Beranda Berita Utama Serba Dipikul
Berita Utama

Serba Dipikul

Ilustrasi

Oleh :Agus U, jurnalis

Marknews.id – Para pedagang keliling di Yogyakarta pada masa lalu mengandalkan pikulan untuk mengangkut, mengangkat, dan membawa dagangannya. Jenis dagangan yang biasanya dipikul dengan ukuran besar antara lain bakso, saoto — yang kini disebut soto — serta alat-alat rumah tangga yang umumnya dijual secara cicilan atau dikenal dengan sebutan parabot.

Untuk pikulan yang lebih kecil, biasanya digunakan oleh pedagang sayur-mayur, dawet, rujak-lotis, tape, dan berbagai jajanan lainnya. Ada pula satu jenis dagangan yang dibawa dengan pikulan oleh seorang pembantu, sementara sang juragan mengikuti dari belakang sambil berteriak menawarkan jualannya. “Babi-eh, urang menta-eh…,” begitu teriak seorang pedagang keturunan Tionghoa di kawasan Malioboro dan sekitarnya.

Bah Porok, begitu ia dikenal, menjual daging kambing, daging sapi, daging babi, ikan laut, dan udang. Meski alat pengiris, timbangan, dan perlengkapan lainnya bercampur antara dagangan daging babi dan nonbabi, saat itu masyarakat belum mempermasalahkan. Pemahaman orang memang belum serumit sekarang, sehingga membeli sandhung lamur atau udang yang mungkin bersinggungan dengan daging babi pun tidak banyak dipersoalkan.

Batang pikulan biasanya dibuat dari bilah bambu pilihan, seperti bambu ori atau bahkan petung, yang dinilai kuat sekaligus lentur. Para pedagang keliling ini sejak dulu memiliki kode bunyi tersendiri sehingga masyarakat dapat langsung mengenali jenis dagangannya hanya dari suaranya.

Pedagang bakso memukul mangkuk dengan nada khas yang tak berubah sejak tahun 1970-an. Pedagang soto mengetukkan piring porselen, dan mereka umumnya tidak membawa sambal. Jika pembeli ingin pedas, pedagang akan mengulek cabai yang direbus di dalam kuah soto.

Ada juga pedagang es yang membawa genta atau kelinting dengan bunyi berbeda dari milik pedagang sate Madura. Pedagang es krim membunyikan kenong kecil sehingga dikenal dengan sebutan es dul-dul atau es dung-dung. Sementara itu, pedagang es apolo yang membawa termos khusus menggunakan bunyi pui-pui, semacam terompet mirip milik Bregodo Bugis.

Seiring waktu, para pedagang keliling mulai meninggalkan pikulan dan beralih ke gerobak. Pedagang bakso menjadi yang pertama memakai gerobak dorong, disusul pedagang es gosrok, dan kemudian pedagang-pedagang lainnya.

Di Yogyakarta, pedagang brondong (popcorn) keliling hanya satu, yakni Pak Abu, yang membawa peralatan pembuat brondong dengan becak dan hanya berhenti di halaman sekolah-sekolah.

Kemunculan gerobak juga diikuti dengan menghilangnya pedagang soto keliling. Banyak pedagang soto kemudian memilih “manggon”, yaitu menetap di satu tempat meskipun gerobak tetap digunakan, termasuk Pak Marto Tamansari. Dahulu warungnya kecil dengan dinding gedeg, lalu berkembang pesat hingga sekarang.

Begitu pula dengan Bah Porok yang akhirnya tidak memiliki penerus. Teriakan “Babi-eh, urang menta-eh” tak lagi terdengar, begitu juga dengan keberadaan es apolo.

Perkembangan zaman terus bergulir. Kini bakso pun diperdagangkan menggunakan kerombong yang diboncengkan di sepeda motor. Beragam jajanan keliling semakin banyak dan makin variatif, hampir semuanya beralih menggunakan sepeda motor.

Sebelumnya

UNU Jogja dan Baznas Teliti Manuskrip Fikih Zakat Paling Lengkap Karya Ulama Nusantara

Selanjutnya

KAI Daop 6 Imbau Aturan Pemakaian Powerbank Jelang Libur Nataru 2025/2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement