Belajar dari Kasus Tari, Pakar Dorong Pelepasliaran Gajah Hasil Rescue ke Hutan
Marknews.id , Yogyakarta – Kabar duka datang dari Taman Nasional Tesso Nilo. Seekor anak gajah bernama Tari, yang dikenal luas melalui media sosial sebagai ikon konservasi, dikabarkan mati. Kepergian Tari bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga membuka kembali diskusi serius mengenai arah kebijakan konservasi gajah di Indonesia.
Selama ini, Tari kerap muncul di berbagai kanal media sosial dan menjadi simbol kedekatan manusia dengan satwa liar. Namun, menurut para pemerhati lingkungan, popularitas tersebut tidak boleh menutupi kenyataan bahwa gajah tetaplah satwa liar yang seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Konservasi Perlu Arah Baru
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai kasus ini seharusnya menjadi pengingat penting bahwa gajah memiliki peluang hidup lebih baik bila berada di hutan yang terjaga. Menurutnya, pendekatan konservasi berbasis pemeliharaan (captivity) selama ini masih dominan di Indonesia, sementara opsi rehabilitasi dan pelepasliaran belum mendapat perhatian serius.
“Jika kematian Tari hanya dipandang sebagai kabar biasa, maka sulit membangun dukungan publik terhadap perlindungan gajah di alam liar,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa interaksi berlebihan antara manusia dan satwa liar berpotensi menimbulkan risiko zoonosis, yakni penularan penyakit dari satwa ke manusia maupun sebaliknya.
Belajar dari Negara Lain
Annisa mencontohkan praktik di Laos dan Sri Lanka, di mana gajah hasil penyelamatan (rescue) direhabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat hutan. Strategi ini dinilai tidak hanya memberi kesempatan hidup lebih layak bagi gajah, tetapi juga memperkuat program pemulihan ekosistem yang berkelanjutan.
“Sudah saatnya Indonesia mulai mengadopsi pendekatan serupa. Hutan-hutan yang direstorasi bisa menjadi rumah baru bagi gajah-gajah hasil penyelamatan,” tambahnya.
Tantangan Konservasi di Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo sendiri selama ini dikenal sebagai habitat penting gajah Sumatera. Namun, kawasan tersebut tidak lepas dari ancaman perambahan hutan dan konflik manusia-satwa. Kasus Tari menyoroti kembali tantangan berat dalam mengelola satwa liar di tengah tekanan terhadap habitatnya.
Para aktivis lingkungan menilai, kematian Tari seharusnya menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi besar-besaran atas program konservasi gajah di Indonesia. Tanpa perubahan arah kebijakan, kasus serupa dikhawatirkan akan terus terulang.
Momentum Kepedulian Publik
Meski menimbulkan duka, peristiwa ini juga dinilai bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian publik terhadap perlindungan satwa liar. Dukungan masyarakat terhadap rehabilitasi dan pelepasliaran diyakini dapat memperkuat upaya pemerintah serta organisasi konservasi dalam menjaga keberlangsungan gajah di habitat alaminya.
Kematian Tari akhirnya meninggalkan pesan penting: popularitas seekor satwa tidak cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Upaya nyata berupa perbaikan strategi konservasi menjadi kunci agar gajah-gajah lain di Indonesia dapat hidup lebih bebas, sehat, dan berkelanjutan di hutan yang memang menjadi rumah sejati mereka.











