Beranda Jogja Tempo Doeloe Antre Mendaftar PP I: Ria Rumondang – Bulus Pesantren
Jogja Tempo Doeloe

Antre Mendaftar PP I: Ria Rumondang – Bulus Pesantren

Gambar Arsip UGM

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id –  Menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada memang menjadi kebanggaan. Bahkan ketika masih kecil, orang tua selalu mengingatkan agar “suk sekolahe neng Gajah Modo” sebagai ungkapan untuk memacu dan memicu anak-anak bersemangat belajar dan berprestasi di sekolah.

Singkat cerita setelah pengumuman kelulusan SMA, ikut mencoba mendaftar untuk masuk perguruan tinggi negeri. Tahun-tahun itu, beberapa perguruan tinggi negeri sudah mulai membangun koordinasi agar seorang lulusan SMA/MA ataupun sekolah kejuruan lainnya bisa mendaftar melalui satu lokasi dengan pilihan di sejumlah perguruan tinggi.

Awalnya baru lima perguruan tinggi, namanya SKALU. Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas, yakni UGM, UI, ITB, IPB, dan UNAIR.

Lulusan SMA/MA/sekolah kejuruan yang mendaftar diizinkan memilih tiga prodi/jurusan yang berbeda, baik satu perguruan tinggi atau pilihan menyebar di lebih dari satu perguruan tinggi. Namun tidak boleh mendaftar di perguruan tinggi di luar anggota Skalu.

Penerimaan bersama ini akhirnya berkembang dan menjadi sepuluh perguruan tinggi, dengan sebutan SKASU. Skasu kemudian berkembang lagi menjadi Proyek Perintis (PP). Proyek Perintis I berisi perguruan tinggi papan atas, sedangkan PP II jalur undangan atau istilahnya tanpa tes, dan PP III berisi perguruan tinggi negeri lainnya.

Mendaftar di PP I tahun 1981 dari UGM harus membeli formulir terlebih dahulu. Penjualan formulir untuk UGM ada di Bank BBNI Bulaksumur yang keberadaannya di sebelah barat Bundaran UGM, berderet di antara bangunan Markas Menwa UGM dan Kantor Pos UGM.

Mendapatkan formulir itu tidak mudah. Datang di Bank BNI pada hari pertama pendaftaran, ternyata antrean sudah panjang. Masuk antrean sekitar jam delapan pagi sudah mendapat tempat di ujung jalan depan Purna Budaya — kini GIK paling utara. Padahal, loket baru melayani penjualan formulir jam sembilan dan akan berakhir jam tiga sore.

Loketnya hanya satu. Manual, artinya petugas loket menulis tangan di tiap kuitansi: nama pendaftar, asal sekolah, nilai rapor, alamat, dan lainnya. Pengantre pun tidak boleh membelikan untuk orang lain atau satu orang membelikan lebih dari satu. Alasannya mencegah percaloan.

Namun berkembang isu untuk kelompok keluarga tertentu, boleh orang tuanya menelepon pimpinan bank dan formulir akan diantarkan sampai rumah. Benar tidaknya ya namanya isu.

Hari pertama gagal mendapatkan formulir. Antrean baru mencapai selatan Gelanggang Mahasiswa — GIK Tengah — bank tutup, sehingga harus menginap. Para pengantre tidak beranjak. Pengantre sudah saling kenal depan dan belakangnya, sehingga ketika satu atau dua atau tiga orang pamit keluar antrean untuk membeli makan atau minum, akan dipersilakan dan nanti kembali ke antrean lagi dengan nyaman. Hal serupa juga dilakukan pengantre lainnya.

Akhirnya, hari kedua sekitar jam 10 siang, sampailah di depan loket dan membayar formulir Rp25.000. Keluar membawa kuitansi yang nanti harus dituliskan nomornya di lembar isian, buku panduan, formulir data pribadi, perguruan tinggi pilihan, fakultas, prodi, dan sebagainya.

Buku panduan mengisi formulir tersebut ternyata dalam beberapa tahun, sebelum dan sesudah, tidak mengalami perubahan. Ada ciri tertentu, yakni yang menjadi contoh pendaftar bernama Ria Rumondang, alamatnya Setrojenar Kecamatan Buluspesantren, Kebumen.

Awalnya, UGM hanya menerima untuk program S1 dan tahun 1981/1982 menerima calon mahasiswa untuk Program Diploma. Program Diploma 3 Ekonomi adalah PAAP — Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan — yang berada di bawah naungan Fakultas Non-Gelar Ekonomi (FNE) di Lantai II Gedung Pusat Sayap Timur. Ada pula PAT, Pendidikan Ahli Teknik, yang berada di bawah naungan Fakultas Non-Gelar Teknik. Non Gelar kemudian berkembang dan kini menjadi Sekolah Vokasi.

Setelah mengikuti ujian masuk, ada jeda waktu yang panjang untuk mendapatkan pengumumannya. Tidak seperti sekarang yang pengumuman bisa dilihat dari henpon. Dahulu harus membeli koran karena pengumuman ada di sisipan koran.

Meski seharusnya menjadi sisipan gratis, namun ternyata oleh penjual koran dijual terpisah dengan harga yang berlipat. Umumnya koran hanya Rp250 per eksemplar, sisipan pengumuman bisa menjadi Rp2500.

Koran Yogyakarta hanya memuat pengumuman untuk UGM dan terkadang ada pula Undip. Sedangkan perguruan tinggi negeri lainnya seperti IKIP Negeri Yogyakarta (kini UNY), UNS, dan lainnya masuk PP III yang penjadwalannya berbeda. IAIN berbeda lagi, ISI punya jadwal tersendiri.

Di koran sisipan yang tulisannya sangat lembut, ternyata nama saya tidak tercantum dan beberapa teman lainnya yang membeli formulir bersama-sama tidak ada yang masuk.

Waktu itu, ruang ujian yang saya pakai sempat mendapat kunjungan dari para pembesar kampus dan difoto-foto.

Ketika sudah liputan, saya selalu memperhatikan ruang yang mendapat kunjungan selalu tidak ada peserta ujian yang diterima. Dua atau tiga liputan kunjungan membuat saya memutuskan untuk tidak melihat mereka yang sedang tes di ruangan. Takut kalau-kalau mereka ini tidak diterima karena terganggu konsentrasinya.

Tidak diterima di UGM, saya kemudian mencoba peruntungan di perguruan tinggi lain dan akhirnya diterima di luar negeri alias swasta tetangga UGM yang usianya lebih tua. (**)

 

 

Sebelumnya

Kreteg Kewek

Selanjutnya

Jondhil-Jondhil-Jondhil, Berarti Anda Melewati Jalan Tugu ke Selatan Agak Mepet Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement