Pelajar Homeschooling dan Sekolah Hybrid Terjun Langsung Teliti Jejak Manusia Purba di Situs Bumiayu
Marknews.id, Brebes — Empat pelajar dari sistem pendidikan hybrid dan homeschooling mengikuti studi lapangan arkeologi di Situs Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada 3–6 Mei 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi perjalanan edukasi biasa, melainkan pengalaman langsung menyelami proses penelitian manusia purba, pelestarian budaya, hingga kehidupan para peneliti di lapangan.
Program bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu – Studi Lapangan dan Publikasi Situs Purbakala untuk Generasi Muda” tersebut melibatkan Shanterygve Adriel Kastanya, Grimonia Tarari Zaneta Kamila, dan Quinxia Evangeline Yaotama yang merupakan siswa kelas X Alta Global School, serta Nathan Dipa Dewangga dari Strive Online Homeschooling.
Selama empat hari, para peserta hidup berdampingan dengan ekosistem penelitian arkeologi yang berkembang di kawasan Bumiayu. Mereka mengikuti observasi museum, turun ke area ekskavasi, berdialog dengan peneliti lintas disiplin, hingga melakukan wawancara dengan masyarakat sekitar situs budaya.
Kegiatan dimulai dari Kawasan Stasiun Lapangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Museum Purbakala Bumiayu. Di lokasi tersebut, peserta mempelajari proses pelestarian artefak dan tantangan pengelolaan museum berbasis komunitas.
Museum Purbakala Bumiayu menjadi salah satu lokasi yang paling menarik perhatian peserta. Museum tersebut selama ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal bersama komunitas pelestari budaya.
” Museum ini bukan sekadar ruang penyimpanan fosil dan artefak, melainkan simbol nyata kepedulian masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri,” tutur Dipa.
Tidak hanya mengenal museum, para peserta juga diajak menelusuri kawasan Kaligua dan Jembatan Sakalibel, peninggalan era kolonial Belanda. Pengalaman paling berkesan terjadi saat mereka turun langsung ke lokasi penelitian bersama mahasiswa pascasarjana dan peneliti senior.
” Kami menyaksikan proses penelitian lapangan, dokumentasi temuan, dan berdialog langsung dengan sejumlah peneliti dan praktisi di bidang arkeologi, geoarkeologi, arkeometri, dan museologi,” terang Quinx.
Dalam kegiatan tersebut, peserta bertemu sejumlah peneliti dari berbagai bidang, mulai dari arkeologi prasejarah, geoarkeologi, hingga rekonstruksi digital. Mereka diperkenalkan pada metode penelitian modern seperti survei terestrial, pemetaan drone, ekskavasi, identifikasi fauna purba, hingga pendekatan arkeometri berbasis analisis laboratorium.
Peneliti BRIN, Fakhri, mengungkapkan bahwa kawasan Bumiayu memiliki potensi besar dalam memperbarui pemahaman mengenai sejarah manusia purba di Pulau Jawa.
“Bumiayu berpotensi memberikan pembaruan terhadap penelitian sebelumnya. Bisa jadi ada temuan yang lebih tua dibanding temuan yang selama ini dikenal masyarakat,” ujar Fakhri.
Menurut para peneliti, kawasan Bumiayu diduga menjadi salah satu daratan awal yang muncul di Pulau Jawa dengan usia mencapai 2,4 juta hingga 1,8 juta tahun lalu. Temuan-temuan di kawasan tersebut dinilai dapat membuka kemungkinan baru terkait keberadaan Homo erectus pada masa sangat awal.
Selain aspek ilmiah, peserta juga melihat langsung berbagai tantangan penelitian lapangan. Medan berbukit, cuaca yang berubah cepat, akses jalan terbatas, hingga kebutuhan kolaborasi internasional untuk pengujian sampel menjadi bagian dari dinamika penelitian arkeologi modern.
Para peneliti turut menekankan pentingnya publikasi dan penyebaran ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Dokumentasi visual, media sosial, dan narasi digital dinilai menjadi sarana penting agar penelitian arkeologi tidak hanya berhenti di lingkungan akademik.
Pada hari terakhir, peserta mengunjungi kawasan Candi Poh dan wilayah yang dikenal sebagai “laut purba” Bumiayu. Mereka melakukan observasi lapangan sekaligus menggali sejarah lisan masyarakat setempat mengenai tradisi dan pelestarian situs budaya.
” Masyarakat lokal menjelaskan bahwa Bumiayu bukan hanya tentang fosil, tetapi wilayah yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Candi Poh, salah satu lokasi yang menarik perhatian kami karena hingga kini masih dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Di kawasan ini, tradisi sedekah bumi dan ritual budaya setiap tahun baru Jawa masih dijalankan, dan masyarakat memandang kawasan sekitar situs sebagai ruang ekologis penting yang menjaga mata air dan habitat satwa liar,” papar Tara.
Di sisi lain, masyarakat setempat mengakui bahwa upaya pelestarian situs budaya masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan sumber daya dan keberlanjutan pengelolaan.
“Masyarakat sebenarnya sadar situs ini berharga, tetapi belum semua memiliki kemampuan dan keberlanjutan untuk merawatnya,” ujar Alfan Muhyar Faza dan Rafiq Aji Prayogo yang mendampingi observasi peserta di kawasan Candi Poh.
Selain melakukan penelitian dan wawancara, peserta juga menyusun dokumentasi visual bergaya dokumenter lapangan. Mereka mempelajari bagaimana sejarah dapat disampaikan kembali kepada publik melalui pendekatan visual storytelling, foto, video, dan media digital.
Suasana kebersamaan antara peserta, mahasiswa, dan tim peneliti menjadi penutup kegiatan di Bumiayu. Diskusi santai hingga permainan sederhana mewarnai malam terakhir sebelum para peserta kembali pulang.
“Habitat para ilmuwan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi intelektual. Semoga mereka menemukan jalannya masing-masing,” ujar Bonifasius Bayu Brathara, praktisi HSE sekaligus pendamping lapangan.
Hasil observasi dan dokumentasi para peserta nantinya akan dikembangkan menjadi sejumlah karya publikasi, mulai dari esai ilmiah hingga buku cerita berbasis riset lapangan.
” Hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan selanjutnya akan dikembangkan menjadi esai ilmiah, buku perjalanan, serta buku cerita rakyat berbasis penelitian lapangan dan wawancara masyarakat lokal. Sebagian karya tersebut direncanakan untuk dipublikasikan melalui platform akademik dan publikasi populer sebagai bagian dari penguatan literasi, dokumentasi budaya, dan portofolio pendidikan peserta,” terang Shan.
Bayu berharap kegiatan semacam ini dapat memperluas ketertarikan generasi muda terhadap sejarah dan penelitian arkeologi.
” Melalui kegiatan ini, para peserta berharap Situs Bumiayu dan Museum Purbakala Bumiayu semakin dikenal generasi muda Indonesia — sebuah bukti bahwa pendidikan bermakna tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi dari pengalaman langsung di lapangan,” pungkas Bayu.











