Beranda Serba-Serbi Metode CARANGAPAK Permudah Masyarakat Belajar Membaca Aksara Jawa
Serba-Serbi

Metode CARANGAPAK Permudah Masyarakat Belajar Membaca Aksara Jawa

Ilustrasi dibuat AI

MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Aksara Jawa dikenal sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang memiliki bentuk artistik dan nilai sejarah tinggi. Namun, kemampuan masyarakat membacanya masih tergolong rendah. Dari sekitar 70 juta penutur bahasa Jawa, diperkirakan hanya sekitar 10 persen yang mampu membaca aksara Jawa dengan lancar.

Pencetus metode CARANGAPAK, Ahmad Fikri AF, menilai rendahnya literasi aksara Jawa bukan disebabkan tingkat kesulitan aksaranya, melainkan cara belajar yang selama ini lebih menitikberatkan pada hafalan. Peserta didik harus mengingat 20 aksara dasar, pasangan, sandhangan, angka Jawa, hingga berbagai kaidah penulisan dalam waktu bersamaan. Pola pembelajaran tersebut membuat banyak orang merasa kesulitan sejak awal.

“Persoalannya bukan aksara Jawa yang sulit, tetapi metode belajarnya. Karena itu kami mengembangkan CARANGAPAK agar belajar membaca aksara Jawa menjadi lebih sederhana, sistematis, dan mudah dipahami,” ujar Ahmad Fikri, Selasa, 7 Juli 2026.

Melalui CARANGAPAK, proses belajar tidak lagi dimulai dengan menghafal seluruh bentuk huruf. Peserta justru diajak memahami pola, mengenali kemiripan bentuk aksara, arah goresan, serta karakter visual masing-masing huruf. Setelah pola dipahami, peserta akan lebih mudah mengingat bunyi dan fungsi setiap aksara.

Materi pembelajaran juga disusun secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada penguasaan aksara dasar, kemudian dilanjutkan membaca suku kata, kata, hingga kalimat sederhana. Setelah kemampuan membaca terbentuk, peserta baru mempelajari pasangan, sandhangan, angka Jawa, dan aturan penulisan yang lebih kompleks.

“Orang cenderung lebih mudah mengingat ketika memahami pola dibanding sekadar menghafal. Prinsip itulah yang menjadi dasar CARANGAPAK. Kami ingin peserta memahami cara kerja aksara Jawa sehingga proses belajarnya terasa lebih alami,” katanya.

Pendekatan visual menjadi salah satu ciri utama metode ini. Aksara dikelompokkan berdasarkan kemiripan bentuk sehingga peserta lebih cepat mengenali karakter setiap huruf. Latihan membaca dilakukan secara bertahap sehingga kemampuan berkembang tanpa memberikan beban hafalan yang berlebihan.

Menurut Fikri, CARANGAPAK dapat diterapkan untuk berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah dasar, pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum yang belum pernah belajar aksara Jawa. Dengan pendekatan yang lebih sederhana, waktu belajar dapat menjadi lebih efektif dibandingkan metode konvensional.

Selain mengajarkan membaca dan menulis, CARANGAPAK juga memperkenalkan penggunaan aksara Jawa di perangkat digital. Peserta diajak memanfaatkan aksara Jawa dalam media sosial, desain grafis, maupun berbagai aplikasi teknologi informasi agar penggunaannya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Fikri berharap metode tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan literasi aksara Jawa di Indonesia. Menurut dia, pelestarian aksara tidak cukup hanya mengandalkan regulasi maupun pembelajaran di sekolah, tetapi juga memerlukan metode yang mudah dipelajari dan menyenangkan.

“Dengan metode yang tepat, siapa pun dapat belajar membaca aksara Jawa. Ketika masyarakat merasa proses belajarnya mudah dan menyenangkan, semakin banyak orang yang akan mampu membaca aksara Jawa. Di situlah pelestarian budaya dapat tumbuh secara alami,” ujarnya.

Saat ini metode CARANGAPAK terus diperkenalkan melalui berbagai pelatihan bagi para guru. Para pendidik diharapkan menjadi ujung tombak dalam memperluas kemampuan membaca aksara Jawa, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.

Sebelumnya

UGM dan Kagama Bangun 26 Huntara untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement