Beranda Jogja Tempo Doeloe Yamaha V75 – Majalah – Karet Ban dan Pedang
Jogja Tempo Doeloe

Yamaha V75 – Majalah – Karet Ban dan Pedang

Sumber Gambar : Lacak Harga

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – Akhir dekade 1970-an, Yogyakarta masih teduh dan aman. Orang bisa pulang malam tanpa rasa khawatir akan dibegal, dirampok, atau diserang. Kota berjalan normal, tenang, seolah semua saling menjaga. Memang, pencurian atau copet tetap ada, tapi tak sampai menimbulkan ketakutan berlebihan.

Saya kerap berada di Terminal THR, Terminal Taksi Jalan Senopati, Pasar Sriwedani, dan beberapa tempat lain. Di sanalah saya berkenalan dengan banyak tokoh yang hidup di lingkar-lingkar keras itu. Tapi demi kenyamanan semua pihak, biarlah nama-nama mereka tetap saya simpan.

Masa itu, hampir setiap tempat yang punya aktivitas ekonomi melahirkan sosok-sosok kuat. Mereka menguasai wilayahnya sendiri. Di Terminal Bus THR Yogyakarta misalnya, ada kelompok yang memungut setoran dari siapa pun yang beraktivitas di sana—baik dari pekerjaan jujur maupun yang bersinggungan dengan dunia gelap.

Sementara itu, perilaku para remaja waktu itu mirip dengan fenomena yang sekarang disebut klithih, hanya saja mereka tidak berkelompok. Aksi dilakukan sendiri atau berdua, dengan cara yang jauh lebih personal.

Motor yang paling populer saat itu adalah Yamaha V75. Dua spion tetap terpasang, saringan knalpot dilepas agar suaranya meraung. Pengendaranya membawa pedang panjang—klewang—dan melindungi tubuh dengan majalah Femina atau Kartini yang diikat di dada dan punggung menggunakan potongan karet ban dalam sepeda.

Karet ban itu dipotong memanjang, dibalutkan ke tangan kanan dan kiri, dikencangkan dengan pengancing, lalu disembunyikan di balik baju panjang dan jaket. Klewangnya dibuat dari baja per bekas mobil Colt—lebih murah dibanding per jip—ditempa oleh pandai besi menjadi senjata sepanjang 175–200 sentimeter. Di bilahnya ada lubang-lubang kecil tempat mur dan baut, agar bila beradu dengan senjata lawan, hantaman tak langsung menembus ke tangan.

Saat itu, clurit belum banyak digunakan di Yogyakarta.

Begitu semua perlengkapan siap—majalah, karet ban, klewang—pengendara Yamaha V75 itu berangkat menuju wilayah lawan. Tujuannya jelas: menantang pemimpin kelompok lain, menaklukkannya, dan mengambil alih kekuasaan. Kadang lewat perkelahian, kadang lewat pertemanan yang pelan-pelan menggusur kekuatan lama.

Sebelum benar-benar “turun ke jalan”, mereka biasanya datang ke orang pintar. Salah satunya di Patalan, Bantul. Di sana dilakukan ritual untuk memperoleh ilmu kebal. Ada sesajen, uang persembahan, dan doa-doa misterius. Beberapa disuruh makan nasi biasa, ada yang menelan gotri, ada pula yang diolesi air raksa di tangan sampai bahu—satu gelas untuk setiap lengan. Cairan keperakan itu terasa dingin, menggigit, tapi tak boleh dihapus.

Ritual selesai sekitar pukul satu dini hari. Saat keluar dari rumah sang orang pintar, mereka langsung diuji. Beberapa orang menyerang dari berbagai arah, membawa pedang, tombak, pentungan, bahkan batu. Pesan dari guru mereka hanya satu: matek aji—sebut semua aral fisik, jadikan tubuh ringan seperti kapas, jangan melawan. Untuk menyerang, ada ilmu lain.

Ada pula orang pintar di Demak Ijo yang terkenal dengan ritual berbeda. Di sana mereka berjalan melingkar di sekeliling bara arang bertabur kemenyan, melawan arah jarum jam. Setelah doa selesai, mereka melangkah tanpa alas kaki di atas daun pisang yang di atasnya ditaburi bara, paku, dan beling. Jika bisa melewati tanpa luka, itu tanda keberhasilan. Begitu keluar, mereka kembali diuji—diserang, tapi tak terkena.

