Beranda Berita Utama Perburuan Burung di Sumatra Semakin Marak, Ini Sebab dan Akibatnya
Berita Utama

Perburuan Burung di Sumatra Semakin Marak, Ini Sebab dan Akibatnya

Marknews.id – Perburuan burung kicau di Sumatra kian marak dalam tiga tahun terakhir. Tingginya permintaan pasar, terutama dari Pulau Jawa, ditengarai menjadi pendorong utama praktik yang mengancam keseimbangan ekosistem tersebut.

Data yang dihimpun organisasi perlindungan burung Flight (Protection Indonesia’s Birds) mencatat, sepanjang 2023 hingga 2025, penyitaan burung kicau mencapai 134.515 ekor. Dari jumlah itu, sekitar 70,21 persen berasal dari Sumatra. Ini menandakan pulau ini menjadi episentrum perburuan sekaligus pemasok utama perdagangan burung liar di Indonesia.

Pemerhati satwa sekaligus dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Donan Satria Yudha, mengatakan fenomena ini tak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor budaya, ekonomi, dan lemahnya pengawasan di kawasan konservasi.

“Permintaan pasar tinggi, sementara pengawasan di habitat masih terbatas. Ini menciptakan ruang bagi perburuan ilegal terus berlangsung,” ujarnya, Kamis, 30 April 2026.

Menurut Donan, perburuan burung memiliki akar panjang dalam praktik sosial masyarakat. Motifnya beragam, mulai dari hobi memelihara, berburu, konsumsi, hingga pemberantasan hama. Persoalan muncul ketika spesies yang diburu termasuk kategori langka dan memiliki peran vital dalam ekosistem.

“Burung berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, dan pengendalian hama. Ketika populasinya turun, dampaknya tidak hanya ke ekosistem, tapi juga ke manusia,” kata Donan.

Ia mengingatkan, penurunan populasi burung dapat mengganggu regenerasi hutan dan berujung pada meningkatnya suhu lingkungan serta ledakan hama pertanian. Selain itu, kerusakan habitat akibat alih fungsi hutan turut memperparah situasi. Ruang hidup burung yang menyempit membuat satwa ini lebih mudah tertangkap dan diburu, bahkan hingga masuk ke kawasan permukiman.

Donan menekankan, pendekatan konservasi tidak bisa semata mengandalkan pelarangan. Ia mendorong keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga habitat melalui skema kolaboratif, termasuk peraturan desa dan pengembangan ekowisata.

“Masyarakat lokal justru bisa menjadi penjaga utama kawasan. Jika diberdayakan, mereka tidak hanya melindungi, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Selain itu, edukasi kepada generasi muda dan patroli rutin di kawasan rawan perburuan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan laju eksploitasi. Tanpa upaya terpadu, perburuan burung kicau dikhawatirkan terus meningkat, menyisakan hutan yang sunyi tanpa kicau, serta ekosistem yang kehilangan penyangga alaminya.

Aktivis lingkungan Oki Setyawan menyoroti dimensi budaya yang memperkuat rantai perburuan. Ia menyebut kegemaran masyarakat Jawa memelihara burung kicau telah lama menjadi simbol status sosial sekaligus bagian dari tradisi.

“Budaya ini kemudian menyebar ke wilayah lain, termasuk Sumatra,” ujarnya.

Menurut Oki, fenomena transmigrasi turut membawa praktik tersebut ke daerah-daerah baru. Para pendatang, kata dia, kerap memperkenalkan kebiasaan memelihara burung kepada masyarakat lokal, yang kemudian ikut terlibat dalam perburuan.

“Banyak pemburu di lapangan adalah transmigran atau mereka yang terpengaruh oleh budaya dari Jawa. Ini yang membuat perburuan semakin meluas,” kata Oki.

Ia menilai, selama permintaan pasar tetap tinggi, rantai pasok burung kicau dari Sumatra ke Jawa akan terus berlangsung. Dalam kondisi ini, masyarakat lokal sering kali berada di posisi rentan, terjebak antara kebutuhan ekonomi dan tekanan konservasi.

Sebelumnya

Hari Ini Perjalanan KA dari Yogyakarta Berangkat  Sesuai Jadwal Pasca Normalisasi Jalur di Bekasi Timur

Selanjutnya

Mahasiswa UGM Ukir Prestasi Internasional, Mobil Listrik EV-4 Juara di Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement