Beranda Berita Utama Langkah Santri Menghela Bakti: Kala Alumni Pesantren “Menjemput” Jumat di Bumi Tamiang
Berita Utama

Langkah Santri Menghela Bakti: Kala Alumni Pesantren “Menjemput” Jumat di Bumi Tamiang

MARKNEWS.ID, ACEH TAMIANG – Sejarah telah mengukir catatan emas bahwa santri dan pesantren tidak pernah absen saat Ibu Pertiwi memanggil. Spirit pengabdian itu tervisualisasi nyata di Desa Sulum Jaya, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Di bawah temaram lampu darurat hingga Kamis (25/12) malam, para alumni Pondok Modern Gontor yang tergabung dalam IKPM Sumut, KOMAS, serta alumni berbagai pesantren lainnya membuktikan bahwa khidmat seorang santri melampaui sekat dinding pesantren dan retorika mimbar dakwah.

Misi kemanusiaan tahap ke-4 ini bukan sekadar distribusi logistik, melainkan sebuah ikhtiar “restorasi spiritual”. Bagi kaum santri, masjid adalah jantung kehidupan dan pusat peradaban. Maka, membasuh lantai masjid dari kerak lumpur banjir bukan sekadar urusan kebersihan fisik, melainkan upaya menyucikan kembali martabat warga yang sempat lumpuh diterjang bencana.

Khidmat Santri: Dari Mesin Air Hingga Panel Surya

Target tim relawan sangat spesifik dan emosional: Masjid Jami’ Nurul Iman Desa Sulum Jaya harus kembali suci agar dapat menggelar ibadah sholat Jumat perdana pada 26 Desember 2025. Perjuangan para relawan yang berjibaku dengan mesin air dan peralatan pembersih hingga larut malam adalah manifestasi nyata dari doktrin khidmah (pelayanan) yang mendarah daging di pesantren.

Tak hanya mengandalkan otot, kecerdasan adaptif santri pun terlihat saat mereka memasang panel solar. Teknologi ini menjadi solusi vital agar cahaya tetap berpijar di lokasi bencana dan rumah Allah, di tengah akses listrik publik yang belum sepenuhnya pulih. Karpet masjid baru dibentangkan, perlengkapan sholat disiapkan, dan mushaf Al-Qur’an dibagikan—sebuah paket lengkap untuk menghidupkan kembali denyut nadi spiritualitas warga.

Sinergi Lintas Lini: Kekuatan Jaringan Alumni

Gerakan ini menjadi potret betapa dahsyatnya kekuatan jaringan alumni pesantren saat bergerak dalam satu saf. Dana dan logistik yang terhimpun merupakan buah dari sinergi lintas sektoral. Mulai dari alumni Gontor lintas angkatan, KOMAS (Komunitas Masyarakat Santri), hingga sokongan moril dan materil dari Warisan Budaya Indonesia (WBI) serta para praktisi kesehatan dari RSCM dan ILUNI.

Lini usaha lokal seperti Toko Busana Zulaikha Binjai turut mengambil peran, sementara energi di lapangan semakin berlipat ganda berkat dukungan para santri dan pengurus Pondok Pesantren Al Kaffah serta Pondok Pesantren Mawaridussalam. Di Bumi Tamiang, mereka semua melebur dalam satu identitas tunggal: pelayan masyarakat.

Kemandirian di Balik Peralatan Masak

Menyadari bahwa warga tidak boleh selamanya terjebak dalam ketergantungan pada dapur umum, tim menyalurkan perlengkapan masak untuk 220 Kepala Keluarga. Ditambah dengan bantuan alat-alat pertukangan, pesan yang ingin disampaikan kaum santri ini sangat tegas: keberdayaan.

“Kami hadir untuk membantu masyarakat berdiri kembali di atas kaki sendiri,” tegas Ust. Dede Al Haris, Koordinator Lapangan Bantuan Tahap ke-4.

Hal senada ditegaskan oleh ust. Abdullah Sani dari IKPM Gontor cab. Sumut. Ia menyebut bahwa aksi ini adalah laboratorium nyata dari nilai-nilai yang mereka pelajari di pesantren.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata ajaran pesantren—jiwa keikhlasan, kemandirian, dan ukhuwah—yang harus ditularkan kepada masyarakat luas. Program relawan IKPM Gontor Sumut dan KOMAS di daerah bencana adalah cerminan dari jati diri santri yang sebenarnya. Kami datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai saudara yang merasakan luka yang sama,” pungkasnya.

Jumat ini, saat kening bersujud di atas karpet bersih Masjid Jami’ Nurul Iman, di situlah khidmat santri menemukan muaranya. Banjir mungkin telah menghanyutkan harta benda, namun ia takkan mampu melarutkan persaudaraan yang telah dipupuk dalam rahim nilai-nilai pesantren.

Sekretaris Jenderal KOMAS Baharuddin Harahap menjelaskan aksi relawan IKPM Gontor dan KOMAS cab. Sumut ini adalah bentuk pesan yang nyata dari santri kepada semua pihak agar memahami makna lirik lagu Indonesia Raya:

“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya.”

 

Sebelumnya

Eks Bupati Sleman Sri Purnomo Diadili dalam Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Selanjutnya

KAI Daop 6 Catat 605 Ribu Penumpang Selama 10 Hari Angkutan Nataru 2025/2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement