Membersihkan Busi
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – SEPEDA motor era 1980-an atau yang sebelumnya, memiliki kelemahan yang khas dan jamak terjadi. Busi kotor, ngupil, dan macet. Matinya mesin sepeda motor yang disebabkan oleh busi kotor ini sangat khas dan mudah dipahami. Dan siapa pun pengguna sepeda motor saat itu pasti sangat paham.
Mau pakai busi (spark plug) merek apa pun, pasti akan mengalami kondisi seperti ini.
Dan menghadapi hal semacam ini, para pengguna sepeda motor pun hapal serta melengkapi diri dengan peralatan yang khusus untuk menangani soal busi. Yakni kunci busi, potongan kecil kertas ampelas lembut, peniti, gombal/kain pembersih, dan beberapa busi lama yang masih disimpan.
Barang-barang ini biasanya dimasukkan dalam kaos kaki yang sudah tidak terpakai sebagai wadah. Ingat sepeda motor lama, tidak memiliki bagasi yang besar seperti sepeda motor sekarang. Hanya Vespa atau Bajaj sekuter saja yang memiliki bagasi besar.
Di mana pun menghadapi situasi seperti ini, pasti pengguna sepeda motor akan menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan kemudian melepas busi. Dibersihkan dengan cara bagian busi dibersihkan dengan dicongkel menggunakan peniti, kemudian bagian elektroda digosok dengan ampelas, dan biasanya pada bagian elektroda samping sesekali dirapatkan dengan elektroda tengah dengan cara dipukul pela menggunakan obeng yang digunakan pula sebagai pengungkit pada kunci busi.
Selesai membersihkan, akan dicoba dengan menyalakan busi. Nyala api busi dipandang cukup baik, busi kembali dipasang dan motor dihidupkan. Biasanya dua atau tiga genjotan kick starter mesin akan kembali nyala normal dan siap kembali mengaspal.
Jongkok membersihkan busi, ternyata sering digunakan oleh beberapa play boy saat itu. Jongkok, pura-pura membersihkan busi, badan di sebelah kiri sepeda motor, memperhatikan lalu lintas.
Apa yang disasar? Wanita cantik yang sedang naik becak. Tak perduli itu mak-mak dengan kain jaik atau nak-nak yang mengenakan rok span, dua atau tiga kali goda kalau ada respon, pasti akan berlanjut dengan perkenalan dan langkah lain selanjutnya.
Kalau tak ada respon, akan mencari sasaran lain. Tempatnya juga tidak sama, awal memperbaiki busi dan lanjutannya duduk di atas jok motor menunggu sasarannya.
Perilaku semacam ini lama-lama hilang, apalagi ponsel semakin berkembang. SMS meski harus membayar Rp250 per per pengiriman maksimal 160 karakter tetap pula menjadi sarana kemudian berkembang dengan blackberry massanger (BBM) dan kemudian aplikasi BBM bisa diunduh untuk dioperasikan di ponsel android, komunikasi pertemanan makin beragam makin hilanglah ulah semacam itu.
Instagram, TikTok, Snack Video, X, Zangi, olifant dan sebagainya menjadi sarana pantau-pantau orang tak dikenal.
“Izinkan aku mengagumi kecantikanmu….. Keinginan ku tetap akan terpendam, takkan berani aku menyatakan kalau aku mencintaimu….”
dan kalimat-kalimat menggoda lainnya yang biasa membuka pertemanan yang ampuh.
Apalagi, sepeda motor sekarang jarang yang mengalami mati busi. Peran mengganti busi, digantikan oleh personal cyber patrol.
Pernah melakukan? (***)









