuatan besar dunia. Oleh karena itu, orientasi politik luar negeri Indonesia merupakan refleksi dari kesadaran strategis diplomasi di tengah ketegangan kepentingan internasional.

Pidato ini membuka ruang kajian mendalam tentang bagaimana Indonesia tetap menjaga konsistensi sikap politik luar negeri terhadap konflik Timur Tengah, tanpa mengabaikan kompleksitas tantangan geopolitik global dan regional. Sikap ini sudah menjadi bagian penting dari wacana diplomasi Indonesia sejak era Presiden Soekarno dan terus relevan hingga kini.

Dengan mempertahankan prinsip perdamaian dan stabilitas kawasan, serta tetap komitmen terhadap penyelesaian konflik secara adil, Indonesia menunjukkan bahwa politik luar negeri yang konsisten dapat diraih dengan harmonisasi antara nilai normatif dan praktik rasional geopolitik. Hal ini menjadi modal penting bagi posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar sekaligus aktor strategis di kancah internasional.

Sebelumnya

Menteri Perdagangan Buka KKN UGM, Mahasiswa Didorong Majukan Ekonomi Desa

Selanjutnya

Antisipasi Lonjakan Penumpang, KAI Daop 6 Yogyakarta Tambah Satu Rangkaian Kereta Api

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement