Jondhil-Jondhil-Jondhil, Berarti Anda Melewati Jalan Tugu ke Selatan Agak Mepet Timur
Oleh:Agus U, jurnalis
Marknews.id – Pernahkah Anda melintas dari arah utara ke selatan di Jalan Margo Utomo hingga Margo Mulyo menggunakan sepeda motor dan merasakan semacam gronjalan beruntun berjarak sekitar 2–3 meter? Sensasi ini muncul ketika Anda berkendara agak mepet sisi timur.
Pada tahun 1970-an, Wali Kota Kotamadya Yogyakarta Soedjono AJ membuat gebrakan untuk memperbaiki lingkungan Kota Yogyakarta. Selain membangun gedung perkantoran baru Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Yogyakarta di Timoho, sebelumnya kantor wali kota berada di Jalan KHA Dahlan yang kini menjadi Gedung Pappmi atau yang oleh para orang tua disebut sebagai Bale Kota Lawas.
Soedjono AJ juga menanam puluhan pohon palem raja di Jalan Malioboro–A. Yani. Sisa-sisa palem raja ini masih terlihat di depan Benteng Vredeburg hingga tahun 2000-an.
Pada masa itu pula, Pemerintah Kotamadya Yogyakarta mulai memasang lampu merkuri yang digantung di atas jalan, bukan di tiang lampu. Bagian tengah jalan (median) diberi cat eye atau mata kucing sebagai pemantul cahaya lampu kendaraan bermotor.
Jalan dari teteg hingga air mancur digeser. Toko-toko diminta mengundurkan pintu masuk hingga tiga meter dari posisi semula. Dulunya, jalur lambat sisi barat Jalan Malioboro–A. Yani (kini Margo Mulyo) adalah trotoar. Setelah pintu toko dimundurkan, bangunan lama yang mundur tidak dirobohkan, melainkan dijadikan trotoar yang pejalan kakinya terlindungi oleh bagian atap bangunan yang juga tidak dirobohkan. (Sstt… katanya toko-toko yang harus mundur masih harus membayar PBB hingga trotoar yang ada di depannya).
Hal yang sama terjadi di sisi timur. Jalur lambat sisi timur kemudian dijadikan pedestrian dan bahkan dilebarkan ke barat.
Aspal jalan pun ditebalkan. Namun, penggeseran median jalan dan penebalan aspal tidak diikuti dengan “pencongkelan” mata kucing. Akibatnya, mata kucing tersebut terpendam.
Hanya saja tidak diketahui mengapa setelah sekian tahun terpendam, kini muncul sebagai “jendhulan” yang sering dirasakan para pengguna jalan. (***)











