Beranda Serba-Serbi Tanam Pohon saat Anak Lahir, Investasi yang Tumbuh Bersama Masa Depan
Serba-Serbi

Tanam Pohon saat Anak Lahir, Investasi yang Tumbuh Bersama Masa Depan

Ilustrasi menanam pohon

Marknews.id, Yogyakarta – Di tengah kebiasaan masyarakat yang lebih akrab dengan tabungan di bank atau investasi berbentuk aset, ada gagasan sederhana yang mulai terlupakan: menanam pohon saat seorang anak lahir. Bagi Agung Marsudi, pengamat sosial, ekonomi, dan politik dari Duri Institute, satu pohon dapat menjadi simbol harapan sekaligus investasi yang terus bertambah nilainya seiring perjalanan hidup seorang anak.

Menurut Agung, menanam pohon tidak semata-mata bertujuan menghasilkan kayu atau panen. Lebih dari itu, pohon merupakan investasi jangka panjang yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.

“Kalau kita berbisnis di lahan satu hektare, tiga tahun pertama memang penuh biaya perawatan. Itu adalah investasi. Setelah itu, pohon akan terus tumbuh dan nilainya meningkat,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat membangun tradisi baru. Setiap kelahiran anak, kata dia, sebaiknya diiringi dengan menanam satu pohon. Pohon tersebut akan tumbuh bersama usia sang anak, menjadi saksi perjalanan hidup sekaligus tabungan yang nilainya terus meningkat.

“Bayangkan ketika anak lahir kita tanam satu pohon. Saat dia masuk sekolah, pohonnya sudah semakin besar. Kalau pohon itu tidak ditebang, nilainya terus bertambah. Pada waktunya, hasil pohon itu bisa membantu membiayai kebutuhan anak, bahkan sampai kuliah,” katanya.

Agung menilai alasan tidak memiliki lahan sering kali menjadi penghambat seseorang untuk mulai menanam. Padahal, menurutnya, yang terpenting adalah membangun cara berpikir bahwa sebagian kemampuan atau aset yang dimiliki dapat diubah menjadi investasi jangka panjang.

Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan fungsi tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sayuran dan tanaman pangan memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan harian. Namun, pohon-pohon berkayu memiliki fungsi berbeda, yakni menjadi tabungan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam praktiknya, fase paling menentukan justru berada pada enam bulan pertama setelah penanaman. Pada masa itulah bibit membutuhkan perhatian lebih agar mampu bertahan dan tumbuh dengan baik.

“Intinya ada di enam bulan pertama. Pohon ditanam, dijaga, dan disiram. Sebenarnya pohon tidak membutuhkan air yang berlebihan, tetapi membutuhkan kelembapan tanah,” jelasnya.

Pengalaman itu pernah ia temukan di kawasan Wanagama. Batu-batu yang diletakkan di sekitar tanaman bukan sekadar pelengkap, melainkan berfungsi menjaga kelembapan tanah. Embun yang menempel pada permukaan batu membantu mempertahankan kadar air sehingga tanaman tetap memperoleh kondisi yang ideal untuk tumbuh.

Agung juga meluruskan anggapan bahwa tanaman kopi hanya dapat berkembang di daerah pegunungan. Menurutnya, dengan pemilihan varietas dan pengelolaan yang tepat, kopi dapat dibudidayakan di berbagai wilayah.

Bagi Agung, yang paling penting bukan sekadar jenis pohonnya, melainkan filosofi yang menyertainya. Menanam pohon adalah cara membangun kesejahteraan lintas generasi.

“Setiap anak yang lahir saya bayangkan memiliki pohonnya sendiri. Ketika mereka dewasa, menikah, atau membangun rumah, pohon-pohon itu sudah memiliki nilai ekonomi. Filosofi seperti ini sebenarnya penting, tetapi mulai jarang diajarkan,” tuturnya.

Di tengah perubahan zaman, gagasan sederhana itu menjadi pengingat bahwa investasi tidak selalu berbentuk angka di rekening. Sebatang pohon yang dirawat dengan sabar dapat menjadi warisan, sumber penghidupan, sekaligus simbol kepedulian terhadap masa depan keluarga dan lingkungan.

Sebelumnya

Suzuki Fronx SGX Hybrid Kuro Meluncur, Tawarkan Sentuhan Desain Lebih Maskulin dan Fitur Keselamatan Semakin Lengkap

Selanjutnya

Lewat Fapet Menyapa, Fakultas Peternakan UGM Sabet Silver Winner MRA 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement