Beranda Serba-Serbi Muslim Tionghoa di Indonesia: Dari Jejak Sunyi ke Panggung Terang
Serba-Serbi

Muslim Tionghoa di Indonesia: Dari Jejak Sunyi ke Panggung Terang

Sumber Gambar : Kumparan

Marknews,id – Di banyak sudut kota, jejak Muslim Tionghoa muncul seperti embun di pagi hari: pelan, tipis, tapi tak bisa diabaikan. Masjid bercorak merah, piring mie halal di warung keluarga, hingga ceramah para mualaf Tionghoa di YouTube. Semua itu menyusun kembali kisah lama yang lama terpendam—bahwa Islam dan Tionghoa sudah saling menyapa jauh sebelum republik berdiri.

Akar yang Dalam, Jejak yang Tersembunyi

Kisah awalnya sering dihubungkan dengan kedatangan armada Cheng Ho pada abad ke-15. Sang laksamana Muslim itu merapat di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, lalu meninggalkan tapak yang terasa sampai kini. Komunitas Muslim kecil tumbuh di pesisir Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Catatan-catatan dari sumber Tiongkok menyebut hubungan dagang dan kawin silang yang intens sejak abad ketujuh.

Sejarah itu tidak selalu tercatat rapi, tetapi bayangannya kuat. Di Semarang, orang mengenang Sam Poo Kong—tempat yang diyakini pernah disinggahi armada Cheng Ho. Di pesisir Jawa, ada legenda keluarga peranakan yang ikut membantu dakwah para wali. Cerita rakyat itu mungkin tak sepenuhnya akurat, tetapi menunjukkan bahwa perjumpaan Tionghoa dan Islam bukan fenomena baru.

Perjalanan Panjang Mencari Ruang

Pada masa kolonial, identitas Tionghoa Muslim bergerak di wilayah senyap. Banyak yang masuk Islam lewat perkawinan. Ada juga yang memilihnya sebagai keyakinan pribadi. Namun catatan resmi jarang menyebutkan jumlah mereka.

Baru pada pertengahan abad ke-20, identitas ini mendapat ruang lebih jelas. Salah satu tokohnya adalah Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien. Ia pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), sekaligus tokoh pergerakan. Di zamannya, menjadi Tionghoa dan Muslim sering berarti menghadapi dua tembok sekaligus: prasangka dari komunitas Tionghoa, juga keraguan dari sebagian lingkungan Muslim.

Oei mengubah angin itu. Ia bergerak dari kantor ke kantor, dari kampung ke kampung. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi Tionghoa dan Muslim bukan dua hal yang bertolak belakang. PITI berdiri pada 1961 dan bertahan sampai sekarang.

Tumbuhnya Organisasi dan Ruang Sosial Baru

Kini, komunitas Tionghoa Muslim hadir di banyak kota. Organisasi-organisasi bermunculan:

  • PITI, dengan jaringan pengajian dan pusat pembinaan.
  • Yayasan Haji Karim Oei (YHKO), yang mengelola Masjid Lautze di Jakarta.
  • Komunitas Muslim Tionghoa di Surabaya, Makassar, Medan, Bandung, dan Semarang.

Masjid-masjid bercorak Tionghoa semakin mudah ditemui. Masjid Cheng Ho di Surabaya menjadi ikon. Masjid Al-Imtizaj di Bandung menarik banyak wisatawan. Arsitekturnya berbeda, tetapi suasananya sama: ruang ibadah yang terbuka.

Berapa Jumlahnya?

Tak ada angka resmi. Pemerintah tidak lagi mencatat agama berdasarkan etnis. Namun beberapa peneliti memperkirakan jumlah Muslim Tionghoa di Indonesia berkisar 300 ribu sampai 700 ribu jiwa. Angka itu mungkin lebih besar sekarang, terutama karena banyaknya generasi muda yang tumbuh dalam keluarga campuran.

Serba-serbi Identitas di Ruang Publik

Bagi sebagian orang Tionghoa, menjadi Muslim tetap tidak sederhana. Ada tekanan keluarga. Ada jarak budaya. Ada stereotip lama yang masih muncul sesekali. Namun generasi baru lebih berani.

Mereka merayakan identitas ganda itu tanpa canggung. Imlek tetap ada, tapi dalam bentuk budaya keluarga. Angpao diberikan tanpa ritual keagamaan Tionghoa. Panganannya halal. Di dapur, aroma jahe dan kecap asin bertemu dengan gaya masakan pesantren.

Di banyak tempat, keluarga Tionghoa Muslim menata rumahnya dengan perpaduan ornamen merah dan kaligrafi Arab. Sebuah identitas yang tumbuh dari dua akar sekaligus.

Gelombang Baru Para Dai Tionghoa

Dalam satu dekade terakhir, beberapa tokoh Tionghoa Muslim tampil ke ruang publik. Mereka menggunakan media sosial dan mimbar kajian untuk menyebarkan cerita mereka. Nama-nama seperti:

  • Ustaz Felix Siauw, salah satu dai paling populer di platform digital.
  • Ustaz Steven Indra Wibowo, pendiri Mualaf Center Indonesia.
  • Ustaz Muhammad Nur Maulana Tan, pendakwah yang banyak tampil di televisi lokal.
  • Yusman Roy Tan, aktif dalam kajian dan pendampingan mualaf di Jawa Timur.
  • Komunitas pemuda PITI yang sering membuat seri video dakwah dan kelas Mandarin di masjid.

Mereka datang dari latar yang berbeda, tetapi cerita mereka serupa: perjalanan pribadi menuju Islam, lalu keinginan untuk membantu yang lain.

Generasi Baru, Wajah Baru

Media sosial membuat segalanya lebih cepat. Anak-anak muda Tionghoa Muslim kini muncul sebagai kreator konten, juru masak kuliner halal-Tionghoa, hingga pembicara publik. Masjid-masjid bercorak Tionghoa menjadi latar favorit untuk foto wisata religi.

Identitas yang dulu berjalan dalam senyap kini lebih terbuka. Tidak selalu mulus, tapi terus bertumbuh.

Bagian dari Kisah Besar Indonesia

Muslim Tionghoa adalah bagian kecil dari bentang besar Indonesia. Kisah mereka adalah cerita tentang perjalanan panjang menuju penerimaan. Tentang seseorang yang melewati pintu baru tanpa harus meninggalkan pintu lama. Tentang bagaimana budaya dan keyakinan bisa hidup berdampingan.

Di tangan generasi sekarang, jejak sunyi itu berubah menjadi suara yang lebih nyaring. Tak lagi bersembunyi di balik tirai sejarah. Kini hadir di panggung terang Indonesia, dengan warna yang khas dan akar yang dalam.

 

Sebelumnya

KAI Daop 5 Gelar Tes Narkoba Mendadak, Seluruh Petugas ASP Dinyatakan Bersih

Selanjutnya

IDM Dorong UMKM Prambanan Naik Kelas Lewat Program Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement