Beranda Berita Utama Jawab Maraknya Pangan Palsu, Inovasi Dosen UGM Hadirkan Deteksi Cepat Ramah Lingkungan
Berita Utama

Jawab Maraknya Pangan Palsu, Inovasi Dosen UGM Hadirkan Deteksi Cepat Ramah Lingkungan

Gambar : Arsip UGM

Marknews.id – Yogyakarta – Isu keamanan dan keaslian pangan kian menjadi perhatian serius di Indonesia, seiring meningkatnya kasus keracunan makanan hingga peredaran produk pangan palsu, baik di pasar tradisional maupun platform digital. Tantangan utama selama ini terletak pada proses pengujian yang memakan waktu lama dan bergantung pada uji laboratorium konvensional.

Menjawab persoalan tersebut, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., menghadirkan terobosan melalui pengembangan metode deteksi cepat untuk menilai tingkat keamanan, keaslian, dan kualitas fungsional pangan. Inovasi ini memungkinkan analisis dilakukan hanya dalam hitungan menit, bahkan detik, tanpa ketergantungan pada bahan kimia berbahaya.

Riset bertajuk Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems tersebut menawarkan pendekatan baru dalam pengawasan pangan modern. Metode yang dikembangkan mengedepankan tiga aspek utama, yakni keamanan pangan, keaslian produk, serta kualitas fungsional yang berdampak langsung pada kesehatan konsumen.

Widiastuti, yang akrab disapa Widi, menjelaskan bahwa metode ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pengawasan pangan yang cepat dan presisi, sekaligus berkelanjutan. “Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya saat diwawancarai pada Kamis (21/1).

Pendekatan ramah lingkungan tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan teknik ekstraksi mutakhir seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction, yang secara signifikan mengurangi penggunaan pelarut kimia. Selain itu, proses analisis dipercepat dengan penerapan metode spektroskopi, yang memungkinkan pengujian dilakukan tanpa tahap ekstraksi panjang dan dalam beberapa kasus tidak merusak sampel.

Meski mengedepankan spektroskopi, Widi juga mengembangkan metode kromatografi berkecepatan tinggi sebagai pembanding. “Pada kromatografi konvensional, analisis bisa memakan waktu yang lama. Namun dengan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu analisis dapat dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi hanya 3 menit,” jelasnya.

Keunggulan lain dari metode ini adalah kemampuannya mendeteksi berbagai senyawa berbahaya, mulai dari mikotoksin seperti aflatoksin dan okratoksin hingga NAPZA yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan. Di sisi lain, metode ini juga mampu mengidentifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat, termasuk komponen anti-diabet dan anti-depresan pada berbagai sistem pangan.

Ruang lingkup riset yang dikembangkan Widi tidak terbatas pada satu jenis bahan pangan. “Nah, tapi di sini kan yang saya ajukan untuk Hitachi itu diverse food system, jadi tidak hanya satu tetapi beragam sistem pangan. Dan juga beragam food system yang lain seperti yang sudah saya teliti selain edible flowers. Edible flowers-nya tidak hanya bunga pisang, bunga rosella aja, tapi juga kecombrang, senggani, turi, safflower, banyak banget makanya diverse,” ungkapnya.

Pengembangan riset ini juga diperkuat dengan pemanfaatan teknologi digital. Widi mengungkapkan telah mengembangkan aplikasi berbasis website untuk analisis makroalga dan kakao. Platform tersebut memungkinkan laboratorium yang memiliki data spektroskopi untuk langsung mengunggah data dan memperoleh hasil analisis secara instan. “Nanti akan setelah diolah di web tersebut, tinggal di-upload kemudian akan mendapatkan hasil kakao yang mereka analisis itu murni atau tidak, kemudian kalau misalnya ada campuran, tahu campurannya apa dan berapa persen dicampurnya. Dan web itu bisa diakses oleh pengguna di seluruh dunia dan gratis,” pungkasnya.

Atas konsistensinya mengembangkan metode analisis pangan sejak 2012, Widiastuti Setyaningsih meraih Encouragement Award dari Hitachi Global Foundation pada pekan lalu. Penghargaan internasional tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam menghadirkan metode pengujian pangan yang cepat, akurat, dan aplikatif.

Widi berharap inovasi yang dikembangkannya dapat diadopsi oleh industri pangan serta lembaga pemerintah seperti BPOM, Bea Cukai, dan kementerian terkait. Menurutnya, kebijakan keamanan pangan idealnya disusun berdasarkan data ilmiah yang kuat. “Harapannya research saya tidak hanya sampai di lab saja, tapi bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.

Sebelumnya

  تصدّع التحالف السعودي-الإماراتي: اليمن يعود ساحةً لصراع النفوذ

Selanjutnya

Membersihkan Busi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement