Tafsir Jalalain, Karya Dua Jalal Menjadi Rujukan Sepanjang Generasi
Marknews.id – Tafsir Jalalain merupakan salah satu kitab tafsir paling berpengaruh di dunia Islam. Kitab ini tidak saja menjadi rujukan ulama, tetapi juga menjadi kurikulum pokok di pesantren Nusantara sejak berabad-abad. Kekuatan kitab ini terletak pada ringkasnya penjelasan, padatnya makna, dan fokusnya pada inti ayat tanpa perdebatan panjang. Ia menjadi jembatan bagi pembaca yang ingin memahami Al-Qur’an secara cepat namun tetap mendalam.
Dua Jalal dan Dua Periode Penulisan
Penulisan kitab ini dilakukan oleh dua ulama besar yang hidup pada periode berbeda namun memiliki hubungan intelektual yang erat: Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi.
Jalaluddin al-Mahalli (791–864 H / 1389–1459 M) memulai penyusunan tafsir ini. Ia dikenal sebagai ulama dengan gaya bahasa yang lugas dan padat. Al-Mahalli memulai penafsiran dari bagian akhir mushaf, yakni dari surat Al-Kahfi hingga An-Nas. Setelah itu ia kembali ke awal mushaf, tetapi wafat ketika baru menafsirkan hingga Al-Baqarah ayat 252. Bagian yang tersisa akhirnya tidak pernah sempat ia tulis.
Pekerjaan besar itu kemudian dilanjutkan oleh muridnya yang paling terkenal, Jalaluddin as-Suyuthi (849–911 H / 1445–1505 M). As-Suyuthi adalah seorang ulama ensiklopedis Mesir yang menulis ratusan karya. Ia menafsirkan bagian yang belum ditulis gurunya, dimulai dari Al-Fatihah hingga Al-Baqarah ayat 251. Dengan demikian, lengkaplah Tafsir Jalalain sebagai tafsir dengan dua penulis, tetapi tetap konsisten dalam gaya dan strukturnya.
Bagian karya al-Mahalli ditulis sekitar tahun 1450–1459 M, sedangkan penyempurnaan oleh as-Suyuthi selesai sekitar 1460–1500 M, menjadikan kitab ini produk akhir abad ke-15.
Keistimewaan Metode Tafsir Jalalain
Metode penafsiran Jalalain menekankan ringkasan yang padat (ijtizal). Tidak ada uraian panjang, perdebatan aliran, atau pengulangan dalil yang melimpah. Kitab ini langsung menuju inti makna ayat, menyajikan penjelasan kata per kata, serta memberikan gambaran struktur kalimat berdasarkan kaidah bahasa Arab.
Pada berbagai bagian, tampak bahwa kedua penulis memadukan tafsir bil ma’tsur (berdasarkan riwayat) dan bil ra’yi (analisis linguistik). Namun pendekatan nahwu-sharaf sangat dominan. Hal ini membuat Jalalain sering menjadi rujukan awal bagi santri tingkat menengah yang baru naik ke kitab tafsir setelah mempelajari gramatika Arab.
Struktur Kitab: Bab, Jilid, dan Halaman
Secara asli, Tafsir Jalalain adalah satu kitab utuh. Naskah dan cetakan klasik hanya terdiri dari satu jilid karena penulisannya memang ringkas. Struktur kitab mengikuti urutan mushaf, sehingga terdapat:
- 114 bab, sesuai jumlah surah dalam Al-Qur’an.
- Tidak ada bab tematik; seluruhnya mengikuti urutan ayat.
- Tidak ada pengelompokan subtopik — semua penjelasan langsung berada di bawah ayat yang bersangkutan.
Jumlah halamannya sangat bergantung pada edisi cetak. Secara umum:
1. Edisi klasik Timur Tengah (Syamil Arab)
1 jilid 400–600 halaman
2. Edisi pesantren Indonesia (Pegon/Jawi)
1 jilid tebal atau 2 jilid masing-masing ±300–350 halaman per jilid
3. Edisi modern ukuran A5
1 jilid 700–800 halaman (karena banyak catatan kaki dan ukuran huruf lebih besar)
Jumlah jilid bukan bagian dari desain asli penulis, melainkan hasil pengaturan ulang oleh para penerbit.
Kutipan-Kutipan Populer dari Jalalain
Banyak penjelasan dalam Jalalain yang menjadi acuan di pesantren karena ringkas dan jelas. Beberapa yang paling sering dikutip di antaranya:
- Tafsir Al-Fatihah ayat 1
“الحمد لله”
“أي الثناءُ بالجميلِ لله”
Artinya: “Pujian atas segala kebaikan adalah milik Allah.” - Tafsir Ayat Kursi (Al-Baqarah 255)
“الله لا إله إلا هو”
“أي لا معبود بحقٍّ غيرُه”
Artinya: “Tidak ada sesembahan yang benar selain Dia.” - Tafsir An-Nur ayat 35
“نور على نور”
“أي هدى فوق هدى”
Artinya: “Petunjuk di atas petunjuk.” - Tafsir Al-Ikhlas ayat 2
“الصمد”
“السيدُ المقصودُ في الحوائج”
Artinya: “Tuhan yang menjadi tujuan makhluk dalam segala hajat.”
Kutipan-kutipan ini menggambarkan bagaimana Jalalain menjelaskan makna ayat secara singkat namun kuat.
Posisi Jalalain dalam Tradisi Keilmuan Islam
Tafsir Jalalain memiliki ciri khas yang membuatnya bertahan selama lebih dari lima abad:
- Bahasa ringkas dan sederhana tetapi akurat.
- Menghindari perdebatan panjang yang sering muncul dalam tafsir besar seperti at-Thabari atau al-Qurthubi.
- Fokus pada makna inti ayat.
- Sangat cocok untuk dipelajari oleh santri pemula namun juga tetap bernilai bagi ulama senior.
Di banyak pesantren, Jalalain dianggap sebagai “titik awal” seseorang memasuki dunia tafsir. Sebagian kiai bahkan menyebut kitab ini sebagai “gerbang menuju tafsir besar” — karena setelah memahami kerangka ringkasnya, seseorang akan lebih mudah mempelajari kitab-kitab tafsir yang lebih luas.
Daya Tahan Klasik yang Tak Lekang Zaman
Enam abad telah berlalu sejak Al-Mahalli memulai penulisan tafsirnya. Namun Tafsir Jalalain masih terus dicetak ulang, dikaji, dan diajarkan. Keberadaannya menjembatani para pembaca yang ingin memahami Al-Qur’an dengan cepat tanpa mempelajari kitab tafsir yang berjilid-jilid.
Kekuatan Jalalain bukan pada kelengkapannya, melainkan pada kemampuannya menyampaikan inti pesan Al-Qur’an secara padat dan sistematis. Dalam dunia yang serba cepat dan padat informasi, kitab ringkas seperti ini justru terasa semakin relevan.











