Beranda Pendidikan Lebih dari 1.700 Mahasiswa di DIY Terdampak Bencana Sumatra, Pemda dan Kampus Siapkan Skema Perlindungan Studi
Berita Utama

Lebih dari 1.700 Mahasiswa di DIY Terdampak Bencana Sumatra, Pemda dan Kampus Siapkan Skema Perlindungan Studi

Marknews.id, Yogyakarta – Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra turut dirasakan mahasiswa perantauan yang tengah menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Data sementara menunjukkan lebih dari 1.700 mahasiswa terdampak, dengan 218 di antaranya berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemerintah Daerah DIY bersama perguruan tinggi kini mempercepat langkah agar keberlanjutan studi para mahasiswa tetap terjaga.

Isu tersebut menjadi fokus dalam pertemuan koordinasi antara Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Aria Nugrahadi, S.T., M.Eng., dan Direktur Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., di Kantor DPkM UGM, Selasa (16/12).

Koordinasi ini merupakan lanjutan dialog antara Pemda DIY dan delapan perguruan tinggi negeri di wilayah Yogyakarta, yakni UGM, UIN, UNY, UPN, ISI, Sekolah Tinggi Pertanahan, Sekolah Tinggi Kesehatan, serta MMTC. Fokus utama pembahasan adalah upaya mitigasi dampak sosial, ekonomi, dan psikologis yang dialami mahasiswa akibat bencana di daerah asal mereka.

Aria Nugrahadi menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan mahasiswa terdampak tetap dapat melanjutkan perkuliahan. “Arahan dari Gubernur DIY jelas bahwa mahasiswa yang orang tuanya terdampak bencana perlu segera didata agar proses pembelajarannya tidak terganggu,” ujarnya.

Menurut Aria, pendataan menjadi pintu awal sebelum bantuan disalurkan. Proses tersebut dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari asrama mahasiswa hingga komunikasi resmi dengan pimpinan perguruan tinggi dan akademi. Meski demikian, keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat Pemda DIY perlu bersinergi dengan kampus.

“Pendekatan yang kami lakukan adalah pendataan terlebih dahulu, kemudian muaranya nanti dimungkinkan bantuan berupa tunai berdasarkan pada akuntabilitas dengan persyaratan menggunakan SK Gubernur,” jelasnya.

Bantuan nantinya akan disalurkan berdasarkan data valid yang memuat nama dan NIK mahasiswa, serta diverifikasi oleh otoritas kampus dan lembaga pendidikan terkait. Dukungan tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga mencakup aspek psikososial, biaya hidup, hingga bantuan teknis lain. Aria berharap seluruh proses pendataan dan penyaluran dapat diselesaikan sebelum akhir 2025.

Selain Pemda, sejumlah perangkat daerah turut dilibatkan. Dinas Sosial DIY menyiapkan skema bantuan dengan komitmen pencairan rutin setiap bulan, sementara Dinas Pemuda dan Olahraga DIY mengoordinasikan pendataan mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Hingga kini, tercatat 38 perguruan tinggi yang akan dikomunikasikan dengan LLDIKTI, dengan laporan awal sebanyak 388 mahasiswa dari 31 perguruan tinggi swasta.

Di sisi lain, UGM telah melakukan pendataan internal secara menyeluruh. Direktur DPkM UGM, Rustamaji, menyampaikan bahwa mahasiswa terdampak di lingkungan kampus berasal dari berbagai daerah di Sumatra. “Di UGM, terdapat 218 keluarga mahasiswa terdampak. Pendataan kami lakukan secara menyeluruh, mulai dari bantuan biaya hidup, keringanan UKT, hingga kebutuhan psikososial, dan pendampingan konseling,” kata Rustamaji.

Rincian sementara menunjukkan 81 mahasiswa berasal dari Aceh, 93 dari Sumatera Utara, dan 43 dari Sumatera Barat. Meski begitu, sebagian data masih dalam tahap verifikasi di tingkat fakultas dan program studi. “Kami berupaya memastikan tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat,” tegasnya.

Rustamaji menambahkan, kebutuhan mahasiswa sangat beragam. Selain keringanan UKT, mereka membutuhkan bantuan biaya hidup harian, makan, paket sembako, bantuan biaya kos, hingga pendampingan konseling. Bahkan, tidak menutup kemungkinan sebagian mahasiswa harus mengajukan cuti akademik karena kondisi keluarga di daerah asal yang kehilangan tempat tinggal atau sumber penghasilan.

Sebagai respons awal, UGM telah menyalurkan sejumlah bantuan, di antaranya voucher makan dua kali sehari, voucher makan di kantin Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta bantuan finansial Rp2 juta per mahasiswa bagi mahasiswa Fakultas Farmasi yang disalurkan pada Desember hingga Januari.

Ke depan, Pemda DIY dan UGM sepakat memperkuat sinkronisasi data dengan perguruan tinggi lain, LLDIKTI, dan perangkat daerah terkait. Aria kembali menegaskan posisi DIY sebagai rumah bagi mahasiswa dari berbagai daerah. “DIY adalah kota pelajar dan menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Karena itu, para mahasiswa tetap menjadi perhatian kami,” pungkas Aria.

Sebelumnya

Ketika Media Tak Adil pada Wartawannya: Krisis Ketenagakerjaan dan Masa Depan Jurnalisme

Selanjutnya

InJourney Destination Management Perkuat Layanan Wisata Borobudur Lewat Pelatihan Hospitality Terpadu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement