Minum Arak Biar Sehat…… [bukan ajakan saya….]
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – JAGAT maya beberapa hari lalu dihebohkan dengan ajakan Gubernur Bali I Wayan Koster yang mengingatkan warganya untuk selalu minum arak satu sloki setiap pagi sebelum berangkat kerja. Ini untuk menjaga kesehatan dan sekaligus meningkatkan gairah kerja. Kemudian menjelang tidur malam kembali minum satu sloki arak agar bisa nyenyak.
Pak Gub menegaskan minum arak ini untuk kesehatan, bukan untuk mabuk-mabukan. Benarkan Gubernur mengatakan itu? Beberapa media online menyebutkan ajakan itu disampaikan Gubernur Bali I Wayan Koster ketika melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Karangasem, Bali, hari Rabu (25/1) yang lalu.
Hal semacam ini juga akan melestarikan tradisi pembuatan arak secara tradisional. Tak cukup itu, Gubernur Bali menyebutkan tanggal 29 Januari disebut sebagai Hari Arak. Apalagi arak Bali sudah mendapat pengakuan sebagai warisa budaya tak benda.
Karenanya, hotel-hotel di Bali diminta menyediakan arak sebagai welcome drink bagi para tamu. Tentu ini indah bagi mereka yang menyukai arak.
Secara budaya, baik di Jawa maupun di Bali, memang ada ungkapan mengenai dampak minum-minuman keras dari satu hingga sepuluh sloki.
Mereka yang minum satu sloki disebut sebagai Eka Padma Sari, artinya, orang yang minum satu sloki seperti lebah mengisap nektar bunga. Masih merasakan kenikmatan minumannya.
Jika sudah dua sloki, maka disebut Dwi Amartani, dengan minum dua sloki tubuh akan merasakan kenikmatannya, orang bisa merendahkan diri untuk membantu orang lain.
Sedangkan setelah minum tiga sloki disebut sebagai Tri Kawula Busana atau merasakan hati senang seperti seorang kawula yang mendapatkan busana yang indah.
Minum sloki keempat diibaratkan Catur Wanara Rukem, sudah mirip kelompok monyet (wanara) yang berpesta buah. Ada riuh, ada ribut, ada tengkar, ada akrab.
Habis lima sloki disebut Panca Sura Panggah, orang mulai berani, merasa kuat dan tangguh, tidak malu berbuat jahat bahkan mengumbar sahwat.
Setelah meneguk sloki keenam, disebut Sad Guna Wiweka yang berarti setelah minum enam (sad) sloki maka muncul kecemasan (wiweka) dan terkadang klithah-klithih cari musuh.
Minum tujuh sloki disebut Sapta Kukila Warsa seperti burung (kukila) yang kehujanan. Dalam kalimat ini warsa diartikan sebagai hujan, bukan tahun. Bagian badan sudah sesekali bergerak tanpa kendali yang diibaratkan kedinginan yang gerakan menggigilnya tidak terkendali.
Sloki kedelapan disebut Astha Sacara-cara, gerakan dan ujarannya sering tak terkendali.
Sementara setelah minum sloki kesembilan, diibaratkan Nawa Gra Lupa atau kondisi sudah lemah lunglai, mulai lupa keadaan dan jika ditambah lagi maka ibarat Dasa Yaksa Wangk atau sudah seperti raksasa yang mati. Meskipun galak, tapi karena sudah menjadi bangkai, kegalakannya pun hilang.
Candrane wong nginum ini ternyata juga dikenal oleh budaya Bali. Sangat mirip, jadi mungkin harapan Pak Gub Koster, agar pekerja Bali bersemangat seperti minum dua sloki. Dwi Amartani. (***)
https://x.com/i/status/2020218244741886328
Ini, ujaran tentang minum di Bali.











