Selat Malaka Memanas Imbas Konflik Iran, Bachtiar Nasir: Indonesia di Pusaran Taruhan Global
Marknews.id – Memanasnya konflik di Timur Tengah yang berujung pada ketegangan di Selat Hormuz kini menjalar hingga ke Asia Tenggara. Selat Malaka mendadak menjadi jalur utama alternatif, sekaligus titik rawan baru dalam percaturan energi dan keamanan global.
Lonjakan arus tanker global di Selat Malaka mencapai sekitar 18 persen dalam waktu singkat. Sedikitnya 42 kapal tanker raksasa jenis VLCC mengalihkan rute dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia akibat situasi yang tidak menentu di Hormuz. Dampaknya, waktu tunggu di jalur pelayaran meningkat tajam hingga sembilan jam.
Berdasarkan data radar maritim yang dihimpun, terdeteksi pula sedikitnya 12 kapal yang diduga bagian dari “armada gelap” mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) saat memasuki perairan Aceh. Praktik ini mengindikasikan aktivitas tersembunyi, termasuk dugaan penyelundupan energi di tengah gejolak pasar minyak global.
Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia, Bachtiar Nasir, menilai kondisi ini bukan sekadar gangguan logistik, melainkan sinyal perubahan geopolitik global yang menempatkan Indonesia di posisi krusial.
“Ketika Hormuz terganggu, dunia otomatis bergeser ke Malaka. Ini bukan hanya soal lalu lintas kapal, tetapi soal siapa yang mengendalikan nadi energi dunia,” ujar Bachtiar.
Menurut dia, ketegangan di Hormuz akibat konflik Iran berpotensi menciptakan efek domino yang jauh lebih luas. Jalur distribusi energi yang selama ini bergantung pada Timur Tengah kini mencari alternatif, dan Malaka menjadi pilihan paling logis sekaligus paling rentan.
Bachtiar menilai kemunculan “armada gelap” tersebut sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan maritim Indonesia. Ia menekankan bahwa negara tidak boleh sekadar menjadi jalur lintasan tanpa kendali.
“Ini momentum bagi Indonesia untuk mengambil posisi sebagai penjaga utama, bukan sekadar penonton. Kalau tidak, kita hanya akan jadi korban dari permainan besar negara-negara kuat,” kata dia.
Krisis di Hormuz sendiri dipicu eskalasi militer di Iran yang mendorong kawasan itu ke status siaga tinggi, dengan ancaman penutupan jalur laut vital tersebut. Dampaknya langsung terasa di pasar global, dengan harga minyak melonjak tajam dan memicu kepanikan distribusi energi.
Dalam konteks ini, Selat Malaka tidak lagi sekadar jalur perdagangan, melainkan titik tumpu baru geopolitik dunia. Sekitar 70 persen kebutuhan energi Asia Timur melintasi perairan ini, menjadikannya aset strategis yang nilainya melampaui sekadar fungsi ekonomi.
Bachtiar mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi ujian besar dalam waktu dekat. Selain potensi lonjakan harga energi, peningkatan aktivitas militer asing di kawasan juga bisa memicu ketegangan baru.
“Kalau konflik ini berlanjut, bukan tidak mungkin Malaka menjadi titik gesekan berikutnya. Indonesia harus siap secara politik, ekonomi, dan militer,” ujarnya.
Ia menegaskan, kunci dari situasi ini adalah keberanian pemerintah untuk memperkuat pengawasan laut, menindak kapal ilegal, serta memanfaatkan posisi strategis Malaka sebagai sumber kekuatan nasional.
“Dunia sedang bergeser ke Malaka. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengendalikan, atau justru dikendalikan?” kata Bachtiar.