Guru spiritual di sana pernah berkata:

“Yang paling lemah, dipukul kena dan sakit. Di atasnya, kena tapi tak sakit. Lebih tinggi lagi, dipukul tapi tak kena. Dan yang tertinggi, tak ada lagi yang berani memukul.”

Dengan ajian itu, para pemuda merasa tak terkalahkan. Mereka tak takut menantang siapa pun yang dianggap menguasai wilayah lemah. Pertarungan dilakukan satu lawan satu, adil tanpa keroyokan. Siapa menang, berkuasa. Siapa kalah, pergi.

Dari kekuasaan itu, mengalir keuntungan ekonomi. Setiap minggu ada setoran. Tidak besar, tapi cukup membuat remaja SMA bisa hidup “mewah”: membeli Red Wine merek Colombus, Anggur Ketan Hitam, atau Arak Putih, sambil nongkrong di Gondolayu atau Lempuyangan. Dunia terasa di tangan mereka.

Namun masa itu tak lama. Ketika istri salah satu pejabat penting di Yogyakarta kecopetan di pasar, disusul pejabat lain yang juga menjadi korban, semuanya berubah. Penguasa wilayah tak mampu menghadirkan pelaku, tak ada yang mengembalikan barang curian, tak ada yang meminta maaf.

Dari situ, sebuah operasi besar dimulai. Satu per satu tokoh jalanan dicokok. Tubuh mereka ditemukan tergeletak di berbagai tempat. Tak ada telepon genggam kala itu, tapi target operasi tak pernah meleset.

Korban yang ditemukan biasanya memiliki tanda: karet gelang di lengan. Operasi ini berlangsung rapi dan diam-diam. Anehnya, banyak warga mendukung. Mereka yang dulu dipaksa membayar “sumbangan” atau hidup di bawah tekanan merasa lega. Para bromocorah lenyap, pemilik tato ramai-ramai menghapusnya.

Operasi itu dikenal sebagai OPK – Operasi Pemberantasan Kejahatan, yang di kemudian hari lebih dikenal luas dengan sebutan Petrus, singkatan dari Penembakan Misterius.

Wilayah kekuasaan lenyap. Saya pun berubah jadi remaja biasa. Sepulang sekolah, hanya duduk di rumah atau di rumah teman menunggu sore. Yamaha V75 dijual, klewang dibuang ke sungai, air raksa dan gotri dilepas. Setelah 140 hari, katanya, kekuatan ilmu itu memang pudar.

Nama Dimitri—julukan saya di masa itu—hilang bersama raungan mesin Yamaha V75. Tak ada lagi sumber uang, tak ada wilayah untuk dijaga. Hanya kenangan yang tersisa, samar, seperti matahari sore yang tertutup mendung tipis hampir setengah abad lalu.

OPK atau Petrus berjalan, dan Yogyakarta kembali aman. Meski belakangan muncul lagi generasi muda dengan bentuk kenakalan baru.

Dulu, tak ada yang berbicara soal HAM. Para orang tua justru bersyukur. Mereka bisa tidur tenang tanpa takut dirampok.

Banyak dari mereka yang dulu hidup di dunia kang-ouw memilih berhenti. Mereka lenyap, berganti profesi, menjadi orang biasa. Liok-te Hui-teng—yang dulu berlari di atas bumi—kini mungkin hanya berjalan di trotoar, tanpa bekas masa lalunya.

Catatan:
Istilah Petrus (Penembakan Misterius) sering digunakan untuk menyebut operasi ini. Di masyarakat juga sempat muncul istilah “Matius” (Mati secara Misterius), namun istilah tersebut kemudian dianggap sensitif bagi kalangan Kristiani, sehingga dalam tulisan ini digunakan nama OPK – Operasi Pemberantasan Kejahatan sebagai padanan yang lebih netral.

Sebelumnya

"Oiii Getheke Ngidulna"

Selanjutnya

Sejarah Ngayogjazz: Harmoni Jazz di Pelosok Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement