Mataram Is Rock, Simbol Persatuan Skena Metal Jogja dan Solo
Marknews.id – Dua festival musik rock terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, JogjaROCKarta Festival dan Rock In Solo, resmi mengumumkan persatuan mereka dalam sebuah inisiatif bersama bertajuk “Mataram Is Rock”. Kolaborasi ini menjadi tonggak baru bagi pergerakan skena musik rock di wilayah Mataram yang meliputi Yogyakarta dan Surakarta.
Persatuan tersebut tidak sekadar simbolis, melainkan lahir dari kesadaran akan kesamaan akar budaya yang mengikat dua kota tersebut. Jogja dan Solo yang secara historis merupakan bagian dari satu peradaban, kini kembali dipertautkan melalui musik keras yang tumbuh subur dari generasi ke generasi.
Rock In Solo yang telah menapaki usia 21 tahun berpadu dengan JogjaROCKarta yang memasuki tahun kedelapan penyelenggaraan. Keduanya sepakat memperkuat ikatan persaudaraan melalui program lintas festival yang memungkinkan pertukaran penampil dan kolaborasi antarskena. Langkah ini sekaligus menjadi strategi membangun ekosistem musik rock yang lebih terstruktur dan saling menopang.
Salah satu bukti konkret dari ikrar persaudaraan tersebut diwujudkan melalui kehadiran Down For Life dalam daftar penampil JogjaROCKarta Festival. Band metal asal Surakarta yang pernah tampil di ajang internasional Wacken Open Air (W:O:A) ini hadir bukan semata sebagai pengisi panggung, melainkan sebagai representasi kuat dari kolaborasi dua poros skena rock di tanah Mataram.
Kehadiran Down For Life dinilai membawa pesan penting bahwa keterhubungan Jogja dan Solo tidak pernah benar-benar terputus, meski kini berada dalam wilayah administratif yang berbeda. Identitas budaya dan karakter masyarakat di kedua kota tersebut masih terjalin erat, dan musik menjadi medium yang dinilai paling efektif untuk merawat ikatan tersebut.
Para penggagas “Mataram Is Rock” sepakat untuk membangun kekuatan sentral baru di wilayah DIY dan Jawa Tengah, khususnya dalam konteks pengembangan musik rock. Mereka menargetkan terciptanya ruang kolaborasi yang lebih terbuka, baik bagi musisi senior maupun generasi baru.
“Kami ingin membuktikan bahwa Jogja dan Solo tetap terikat dalam sebuah persaudaraan. Bukan rivalitas, namun bagaimana kita dapat membangun ekosistem yang suportif dan menunjukkan bahwa diplomasi dapat dimulai dari hal sederhana termasuk melalui festival musik.” ujar Iwe Ramadhan, selaku head of creative Rajawali Indonesia.
Melalui kolaborasi ini, panitia berharap “Mataram Is Rock” dapat menjadi penanda baru bagi kebangkitan skena rock regional yang solid, inklusif, dan berdaya saing nasional, sekaligus menjadi contoh bahwa persatuan lintas kota dapat tumbuh dari panggung musik.











