Beranda Jogja Tempo Doeloe Sejarah Ngayogjazz: Harmoni Jazz di Pelosok Desa
Jogja Tempo Doeloe

Sejarah Ngayogjazz: Harmoni Jazz di Pelosok Desa

Oleh: Yudah Prakoso

Marknews.id – Ngayogjazz merupakan salah satu festival musik tahunan paling unik dan istimewa di Indonesia. Bukan sekadar konser musik jazz, Ngayogjazz telah menjelma menjadi perayaan budaya yang inklusif, merakyat, dan selalu berhasil menciptakan harmoni antara musik, tradisi lokal, serta kehidupan masyarakat desa di Yogyakarta.

Kelahiran Ngayogjazz (2007): Jazz yang “Gayeng”

Ngayogjazz pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007. Festival ini diinisiasi oleh musisi dan seniman lokal, salah satunya adalah mendiang maestro seni dan musik Gregorius Djaduk Ferianto bersama teman-teman komunitasnya.

Gagasan ini lahir dari semangat untuk menanggapi pandangan bahwa musik jazz adalah musik yang elitis, sulit, penuh teknik, dan hanya dimainkan di tempat-tempat mahal. Djaduk Ferianto dan kawan-kawan percaya bahwa:

“Jazz itu semangatnya adalah improvisasi. Jazz menampung segala jenis bebunyian.”

Mereka pun menciptakan wadah ekspresi jazz yang asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif, hampir tanpa batasan, sehingga bisa dinikmati siapa saja dengan alat musik apa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Acara pertama digelar di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo, menandai momentum perubahan arah bagi musik jazz di Yogyakarta.

Konsep Unik: Jazz “Ngampung”

Ciri khas yang membedakan Ngayogjazz dari festival jazz lainnya adalah pemilihan lokasi yang selalu berada di desa-desa wilayah Yogyakarta, khususnya Sleman dan Bantul. Konsep ini mempertegas misi untuk membawa jazz lebih dekat dengan masyarakat agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, menjadikannya festival jazz ngampung (jazz pedesaan).

Setiap tahun, Ngayogjazz memilih desa yang berbeda, mengubah pelataran rumah warga, sawah, hingga area publik desa menjadi panggung pertunjukan. Hal ini bukan sekadar soal venue, tetapi juga wujud kolaborasi sejati:

  • Pelibatan Warga: Masyarakat desa menjadi mitra kerja dan pemangku kepentingan utama, terlibat sejak persiapan, penyediaan akomodasi, hingga menampilkan kesenian tradisional mereka sebagai bagian dari festival.
  • Peningkatan Ekonomi: Festival ini secara otomatis mengangkat perekonomian warga lokal. Mereka menjual makanan, minuman, dan kerajinan melalui Pasar Jazz yang menjadi daya tarik tersendiri.
  • Kolaborasi Budaya: Kesenian tradisional seperti gejog lesung, reog, atau panembrama kerap ditampilkan, baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan musisi jazz, menciptakan harmoni yang indah.

Perkembangan dan Filosofi

Sejak awal, Ngayogjazz mengadopsi tema-tema filosofis yang diambil dari kearifan lokal, khususnya budaya Jawa. Beberapa di antaranya:

  • 2010: “Jazz Ngampung” – Jazz yang membaur dengan suasana pedesaan.
  • 2016: “Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama” – Membangun karya jazz yang indah untuk membahagiakan sesama manusia (diambil dari Serat Wedhatama).
  • 2022: “Kena Jazz-é, Tetep Bening Banyuné” – Meskipun terkena musik jazz, (hati) tetap jernih.

Ngayogjazz juga secara konsisten menjunjung tinggi nilai kesetaraan. Sejak lama, festival ini dikenal sebagai festival gratis tanpa tiket masuk, sehingga siapa pun dapat menikmatinya. Terkadang, sebagai pengganti tiket, pengunjung hanya diminta membawa buku untuk disumbangkan.

Momen Berat dan Warisan Djaduk Ferianto

Tahun 2019 menjadi masa paling berat bagi Ngayogjazz. Salah satu penggagas utamanya, Djaduk Ferianto, meninggal dunia tak lama sebelum acara berlangsung. Namun, semangat yang telah ditanamkannya begitu kuat. Setelah berdiskusi dengan keluarga, Ngayogjazz 2019 tetap digelar dengan tema tambahan “Tribute to Djaduk Ferianto” sebagai bentuk penghormatan dan komitmen untuk melanjutkan warisannya.

Hingga kini, Ngayogjazz terus diselenggarakan setiap tahun dengan konsep yang merakyat. Festival ini menjadi ruang bagi komunitas jazz dari seluruh nusantara, serta menampilkan musisi nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar festival, Ngayogjazz adalah rumah yang ramah—tempat di mana jazz berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat desa, membuktikan bahwa musik tidak mengenal batas kelas.

Ngayogjazz 2025 di Imogiri

Tahun ini, Ngayogjazz akan digelar di Imogiri, Bantul, pada 15 November 2025 mulai pukul 13.00 hingga selesai. Acara ini tetap gratis dan akan menampilkan sejumlah penampil, antara lain Bennet Brandes Trio (AS), Oliver Berthonet (Prancis), Sri Krishna Encik, Kua Etnika berkolaborasi dengan Ari Luwu dan Gamelan, ISI Yogyakarta International Camp, serta masih banyak lagi.

Sebelumnya

Yamaha V75 – Majalah – Karet Ban dan Pedang

Selanjutnya

Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto, Kyai Nyamplung: “Presiden Prabowo, Nikahlah Kembali dengan Titiek Soeharto”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement