Orang Jogja Mulai Meninggalkan Orientasi Arah Mata Angin
Marknews.id – Sejak zaman dahulu, orang Jawa, khususnya masyarakat Jogja, jika ditanya soal detail alamat, tidak hanya menyebut alamat administratif seperti nama kampung, RT, nomor rumah, atau nama jalan. Mereka juga kerap menyertakan arah mata angin sebagai penunjuk lokasi.
Penggunaan orientasi arah mata angin ini salah satunya dapat ditemukan dalam tembang macapat jenis Pucung:
“Bapak pucung, pasar mlathi kidul dhenggung.
Kricak lor negara, pasar gedhe loring loji.
Menggok ngetan kesasar neng Gondomanan.”
Tembang tersebut menunjukkan bahwa Pasar Mlati berada di sebelah selatan Denggung, Kricak berada di utara Kota Yogyakarta, Pasar Gede (Beringharjo) terletak di utara Benteng Vredeburg, dan jika kemudian berbelok ke timur akan sampai di kawasan Gondomanan.
Orientasi arah mata angin orang Jogja sejatinya berbeda dengan orientasi yang digunakan masyarakat Bali. Orang Bali Selatan menyebut arah utara sebagai kaja dan selatan sebagai kelod (Denpasar, Badung, Gianyar, dan sekitarnya). Sementara itu, masyarakat Bali Utara (Buleleng) justru menyebut selatan sebagai kaja dan utara sebagai kelod. Perbedaan ini terjadi karena titik utama orientasi arah mereka adalah Gunung Agung.
Sebagian besar kalangan yang bisa disebut sebagai “The Uzurist” masih menggunakan orientasi arah mata angin, baik dalam Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Hal ini berbeda dengan Generasi X atau Xennials, mikro generasi yang berada di persimpangan antara Gen X dan Milenial, yang mulai meninggalkan kebiasaan tersebut.
Kelompok generasi saat ini lebih sering menyebut lokasi dengan petunjuk arah yang tidak lagi merujuk pada mata angin. Misalnya, ketika menjelaskan lokasi Kantor Pos Gondolayu dari arah Tugu, mereka akan mengatakan, “ke sana lurus, nanti sebelum jembatan kiri jalan,” atau “setelah ketemu hotel, maju sedikit lalu kiri.”
Begitu pula jika ditanya arah dari Tugu ke UGM, jawabannya biasanya, “lurus saja, nanti lampu merah kedua kiri, lurus ketemu bundaran, lurus saja, itu sudah UGM.”
Arah mata angin nyaris tidak lagi tersimpan dalam memori. Bahkan, generasi ini kerap mengolok-olok pandom atau kompas arah mata angin orang Jogja yang disebut hanya memiliki empat arah pokok: “NG-NG-NG-NG”, yaitu Ngalor, Ngidul, Ngetan, dan Ngulon. Padahal anggapan ini keliru. Ngalor berarti menuju arah lor atau utara, Ngidul menuju arah kidul atau selatan, Ngetan menuju arah wetan atau timur, dan Ngulon berarti menuju arah kulon atau barat. Dengan demikian, dalam kompas arah mata angin jika menggunakan Bahasa Jawa seharusnya disebut Lor, Kidul, Wetan, Kulon, ditambah arah antara seperti Lor Kulon, Lor Wetan, Kidul Kulon, dan Kidul Wetan.
Entah bagaimana situasinya 50, 75, atau 100 tahun mendatang. Jika orientasi arah mata angin benar-benar ditinggalkan, lalu bagaimana cara menentukan kiblat salat (meski kini ada kompas di sajadah), atau menentukan arah galian makam dan posisi pipi kanan jenazah.
Penanda lokasi yang menggunakan nama arah mata angin kini juga semakin dimaknai sekadar sebagai nama tempat, bukan lagi sebagai penunjuk posisi. Contohnya Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Wetan Pasar, Ketanggungan Wetan, Ketanggungan Kulon, dan sebagainya. Semua itu hanya disebut sebagai nama lokasi, tanpa lagi diingat bahwa ada posisi arah sebaliknya.
Keadaan akan semakin rumit ketika harus menyebut Pekapalan yang berada di “wetan Alun-Alun Lor.” (****)









