Beranda Jogja Tempo Doeloe Tempat yang Bernama Seni Sono
Jogja Tempo Doeloe

Tempat yang Bernama Seni Sono

Oleh: Agus U, Jurnalis

MARKNEWS.ID – LOKASINYA di Jalan Ahmad Yani (sekarang Margo Mulyo) yang paling selatan, di sisi barat jalan. Jika sekarang, kawasan ini masuk wilayah Gedung Agung. Bangunan utama yang berada di paling selatan, bertingkat III dan bergaya indis, dahulu digunakan sebagai Kantor Berita Antara/LKBN Antara, Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum—organ Departemen Penerangan—serta Kantor PWI Cabang Yogyakarta.

Kemudian, di sebelah utaranya terdapat beberapa perkantoran, antara lain PT Grafika dan Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI). Di bagian paling utara berdiri sebuah bangunan dengan ruang luas semacam hall yang disebut Seni Sono. Tempat ini pernah menjadi gedung bioskop dan kemudian dijadikan lokasi pameran seni rupa.

Sementara itu, di sisi utara yang membujur dari barat ke timur, juga terdapat beberapa perkantoran, antara lain Sapta Mandala Kodam VII/Diponegoro, Bina Vokalia, dan sebagainya.

Lokasi ini memang sangat strategis bagi mereka yang senang berkumpul sambil merasakan angin malam di kawasan Air Mancur. Saat itu, belum ada sebutan Titik Nol.

Kawasan ini menjadi semakin menarik ketika Air Mancur dan Plaza Monumen SO 1 Maret menjadi salah satu titik kumpul para seniman muda Yogyakarta. Dulu, tempat ini juga belum disebut Plaza Monumen SO 1 Maret, melainkan dikenal dengan sebutan Ngarepe Monumen Serangan Umum.

Pemerintah Kota Yogyakarta kemudian memfasilitasi tempat pentas di halaman Seni Sono. Bangunan bercorak limasan yang berada di halaman dan mepet dengan pagar ini dijadikan panggung kesenian. Banyak pentas seni tradisional yang tampil di tempat ini, terutama kethoprak.

Namun, pada hari-hari kosong, tempat tersebut sering digunakan untuk ethok-ethok pentas atau, jika lebih sepi lagi, dijadikan tempat klekaran. Lama-kelamaan, semakin banyak orang yang nongkrong di halaman Seni Sono.

Bangunan utama Seni Sono sendiri dibangun pada tahun 1818 sebagai Societet de Vereeneging, tempat dansa-dansa orang Eropa dan elite non-Eropa pada masa itu. Masyarakat kala itu menyebutnya sebagai kamar bola, terjemahan dari ball room, atau Gedhung Jenewer.

Sempat muncul ujaran bahwa di Seni Sono tersimpan pula lukisan karya Basuki Abdullah dan Raden Saleh. Namun, hal itu tak pernah dibuktikan dan juga tak pernah disangkal.

Meski demikian, dalam laman
https://www.setneg.go.id/baca/index/mempertahankan_jejak_kesenian_senisono
disebutkan adanya beberapa lukisan, seperti lukisan Nyai Roro Kidul karya Basuki Abdullah yang legendaris, sejumlah lukisan revolusi karya S. Sudjojono, Affandi, dan Dullah, serta lukisan masterpiece karya Raden Saleh berjudul Berburu Banteng II (1851) yang terpampang di ruang pamer museum. Belum lagi sederet memorabilia dari era Presiden Sukarno dan cinderamata dari negara-negara sahabat.

Lama-kelamaan, kawasan depan Seni Sono semakin marak dan semakin kumuh, melengkapi lokasi jasa sahwat. Soping Senter—pelacur bawah umur; Taman Senopati (depan SMP Negeri 1)—tempat perempuan transgender mangkal; serta Ringin Kurung Alun-Alun Utara—pelacur ekonomi bawah dan gay di depan Pagelaran.

Pelacur di depan Seni Sono biasanya kelasnya sedikit di atas Soping Senter.

Namun, semuanya berakhir ketika dilakukan perluasan Gedung Agung. Kantor PWI, Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum, serta kantor-kantor lainnya harus pindah, termasuk Kantor Wilayah Departemen Penerangan. Yang jelas, PWI kemudian membangun gedung di Gambiran, Umbulharjo, sementara Kanwil Departemen Penerangan pindah ke Jalan Katamso, dekat THR.

Setelah menjadi bagian dari Istana Kepresidenan, kawasan ini tak lagi menjadi tempat yang bisa dengan mudah diakses masyarakat, termasuk kalangan seniman. (***)

Sebelumnya

Astra Daihatsu Daan Mogot — Dealer Daihatsu Jakarta Barat & Showroom Nyaman

Selanjutnya

Rektor UII Nilai Wacana Pilkada Lewat DPRD Berpotensi Mundurkan Demokrasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement