Kebun Kelengkeng 1,5 Hektare di Sleman Disiapkan Jadi Wisata Edukasi, Targetkan Tekan Impor Buah
Marknews.id – Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap buah impor mulai digerakkan dari Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Sebidang lahan seluas 1,5 hektare di kawasan Gondanglegi yang sebelumnya dipenuhi tanaman liar kini berubah menjadi kebun kelengkeng modern dengan 400 pohon varietas Itoh Super.
Pengembangan kebun ini digagas Telaga Nursery di bawah pengelolaan Isto Suwarno. Lokasi tersebut tidak hanya disiapkan sebagai sentra produksi, tetapi juga dirancang menjadi kebun percontohan sekaligus wisata edukasi pertanian yang terbuka untuk masyarakat.
“Setengah bulan lalu masih semak belukar. Sekarang sudah produktif,” kata Isto saat penanaman kelengkeng Itoh Super, Sabtu, 7 Februari 2026.
Isto menjelaskan, konsep kebun dibuat sederhana agar bisa ditiru warga. Menurutnya, keterbatasan lahan bukan lagi hambatan utama untuk memulai usaha tani. Masyarakat tetap dapat berkebun dengan memanfaatkan lahan desa melalui sistem sewa.
“Berkebun itu peluang. Tidak punya tanah pun tetap bisa menanam, bisa menyewa lahan desa,” ujarnya.
Berbeda dengan kebun konvensional, seluruh sistem pengairan di lokasi ini telah terintegrasi dengan teknologi digital. Penyiraman diatur melalui aplikasi, dengan titik air tersendiri untuk setiap pohon.
“Bisa dikontrol dari mana saja lewat telepon seluler,” kata dia.
Teknologi tersebut memungkinkan produksi kelengkeng berlangsung sepanjang tahun tanpa bergantung musim. Selain itu, Isto juga mengembangkan konsep petik sendiri bagi pengunjung. Ia mencontohkan kebun seluas 1.200 meter persegi di Kalasan yang mampu menghasilkan satu ton kelengkeng sekali panen. Dengan harga Rp40 ribu per kilogram, hasil tersebut habis terjual hanya dalam waktu 10 hari.
“Kalau ini diterapkan luas, kelengkeng impor bisa terkalahkan,” ujarnya.
Varietas Itoh Super dipilih karena memiliki keunggulan rasa kelengkeng yang legit, daging tebal dan biji kecil, sehingga dinilai cocok dengan selera pasar domestik.
Reza Zulfikar, pengembang Kelengkeng Itoh Super Telaga Nursery, mengatakan pengembangan ini berangkat dari tingginya volume kelengkeng impor yang masih mendominasi pasar Indonesia, terutama dari China dan Thailand.
“Thailand iklimnya mirip Indonesia. Artinya kita juga bisa menanam,” kata Reza.
Ia mengungkapkan, bibit awal didatangkan dari Thailand pada 2008 hingga 2009. Varietas Itoh Super mulai dikembangkan sejak 2009 dengan uji coba di Semarang dan Prambanan. Setelah hasil panen dinilai sesuai standar pasar, pembibitan dilakukan secara lebih luas.
“Yang dicari bukan hanya bagus di pohon, tapi diterima pasar,” ujarnya.
Telaga Nursery berdiri sejak 2005 dengan fokus utama pada pembibitan tanaman. Meski demikian, kebun produksi tetap dijaga sebagai bagian dari kontrol mutu dan kesinambungan pasokan.
Menurut Reza, gangguan kelelawar menjadi tantangan utama menjelang panen. Sementara faktor cuaca relatif tidak memengaruhi tingkat kemanisan buah.
Di balik proyek ini, Isto membawa pengalaman lintas sektor. Ia sebelumnya bekerja di BUMN pariwisata sebelum memutuskan menekuni pertanian secara penuh. Untuk memperdalam keahlian, ia bahkan belajar budidaya hingga ke Thailand, meski latar belakang pendidikannya berasal dari teknik mesin dan pemasaran.
Ke depan, Isto membuka peluang kemitraan dengan warga sekitar maupun BUMDes untuk memperluas area tanam dan memperkuat penyerapan hasil panen.
“Saya ingin kebun ini menjadi percontohan di Sleman. Harapannya memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat Wedomartani,” kata Isto.
Melalui integrasi teknologi, edukasi, dan kolaborasi desa, kebun kelengkeng Wedomartani diharapkan menjadi model baru pertanian hortikultura berbasis komunitas sekaligus langkah konkret menekan dominasi buah impor di pasar nasional.

![Minum Arak Biar Sehat…… [bukan ajakan saya....]](https://marknews.id/wp-content/uploads/2026/02/Minum.png)









